Kalau mangrove ditanam di area yang selalu tergenang, ia akan menghabiskan energinya untuk bertahan hidup, bukan untuk tumbuh. Karena itu mangrove harus ditanam di habitat yang sesuai.
Yusran Nurdin Massa, Tenaga Ahli Mangrove The Blue Forests
PELAKITA.ID – Makassar — Dalam rangka melaksanakan salah satu tugas dan fungsi Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), diselenggarakan kegiatan Cengkerama Iklim bertema “Aksi Pemuda Jaga Iklim, Menuju Indonesia ASRI”.
KKN Tematik Perubahan Iklim
Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara KLH/BPLH dan Universitas Hasanuddin ini menjadi bagian dari rangkaian pembekalan bagi mahasiswa peserta KKN Tematik Perubahan Iklim.
Acara berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026, di Auditorium Prof. A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, dan dihadiri oleh Direktur Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim KLH/BPLH, Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D., yang turut memberikan arahan dan penguatan mengenai pentingnya keterlibatan generasi muda dalam aksi pengendalian perubahan iklim.
Melalui forum ini, mahasiswa diajak untuk memperluas pemahaman tentang tantangan perubahan iklim sekaligus membangun komitmen untuk berperan aktif dalam upaya adaptasi dan mitigasi di tingkat masyarakat melalui program KKN yang akan mereka jalankan.
Semangat aksi iklim dan pelestarian lingkungan menjadi salah satu fokus pembekalan mahasiswa peserta KKN Tematik Perubahan Iklim Program Kampung Iklim (ProKlim) Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin.
Dalam sesi bertajuk konservasi ekosistem pesisir, para mahasiswa mendapatkan wawasan langsung dari praktisi dan pegiat lingkungan yang telah puluhan tahun berkecimpung di lapangan.
Kegiatan diawali dengan perkenalan para narasumber. Salah satunya adalah Yusran Nurdin Massa, spesialis manajemen dan rehabilitasi ekosistem mangrove yang saat ini aktif bersama Yayasan Hutan Biru (Blue Forests) dan Yayasan Konservasi Laut Indonesia.
Selama kurang lebih 21 tahun, ia mengabdikan diri dalam berbagai program konservasi, rehabilitasi ekosistem pesisir, serta pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Turut hadir Ahmad Yusran, pendiri Yayasan Forunitas Hijau, seorang profesional yang berkecimpung dalam bidang pengelolaan lingkungan dan ekonomi sirkular.
Ia juga terafiliasi dengan berbagai lembaga yang bergerak dalam transformasi ekonomi berkelanjutan dan telah aktif sejak 2012 dalam berbagai inisiatif lingkungan hidup.
Narasumber lainnya adalah Muhammad Ihwan, yang lebih dikenal sebagai Iwan Deto, penggerak Komunitas Anak Sungai Ramang dan Program Lestari Rammang-Rammang.
Ia merupakan tokoh pelopor pelestarian lingkungan dan pariwisata berkelanjutan yang sejak 2003 aktif mendorong konservasi kawasan karst dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan geopark Ramang-Ramang.
Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Mangrove?
Dalam pemaparannya, Yusran Nurdin Massa mengajak peserta memahami mangrove dari perspektif yang lebih mendasar. Ia memulai dengan pertanyaan sederhana: apa sebenarnya mangrove?
Menurutnya, mangrove adalah tumbuhan darat yang mampu beradaptasi hidup di wilayah pasang surut. Penjelasan ini penting karena masih banyak kesalahpahaman yang menganggap mangrove sebagai tumbuhan air.
“Mangrove mengalami genangan, tetapi tidak menyukai genangan terus-menerus. Ia adalah tumbuhan darat yang beradaptasi dengan lingkungan ekstrem,” jelasnya.
Karena hidup di kawasan dengan kadar garam tinggi dan kondisi yang sering tergenang, mangrove memiliki sistem adaptasi yang unik. Akarnya berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari akar tunjang, akar lutut, hingga akar pensil. Daunnya pun memiliki mekanisme khusus untuk menyimpan atau membuang garam.
Pemahaman ini menjadi penting karena banyak program rehabilitasi mangrove yang gagal akibat kesalahan dalam menentukan lokasi penanaman.
“Kalau mangrove ditanam di area yang selalu tergenang, ia akan menghabiskan energinya untuk bertahan hidup, bukan untuk tumbuh. Karena itu mangrove harus ditanam di habitat yang sesuai,” katanya.
Indonesia, Rumah Seperempat Mangrove Dunia
Indonesia memiliki sekitar 23 persen dari total mangrove dunia. Dari sekitar 70 jenis mangrove sejati yang ada secara global, 43 jenis ditemukan di Indonesia.
