Jika Jakarta sudah punya identitas sebagai kota pemerintahan, pusat kekuasaan dan ekonomi nasional, sementara kota-kota lain memiliki karakter masing-masing, Makassar semestinya berani mengatakan “Kami adalah Kota Maritim”. Bukan sekadar karena punya laut tetapi karena kehidupan kotanya memang bertumpu dan bersahabat dengan laut.
PELAKITA.ID – Secangkir kopi menemaniku sore ini. Saya duduk tepat di belakang Pipo Makassar. Sesekali pisang goreng kesukaanku saya cicipi. Kali ini tidak bersanding dengan sambal, tetapi mentega dan gula pasir.
Ingat Pisgor bikinan ibuku sobat!
Lagu Melayu melintas melalui headset Marshall-ku. Dendangnya mendayu-dayu:
“Rupa yang elok dimanja, jangan dimanja. Haaa… puja lah dia sekadar saja.”
Di depan saya, perahu-perahu nelayan berseliweran. Ada yang membawa penumpang, tetapi lebih banyak yang baru pulang mengais ikan dan ebi di sekitar perairan pulau-pulau Makassar.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu tiba-tiba membawa teater of mind saya ke cerita masa lalu tentang Makassar yang memiliki akar sejarah kuat sebagai bandar niaga internasional. Sebab jika kita bicara bandar niaga internasional, berarti kita sedang bicara tentang dunia maritim.
Iya, bukan?
Kopi saya seruput lagi. Kali ini lebih nikmat. Saya kemudian menyiapkan kamera di ponsel. Bersiap memotret sebuah perahu nelayan yang melintas dengan latar matahari terbenam. Sinar jingga memantul di gedung-gedung kaca di kawasan CPI.
Wow!
Sore ini, impian saya tentang Makassar terasa sempurna. Dalam kepala saya, Makassar adalah Venesia atau Maldives versi tropis yang jauh lebih gagah.
Saya membayangkan kawasan Losari menjadi waterfront kelas dunia. Tiang-tiang kapal Pinisi berjejer menyambut senja, lalu membawa wisatawan membelah perairan menuju gugusan Pulau Spermonde.
Sebuah kota maritim yang benar-benar hidup dari lautnya. Manusianya menghadap laut, bukan memunggunginya.
Tabik warga Makassar.
Tabik Pak Wali Kota
Tabik Pak Ketua DPRD Makassar.
Begini nah!
Tetapi lamunan itu tiba-tiba buyar ketika angin Losari menerpa wajah. Saya berharap mencium aroma laut dan pelayaran.Ternyata yang sampai ke hidung justru aroma air payau bercampur lumpur yang berbaur dengan sampah yang membusuk.
Awalnya saya kira ada bangkai hewan. “Kenapa di sini bau bangkai? Tidak sedap sekali,” kata saya kepada barista TanaMera. “Bukan, Om. Itu aroma dari laut. Air yang ada di depan,” jawabnya.
Oalah.
Mimpi saya tentang ikan-ikan yang berenang di air jernih, atau hewan laut yang sesekali muncul di permukaan, mendadak berganti pemandangan. Yang terlihat justru bungkus mi instan dan botol plastik yang berenang bebas. Lebih lincah daripada ikan kerapu.
Air mulai menghitam. Lumpur bercampur sampah. Bongkahan kayu dan sisa bangunan ikut berserakan.
Saya berpikir, jangan-jangan kita terlalu sering menyebut Makassar sebagai kota maritim, tetapi lupa menanyakan satu hal sederhana, bahwa Makassar sangat layak mengambil peran sebagai kota maritim Indonesia.
Jika Jakarta sudah punya identitas sebagai kota pemerintahan, pusat kekuasaan dan ekonomi nasional, sementara kota-kota lain memiliki karakter masing-masing, Makassar semestinya berani mengatakan “Kami adalah Kota Maritim”. Bukan sekadar karena punya laut tetapi karena kehidupan kotanya memang bertumpu dan bersahabat dengan laut.
Modalnya Sudah Ada
Makassar sebenarnya tidak perlu mencari-cari modal untuk menjadi kota maritim.
Kepulauan Spermonde sudah ada di depan mata. Gugusan pulau ini bukan sekadar pemandangan untuk foto-foto wisatawan. Kawasan tersebut memiliki kekayaan ekosistem laut yang besar, termasuk terumbu karang dan keanekaragaman hayati yang menjadi modal penting untuk wisata bahari.
Nilai ekonominya pun tidak kecil. Kalau laut dijaga, wisata bahari bisa menjadi sumber ekonomi jangka panjang. Nelayan bisa tetap melaut. Wisatawan bisa datang. Pelaku UMKM bergerak. Perahu-perahu kecil mendapatkan penumpang.
Satu ekosistem ekonomi yang sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana pemerintah mengelolanya.
Data makro juga menunjukkan sektor kelautan memiliki peran penting dalam perekonomian Sulawesi Selatan. Transportasi laut, perikanan, hingga industri pengolahan hasil laut semuanya bergerak.
Di Makassar sendiri, Pantai Losari telah menjadi salah satu magnet wisata kota.
Di sepanjang kawasan pesisir, ekonomi rakyat ikut hidup. Pisang Epe, makanan laut, minuman, dan berbagai usaha kecil menjadi bagian dari wajah kota. Jadi, kalau kita bicara kota maritim, jangan hanya bicara kapal besar, pelabuhan, hotel, gedung tinggi, dan investasi.
Bicara juga tentang nelayan yang perahunya hanya selebar beberapa meter tapi paradigma birokrat kita, beton dan gedung adalah bentuk kesuksesan.
