Buka Sasi di Kampung Salafen Jadi Uji Coba Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat

  • Whatsapp
Di Kampung Salafen, wilayah sasi yang dikelola oleh Kelompok Perempuan Zakan Day mencapai 497,85 hektare. Komoditas utama yang diatur dalam sasi tersebut adalah teripang dan lobster, dua sumber daya laut bernilai ekonomi penting bagi masyarakat pesisir. (foto oleh Nugroho Arif Nugroho/YKAN)

Tradisi buka sasi di Kampung Salafen, Misool Utara, Raja Ampat tidak hanya menjadi ruang pelestarian adat dan pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai pengalaman ekowisata yang menghubungkan budaya, konservasi, dan ekonomi lokal.

PELAKITA.ID – Sorong, 4 Juni 2026 — Kelompok Perempuan Zakan Day bersama masyarakat Kampung Salafen, Misool Utara, melaksanakan kegiatan buka sasi yang dirangkaikan dengan uji coba paket ekowisata berbasis masyarakat pada tanggal 20–22 Mei 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan wisata minat khusus yang mengangkat praktik pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal di Raja Ampat.

Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), serta Global Affairs Canada dari Pemerintah Kanada.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menyampaikan bahwa pengembangan wisata berbasis budaya dan konservasi sejalan dengan arah pembangunan pariwisata berkelanjutan di Papua Barat Daya.

“Wisata berbasis masyarakat seperti buka sasi di Salafen memiliki nilai penting karena menghubungkan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan penguatan ekonomi lokal. Pendekatan ini menjadi salah satu potensi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Papua Barat Daya,” katanya.

Yusdi menambahkan bahwa masyarakat Raja Ampat telah lama hidup berdampingan dengan alam dan menjadikan sasi sebagai bagian penting dari kehidupan mereka.

Menurutnya, praktik tersebut merupakan bentuk kesepakatan bersama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut agar tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang.

Praktik Sasi sendiri merupakan tradisi pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang telah lama diterapkan masyarakat adat di wilayah Papua dan Maluku. Melalui mekanisme buka-tutup kawasan secara adat, masyarakat mengatur pemanfaatan sumber daya secara terukur untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. (Foto: Nugroho Arif Prabowo)
Kelompok Perempuan Zakan Day berdiri pada tahun 2022 sebagai bagian dari upaya penguatan peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya pesisir berbasis adat dan konservasi di Kampung Salafen. (Foto: Nugroho Arif Prabowo)

Secara khusus, Yusdi juga menyoroti peran Kelompok Perempuan Zakan Day yang dinilai berhasil menjaga dan meneruskan tradisi sasi sebagai bagian dari upaya pelestarian ekosistem pesisir dan laut di Misool.

“Kelompok Perempuan Zakan Day menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga menjadi penjaga ekosistem. Apa yang mereka lakukan hari ini menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian Raja Ampat,” terang Yusdi lebih lanjut.

Praktik Sasi sendiri merupakan tradisi pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang telah lama diterapkan masyarakat adat di wilayah Papua dan Maluku. Melalui mekanisme buka-tutup kawasan secara adat, masyarakat mengatur pemanfaatan sumber daya secara terukur untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Di Kampung Salafen, wilayah sasi yang dikelola oleh Kelompok Perempuan Zakan Day mencapai 497,85 hektare.

Komoditas utama yang diatur dalam sasi tersebut adalah teripang dan lobster, dua sumber daya laut bernilai ekonomi penting bagi masyarakat pesisir.

Buka sasi dimulai pada tanggal 21 Mei 2026 dan akan berlangsung selama tiga minggu sebelum kembali ditutup sesuai aturan adat yang berlaku.

Kelompok Perempuan Zakan Day berdiri pada tahun 2022 sebagai bagian dari upaya penguatan peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya pesisir berbasis adat dan konservasi di Kampung Salafen. Kawasan sasi yang mereka kelola kini menjadi ruang belajar sekaligus contoh praktik pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat yang masih dijalankan hingga saat ini.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti berbagai aktivitas budaya dan pembelajaran, mulai dari ritual adat buka sasi, panen hasil laut, hingga diskusi mengenai siklus pengelolaan sasi dan pencatatan hasil panen.

Selama kegiatan berlangsung, peserta juga tinggal bersama masyarakat untuk merasakan langsung kehidupan masyarakat pesisir.