Sebagian besar mangrove Indonesia berada di Papua. Namun kawasan-kawasan pesisir lainnya, termasuk Sulawesi Selatan, juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem ini.
Menurut Yusran Nurdin Massa, mangrove bukan hanya sekadar kumpulan pohon di pesisir. Ekosistem ini menjadi habitat berbagai satwa, sumber penghidupan masyarakat, sekaligus benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari gelombang dan bencana.
Ia mencontohkan beberapa desa yang selamat dari dampak tsunami Palu tahun 2018 karena masih memiliki sabuk mangrove yang baik. Kondisi serupa juga ditemukan di sejumlah wilayah Aceh saat tsunami 2004.
“Mangrove adalah infrastruktur alami yang bekerja tanpa harus dibangun dengan beton,” ujarnya.
Alarm dari Pesisir Indonesia
Meski memiliki peran yang sangat penting, kondisi mangrove Indonesia menghadapi tekanan serius.
Yusran menampilkan contoh dari Demak, Jawa Tengah, di mana hilangnya mangrove selama puluhan tahun menyebabkan abrasi parah hingga garis pantai bergeser beberapa kilometer ke daratan.
Fenomena serupa juga ditemukan di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Tim peneliti menemukan sekitar 9.000 hektare kebun kelapa mengalami salinisasi akibat masuknya air laut setelah kawasan mangrove rusak.
Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa hilangnya mangrove bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat pesisir.
Mangrove dan Perubahan Iklim
Dalam konteks perubahan iklim, mangrove memiliki peran yang sangat strategis.
Yusran menjelaskan bahwa kemampuan mangrove menyerap dan menyimpan karbon jauh lebih tinggi dibandingkan hutan tropis daratan. Bahkan, karbon yang tersimpan di bawah permukaan tanah mangrove dapat mencapai sepuluh kali lebih besar dibandingkan ekosistem hutan tropis.
Karena itu, kerusakan mangrove tidak hanya menghilangkan fungsi perlindungan pesisir, tetapi juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.
Indonesia sendiri diperkirakan kehilangan sekitar 52.000 hektare mangrove setiap tahun dalam tiga dekade terakhir, terutama akibat konversi menjadi tambak, permukiman, dan berbagai bentuk alih fungsi lahan lainnya.
Aksi Pemuda untuk Mangrove
Di hadapan mahasiswa peserta KKN Tematik Perubahan Iklim, Yusran Nurdin Massa menawarkan tiga langkah nyata yang dapat dilakukan generasi muda.
Pertama, terlibat dalam upaya menghentikan kerusakan mangrove melalui edukasi, kampanye publik, dan advokasi kebijakan di tingkat lokal.
Kedua, membantu meningkatkan nilai ekonomi mangrove melalui pengembangan ekowisata, usaha berbasis hasil hutan bukan kayu, produk olahan buah mangrove, hingga pengembangan usaha madu kelulut di kawasan pesisir.
Ketiga, terlibat dalam upaya rehabilitasi mangrove dengan pendekatan yang tepat, berbasis ilmu pengetahuan dan kondisi ekologis setempat.
Menurutnya, rehabilitasi mangrove tidak sekadar menanam bibit, tetapi harus memahami habitat yang sesuai, mengatasi faktor penyebab kerusakan, dan memilih jenis yang tepat.
Menanam Mangrove di Kepala
Menjelang akhir pemaparannya, Yusran membagikan pengalaman rehabilitasi mangrove yang berhasil selama hampir satu dekade. Namun keberhasilan ekologis tersebut akhirnya terancam ketika kawasan yang telah pulih dijual untuk pengembangan perumahan.
Pengalaman itu menjadi pelajaran penting bahwa konservasi tidak hanya soal menanam pohon, tetapi juga menjaga kesadaran dan komitmen para pemangku kepentingan.
Karena itu, ia menutup presentasinya dengan pesan yang mendapat perhatian besar dari peserta.
“Sebagian besar aksi yang bisa kita lakukan mungkin adalah menanam mangrove di pesisir. Tetapi yang paling esensial adalah menanam mangrove di kepala manusia.”
Menurutnya, ketika masyarakat, generasi muda, dan para pengambil kebijakan memahami pentingnya mangrove, maka upaya pelestarian akan berjalan lebih kuat dan berkelanjutan.
“Dengan begitu mangrove kita lestari, dan masyarakat pesisir bisa tetap sejahtera,” pungkasnya.
Menurut saya, kutipan terakhir Yusran Nurdin Massa sangat kuat untuk dijadikan lead atau subjudul karena merangkum inti seluruh presentasinya: konservasi bukan sekadar urusan menanam pohon, tetapi membangun kesadaran manusia.
Redaksi









