PELAKITA.ID – Bagi sebagian besar organisasi alumni, rapat kerja sering kali hanya menjadi panggung nostalgia yang dipoles rapi. Hotel-hotel berbintang menjelma ruang temu masa lalu: tawa mengalir, cerita lama diputar ulang, dan kehangatan semu tercipta—namun kerap menguap begitu pintu ruang sidang ditutup.
Tanpa arah yang tegas, organisasi mudah terjebak menjadi sekadar seremoni, kapal yang terapung tanpa nakhoda di lautan formalitas.
Rapat Kerja Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (IKA FIKP) Universitas Hasanuddin di Hotel Aston, April 2026, mencoba keluar dari pusaran itu.
Pertemuan ini bukan sekadar berkumpul, melainkan upaya sadar untuk menata ulang arah—sebuah ikhtiar menyatukan energi alumni yang selama ini tersebar di berbagai ruang kehidupan, dari kampus hingga birokrasi, dari pesisir hingga ruang-ruang sunyi pengambilan keputusan.
Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Ikatan
Ketua IKA FIKP Unhas, Muhammad Ilyas, membuka arah dengan redefinisi yang sederhana tapi fundamental: alumni bukan lagi sekadar identitas, melainkan posisi.
Di tangannya, konsep “ikatan” berubah menjadi “jembatan”. Bukan simbol, melainkan fungsi. Alumni, katanya, telah berada di banyak titik strategis—di pemerintahan, industri, hingga jejaring global.
Yang dibutuhkan bukan lagi penguatan emosional semata, tetapi sinkronisasi antara dunia akademik dan kebutuhan nyata.
Dalam logika ini, IKA tidak lagi berdiri sebagai ruang temu masa lalu, melainkan sebagai penghubung dua dunia yang sering kali berjalan sendiri-sendiri: kampus dan lapangan. Di sanalah kontribusi menjadi konkret—bukan dalam bentuk wacana, tetapi dalam akses, peluang, dan arah.
Mengakhiri Era “Magang Fotokopi”
Salah satu kritik paling tajam dalam forum itu datang dari hal yang selama ini dianggap sepele: magang mahasiswa.
Ilyas menyentil praktik lama yang menjadikan magang sekadar formalitas empat bulan—diisi pekerjaan administratif, minim pembelajaran, dan nyaris tanpa dampak. Ia menyebutnya secara lugas: “magang fotokopi”.
IKA, dalam desain baru ini, mengambil posisi lebih aktif. Mahasiswa tidak boleh lagi kembali dari lapangan tanpa keterampilan. Magang harus menjadi ruang transfer pengetahuan, bukan sekadar kehadiran fisik.
Dari sini lahir sebuah siklus baru: mahasiswa belajar langsung dari alumni di lapangan, memperoleh pengalaman nyata, lalu mengolahnya menjadi pengetahuan akademik—bahkan sebagai bahan tugas akhir.
Sebuah lingkar strategis yang, jika berjalan, bisa mempercepat masa studi sekaligus meningkatkan kualitas lulusan.
Berpikir Melampaui Hari Ini
Jika Ilyas membumi, Ketua Dewan Pakar, Dr. Rijal Idrus, justru mendorong organisasi untuk melompat lebih jauh.
Ia memperkenalkan apa yang ia sebut sebagai blue sky thinking—cara berpikir yang tidak dibatasi oleh kondisi hari ini. Bagi Rijal, organisasi alumni tidak boleh sekadar reaktif, apalagi menjadi “pemadam kebakaran” yang sibuk merespons masalah.
Sebaliknya, IKA harus berani merancang masa depan sektor kelautan dan perikanan itu sendiri.
Menariknya, ia juga melihat konflik dengan cara berbeda. Gesekan antar gagasan, menurutnya, bukan ancaman, melainkan tanda kehidupan. Organisasi yang terlalu tenang justru berisiko mandek. Dari perbedaan itulah arah diuji dan keputusan dipertajam.
Dari Ambisi ke Eksekusi
Di titik ini, rapat kerja mulai menemukan pijakannya: keberanian untuk jujur pada kapasitas.
Alih-alih menyusun daftar program yang panjang dan ambisius, forum ini justru mengarah pada pilihan yang lebih sederhana—dan lebih sulit: memilih sedikit program, tapi memastikan semuanya berjalan.
Contoh konkret mulai muncul. Gagasan revitalisasi tambak di Barru berbasis integrasi mangrove dan budidaya berkelanjutan menjadi salah satu fokus. Di saat yang sama, muncul dorongan untuk membangun unit usaha berbasis alumni—menciptakan ruang ekonomi yang nyata, bukan sekadar jaringan sosial.
Ada pergeseran penting di sini: dari “apa yang ingin dilakukan” menjadi “apa yang benar-benar bisa dikerjakan”.
Data sebagai Kompas
Kesadaran berikutnya datang dari hal yang sering diabaikan: data.
Bidang Komunikasi dan Informasi menekankan bahwa tanpa database alumni yang rapi, organisasi akan terus berjalan dalam gelap. Siapa melakukan apa, di mana, dan dengan kapasitas seperti apa—semua itu menjadi fondasi untuk bergerak lebih terarah.
Kesadaran ini meluas ke sektor pesisir. Rencana penyusunan database usaha di wilayah pesisir dan pulau kecil muncul sebagai langkah awal intervensi ekonomi. Dari sana, lahir target yang cukup berani: mencetak ribuan wirausaha muda dari kalangan alumni dalam lima tahun ke depan.
Di sini, alumni tidak lagi diposisikan sebagai pencari kerja, tetapi sebagai pencipta kerja.
Mengubah Watak Kolektif
Di balik seluruh diskusi teknis itu, terselip refleksi yang lebih dalam: soal karakter.
Ada pengakuan, meski tidak diucapkan secara gamblang, bahwa masa lalu organisasi mahasiswa tak selalu steril dari konflik yang tidak produktif. Kini, ada tekad untuk menggeser itu—dari rivalitas fisik menuju keunggulan intelektual.
Alumni diposisikan sebagai penjaga arah. Mereka bukan hanya bekerja di luar, tetapi juga membentuk cara berpikir generasi berikutnya. Menggeser kebanggaan dari “siapa paling kuat” menjadi “siapa paling kompeten”.
Menjembatani Idealisme dan Kenyataan
Pada akhirnya, rapat kerja ini bukan tentang hasil instan. Ia lebih menyerupai proses penataan ulang—mencari titik temu antara idealisme dan kenyataan.
Tidak ada janji spektakuler. Yang ada justru kesadaran bahwa perubahan besar sering lahir dari hal-hal mendasar: data yang rapi, magang yang bermakna, program yang realistis, dan kolaborasi yang dijalankan dengan serius.
Kompas telah diarahkan. Peta jalan mulai tergambar.
Kini, pertanyaannya bergeser—bukan lagi tentang apa yang bisa diberikan organisasi, tetapi sejauh mana para alumninya bersedia benar-benar terlibat.
Karena pada akhirnya, masa depan organisasi tidak ditentukan oleh rapat kerja, melainkan oleh siapa yang memilih untuk bekerja setelah rapat itu usai.