Ketua Kelompok Perempuan Zakan Day, Yermina Rumayom, menjelaskan bahwa kegiatan buka sasi bukan sekadar atraksi wisata, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan nilai-nilai adat dan praktik pengelolaan laut berbasis masyarakat.

“Buka sasi adalah bagian dari cara masyarakat menjaga laut dan sumber daya alam secara bersama-sama. Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan nilai-nilai tersebut kepada pengunjung sekaligus membuka peluang ekonomi yang dikelola langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Hal senada disampaikan tokoh adat Kampung Salafen, Agustinus Day. Menurutnya, sasi merupakan warisan pengetahuan yang tidak hanya memiliki makna budaya, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan alam.

“Sasi mengajarkan masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam dan mengambil hasilnya secara bijaksana. Nilai-nilai ini penting untuk terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda maupun pengunjung yang datang ke kampung,” tegasnya.

Melalui uji coba paket wisata buka sasi ini, masyarakat Kampung Salafen tidak hanya memperkenalkan wisata berbasis masyarakat, tetapi juga menghimpun masukan dari peserta untuk pengembangan paket wisata, terutama pada aspek pelayanan, konservasi, keselamatan perjalanan, serta penguatan budaya. (Foto: Nugroho Arif Prabowo)
Kelompok Perempuan Zakan Day berdiri pada tahun 2022 sebagai bagian dari upaya penguatan peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya pesisir berbasis adat dan konservasi di Kampung Salafen. Kawasan sasi yang mereka kelola kini menjadi ruang belajar sekaligus contoh praktik pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat yang masih dijalankan hingga saat ini (Foto: Nugroho Arif Prabowo)

Ekowisata sebagai Ruang Belajar Bersama

Melalui uji coba paket wisata buka sasi ini, masyarakat Kampung Salafen tidak hanya memperkenalkan wisata berbasis masyarakat, tetapi juga menghimpun masukan dari peserta untuk pengembangan paket wisata, terutama pada aspek pelayanan, konservasi, keselamatan perjalanan, serta penguatan budaya.

“Kami masih terus belajar mengembangkan wisata berbasis masyarakat ini. Kami ingin wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat pesisir dan melihat langsung bagaimana masyarakat menjaga laut melalui praktik sasi,” kata Ketua Kelompok Ekowisata Kampung Salafen, Seal Tiel Lan.

Salah satu peserta uji coba paket wisata, Alden Iswanto, mengaku memperoleh pengalaman baru melalui keterlibatannya dalam kegiatan buka sasi.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga memberi kesempatan untuk belajar langsung tentang praktik pengelolaan sumber daya laut berbasis tradisi sasi di Kampung Salafen yang dikelola Kelompok Perempuan Zakan Day.

“Ini pengalaman yang berbeda bagi saya. Tidak hanya menikmati alam, saya juga bisa melihat langsung bagaimana masyarakat mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan melalui tradisi sasi,” ujarnya.

Komitmen mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Kampung Salafen turut dilakukan YKAN sebagai bagian dari upaya mendorong pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, mengatakan praktik pengelolaan berbasis kearifan lokal seperti sasi merupakan bagian penting dalam mendukung konservasi laut yang efektif.

“YKAN mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat seperti di Kampung Salafen karena manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya dan sumber daya alam,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, Kelompok Perempuan Zakan Day bersama masyarakat Kampung Salafen berharap pengembangan ekowisata buka sasi dapat menjadi model wisata berbasis masyarakat yang mendukung konservasi, pelestarian budaya lokal, dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

***

Tentang YKAN

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. YKAN memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan non konfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.ykan.or.id.

Narahubung:
Nugroho Arif Prabowo
nprabowo@ykan.or.id

 

 

 

Suasana upacara buka sasi di Kampung Salafen tanggal 21 Mei 2026.

(Foto: YKAN)

 

Rahel Botot, salah satu anggota Kelompok Zakan Day membawa lobster dari hasil buka sasi.

(Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)

 

Rita Hommy, anggota Kelompok Zakan Day sedang melakukan pemantauan wilayah sasi.

(Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)

 

 

 

 

 

Yermina Rumayom, Martina Botot, dan Ance Bauw dari Kelompok Zakan Day, membawa teripang dari hasil buka sasi. (Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)

 

Pengukuran teripang dari hasil buka sasi. (Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)

 

Tari Wala, tarian tradisional Suku Matbat dari Misool, ditampilkan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan buka sasi di Kampung Salafen. (Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)

 

 

Kelompok Perempuan Zakan Day.

(Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)