Di sinilah persoalannya. Pembangunan pesisir memang membawa investasi. Kawasan reklamasi seperti CPI dan GMTD mengubah wajah pesisir Makassar dan mendorong pertumbuhan kawasan baru.
Tetapi pembangunan juga membawa konsekuensi. Ruang hidup dan ruang tangkap nelayan tradisional ikut berubah. Pencari kerang, nelayan kecil, serta penyedia jasa perahu kayu harus berhadapan dengan ruang laut yang semakin terbatas.
Di satu sisi, harga tanah naik. Kawasan modern tumbuh. Aktivitas ekonomi baru muncul.
Tetapi di sisi lain, masyarakat pesisir harus mencari ruang yang semakin sempit untuk mempertahankan pekerjaan yang sudah mereka lakukan turun-temurun. Ironisnya, ketika kita bicara tentang kota maritim bernilai triliunan rupiah, nelayan kecil justru bisa merasa semakin jauh dari lautnya sendiri.
Ini bukan berarti pembangunan harus dihentikan.Tetapi pembangunan harus punya batas. Sebab laut bukan halaman belakang kota yang bisa diisi beton sesuka hati.
Dari Reklamasi ke Restorasi
Karena itu, #KopiAno punya beberapa usul sederhana.
Pertama, mulai mengubah paradigma dari reklamasi menuju restorasi. Pemerintah kota perlu lebih ketat terhadap pembangunan pesisir baru yang berpotensi mengganggu ekosistem.
Fokusnya bukan hanya memperluas daratan, tetapi memperbaiki kawasan pesisir yang sudah rusak. Mangrove harus dipulihkan. Terumbu karang harus dijaga.
Kawasan tangkap nelayan tradisional harus memiliki perlindungan yang jelas. Jangan sampai nelayan kalah hanya karena tidak memiliki sertifikat tanah di laut yang sejak dulu menjadi tempat mereka mencari makan.
Kedua, selesaikan persoalan sampah di Losari.
Kalau sebagian sampah datang melalui kanal-kanal kota, maka persoalannya harus diselesaikan sebelum sampah itu sampai ke laut.Jaring penahan sampah di muara kanal bisa menjadi salah satu solusi. Tetapi tentu harus disertai pengelolaan kanal, pengangkutan sampah, dan penegakan aturan.Jangan hanya membersihkan Losari ketika ada acara besar.
Ketiga, bangun waterfront yang benar-benar hidup. Losari membutuhkan dermaga wisata terpadu. Perahu-perahu kayu lokal bisa difasilitasi dan distandardisasi menjadi moda wisata resmi. Tidak perlu malu dengan perahu kecil.
Justru di situlah karakter Makassar. Bayangkan wisatawan berangkat dari Losari menggunakan perahu lokal yang tertata, aman, bersih, lalu menuju pulau-pulau di Spermonde.
Itu baru kota maritim.
Keempat, bangun Smart Island Connectivity.
Pulau-pulau berpenghuni tidak boleh hanya diingat ketika pemerintah membutuhkan data wisatawan. Harus ada transportasi laut yang terjadwal, aman, dan terjangkau. Semacam water bus yang menghubungkan Losari dengan pulau-pulau di sekitarnya.
Yang paling penting, penuhi hak dasar warga pulau. Air bersih dan listrik bukan fasilitas mewah. Bagaimana mungkin kita menjual pulau sebagai destinasi wisata dunia sementara masyarakat yang tinggal di sana masih kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar?
Wisata jangan hanya membuat pulau indah di brosur dan media sosial. Tetapi membuat kehidupan warga pulau juga lebih baik.
Nelayan pun jangan hanya dilatih menangkap ikan. Mereka bisa menjadi pemandu wisata, pengelola homestay, operator perahu, bahkan pengelola konservasi laut. Dengan begitu, masyarakat lokal bukan penonton ketika pariwisata berkembang di halaman rumahnya sendiri.
Makassar Harus Melihat Laut
Makassar tidak membutuhkan lebih banyak beton untuk menjadi kota maritim yang hebat. Makassar membutuhkan keberanian untuk melihat ke arah laut. Bukan memunggunginya. Yang lebih penting, jangan sampai kota ini terlalu sibuk membangun kawasan modern, tetapi lupa kepada orang-orang yang sejak dulu hidup dari laut.
Itulah sebabnya saya teringat Benteng Rotterdam. Benteng yang dibangun Belanda itu menghadap ke laut. Mungkin bukan kebetulan. Sebab dari lautlah dahulu Makassar membaca dunia.
Maka sebelum mengakhiri kopi sore ini, saya kembali membayangkan duduk di Bastion Bone, Benteng Rotterdam, menikmati matahari terbenam di Selat Makassar.
Saya ingin melihat kapal Pinisi melintas. Perahu nelayan pulang membawa ikan.
Wisatawan berjalan menikmati waterfront. Anak-anak bermain di ruang publik.
Laut Makassar kembali menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Tetapi khayalan itu kembali buyar ketika mata saya terbentur dinding bangunan tinggi yang berdiri angkuh di kawasan pesisir. Benteng bersejarah kita seperti sedang dipagari oleh pembangunan.
Di zona yang semestinya menjaga pandangan ke laut, kita justru membuat laut semakin sulit dilihat.
Sebuah komedi tata ruang yang agak sulit ditertawakan.
Kopi saya tinggal sedikit. Lagu Melayu masih terdengar dari headset. Satu pertanyaan masih tersisa di kepala: Seperti apa sebenarnya imajinasi kita dalam menata kota ini, Daeng?
Karena kalau Makassar benar-benar ingin disebut kota maritim, jangan hanya membangun kota di tepi laut.
Bangunlah kota yang hidup bersama laut.
#KopiAno
dari Pesisir Makassar
Tanamera, Sabtu 15 Agustus 2026









