Di tengah masyarakat yang sering memandang sukses dari gedung tinggi, kendaraan mahal, atau jabatan besar, kisah H. Fatahuddin seperti suara sunyi yang datang mengingatkan bahwa keberhasilan sejati sering tumbuh dari kesederhanaan yang dijalani dengan istiqamah.
Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Meja panjang berderet. Di atasnya beberapa gelas air mineral ditata rapi, bening seperti menunggu dahaga para pelintas jalan.
Jagung rebus di dalam baskom ukuran sedang dijejer di depan, mengepulkan aroma yang sederhana namun akrab bagi ingatan kampung.
Jagung yang masih mentah ditaruh di sisi kiri depan, kuning pucat, segar, seperti baru saja dipetik dari ladang yang masih menyimpan embun pagi.
Dua penjaga warung menghampiri dan menawarkan dengan ramah. Tak menunggu lama, mereka langsung menyiapkan dua piring besar berisi jagung rebus.
Tak ketinggalan garam yang sudah dicampur lombok/cabe dalam satu wadah kecil, lengkap dengan perasan jeruk yang menghadirkan rasa segar. Jagung dibuka perlahan. Dicocol ke garam-lombok. Dimakan. Enak rasanya.
Namun, sesungguhnya, yang terasa bukan hanya nikmat jagung rebus. Ada rasa lain yang ikut hadir—rasa tentang ketekunan hidup, kesabaran yang panjang, dan keberkahan yang tumbuh dari pekerjaan sederhana.
Di poros Maros–Bone itu, warung kecil bernama “Sumber Jagung Satu” berdiri tanpa kemewahan. Tidak ada desain modern. Tidak ada lampu gemerlap.
Hanya meja panjang, rak roti sederhana, mi rebus, dan aroma jagung yang terus mengepul sejak pagi hingga malam. Tetapi justru dari tempat sederhana itulah tersimpan kisah besar tentang martabat kerja dan spiritualitas kehidupan.
Pemiliknya, H.Fatahuddin, kini berusia 85 tahun. Puluhan tahun hidupnya dihabiskan bersama jagung rebus.
Dari usaha itulah ia membesarkan keluarga, menghidupi anak-anaknya, dan menjalani hidup dengan tenang. Bahkan dari jagung rebus itulah ia telah dua belas kali menunaikan ibadah haji bersama istrinya.

Dua belas kali.
Di tengah masyarakat yang sering memandang sukses dari gedung tinggi, kendaraan mahal, atau jabatan besar, kisah H. Fatahuddin seperti suara sunyi yang datang mengingatkan bahwa keberhasilan sejati sering tumbuh dari kesederhanaan yang dijalani dengan istiqamah.
Sosiolog Jerman, Max Weber, pernah menjelaskan bahwa etika kerja yang lahir dari keyakinan spiritual mampu melahirkan ketahanan hidup dan peradaban ekonomi yang kuat.
Dalam konteks masyarakat kita, H. Fatahuddin menghadirkan bentuk nyata dari “etika spiritual kerja” itu. Ia tidak hanya menjual jagung. Ia sedang merawat nilai: kejujuran, disiplin, kesabaran, dan keberkahan rezeki halal.
Jagung mentah didatangkan dari Kabupaten Barru. Sekali membeli sekitar dua ribu tongkol. Sebagian direbus, sebagian disusun rapi menunggu giliran menjadi rezeki.
Aktivitas itu berlangsung berulang-ulang selama puluhan tahun. Tampak biasa. Tetapi justru di situlah letak kemuliaannya. Sebab kehidupan yang besar sesungguhnya dibangun dari pengulangan kecil yang dilakukan dengan kesungguhan.
Hari ini banyak orang ingin hasil besar tanpa kesabaran panjang. Ingin panen tanpa mau menanam. Ingin dikenal tanpa melewati proses.
Padahal alam mengajarkan bahwa jagung pun membutuhkan waktu untuk tumbuh, menguning, dipanen, lalu direbus sebelum akhirnya bisa dinikmati.
Kita hidup di zaman yang sering memamerkan kemewahan tetapi diam-diam kehilangan makna. Banyak orang memiliki penghasilan tinggi namun tidak pernah merasa cukup.
Sebaliknya, ada orang-orang sederhana seperti H. Fatahuddin yang mungkin tidak viral, tidak masuk televisi, tetapi mampu mengubah jagung rebus menjadi jalan menuju Baitullah berkali-kali.
Di situlah letak pelajaran paling pentingnya: keberkahan tidak selalu lahir dari besarnya usaha, tetapi dari ketulusan cara menjalaninya.

Yang lebih mengharukan, perjalanan hajinya hampir selalu dilakukan bersama istrinya. Sebuah kesetiaan yang tumbuh perlahan di tengah perjuangan ekonomi sehari-hari.
Mereka tidak membangun cinta dengan kata-kata besar, tetapi dengan kerja bersama, doa bersama, dan perjalanan spiritual bersama. Dalam dunia yang mudah retak oleh ego dan ambisi, kebersamaan mereka menghadirkan pesan bahwa cinta sejati sering lahir dari kemampuan bertahan melewati kesederhanaan.
Tahun ini, untuk pertama kalinya, H. Fatahuddin tidak berangkat haji. Usia mungkin mulai meminta tubuhnya beristirahat. Namun wajahnya tetap teduh. Matanya masih menyimpan cahaya orang-orang yang lama bersahabat dengan kerja keras dan doa.
Anaknya pun ada yang melanjutkan profesi yang sama. Ada juga yang jadi pelaut, katanya bangga. Ini bukan sekadar pewarisan usaha, tetapi pewarisan nilai.
Sebab pekerjaan sejatinya bukan hanya cara mencari uang, melainkan cara membangun karakter dan martabat hidup.
Warung “Sumber Jagung Satu” akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat singgah makan jagung rebus. Ia adalah ruang kecil tempat kita belajar bahwa kesederhanaan tidak identik dengan keterbelakangan.
Bahwa pekerjaan kecil tidak berarti hidup kecil. Bahwa tangan yang merebus jagung dengan jujur bisa lebih mulia daripada tangan yang sibuk mengejar kemewahan tanpa makna.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sering membuat manusia kehilangan arah, kisah H. Fatahuddin seperti mata air bening di pinggir jalan: sederhana, tenang, tetapi memberi kehidupan bagi banyak orang yang mau berhenti sejenak untuk merenung.
Mungkin benar, peradaban besar tidak selalu lahir dari gedung-gedung tinggi.
Kadang ia justru tumbuh dari warung kecil di pinggir jalan, dari aroma jagung rebus, dari tangan renta yang tidak menyerah pada hidup, dan dari keyakinan bahwa kerja yang halal adalah bentuk ibadah paling sunyi.
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban









