PELAKITA.ID – MAKASSAR — Suasana Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, tampak lebih ramai dari biasanya pada Minggu (16/8/2026).
Ratusan warga pesisir memadati lokasi pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat nelayan dan warga sekitar. Beras, minyak goreng, gula, dan sejumlah komoditas pangan lainnya menjadi sasaran utama warga yang memanfaatkan program tersebut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah fluktuasi harga bahan pokok.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Makassar, Muhammad Ilyas, turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama pengurus Kampung Nelayan Merah Putih Untia dan sejumlah pemangku kepentingan yang mendukung pengembangan kawasan pesisir.
Menurut Ilyas, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu kegiatan yang dapat terus dikembangkan di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih.
Selain membantu menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat, kegiatan semacam ini juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang dikelola secara berkelanjutan oleh komunitas nelayan.

“Kalau bisa kegiatan seperti ini dilakukan secara rutin dan dilaksanakan secara mandiri oleh Kampung Nelayan Merah Putih, tentu manfaatnya akan lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Ilyas menjelaskan bahwa keberadaan Kampung Nelayan Untia merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat pesisir.
Kawasan ini dibangun untuk memberikan ruang dan kesempatan yang lebih baik bagi komunitas nelayan, termasuk warga Pulau Lae-Lae yang direlokasi ke Untia beberapa tahun lalu.
Menurutnya, relokasi tersebut tidak hanya bertujuan menyediakan permukiman yang lebih layak, tetapi juga membuka akses yang lebih dekat terhadap pusat-pusat ekonomi dan pasar perikanan sehingga masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan.
“Kampung Nelayan Untia adalah bentuk komitmen pemerintah untuk memperluas manfaat pembangunan. Warga yang dipindahkan dari Pulau Lae-Lae diberikan kesempatan memperoleh akses usaha berbasis perikanan dengan mendekatkan mereka ke pasar,” kata Ilyas.
Meski demikian, ia menilai kawasan Untia masih membutuhkan dukungan yang lebih besar, terutama dalam hal konektivitas dan transportasi publik. Kemudahan akses menjadi faktor penting untuk mendukung mobilitas masyarakat, distribusi hasil perikanan, serta pertumbuhan ekonomi kawasan pesisir.
“Untia seharusnya mendapatkan dukungan akses transportasi massal yang menghubungkan kawasan ini dengan wilayah lain di Kota Makassar. Konektivitas menjadi salah satu kunci agar potensi ekonomi masyarakat pesisir dapat berkembang lebih optimal,” tambahnya.
Pelaksanaan GPM di Kampung Nelayan Merah Putih Untia juga menjadi contoh bagaimana kawasan nelayan dapat berfungsi tidak hanya sebagai pusat aktivitas perikanan, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat. Antusiasme warga yang memadati lokasi kegiatan menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang terjangkau, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian keluarga nelayan.
Selain memberikan manfaat ekonomi secara langsung, kegiatan ini memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi fondasi pembangunan masyarakat pesisir.
Dalam momentum peringatan kemerdekaan, Gerakan Pangan Murah menjadi simbol kehadiran negara dan berbagai pemangku kepentingan dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat nelayan dapat terpenuhi dengan baik.
Ke depan, model kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi agenda berkelanjutan di Kampung Nelayan Merah Putih Untia.
Dengan dukungan kelembagaan yang kuat, konektivitas yang memadai, dan partisipasi aktif masyarakat, kawasan ini berpeluang berkembang menjadi pusat ekonomi pesisir yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan dan keluarganya secara berkelanjutan.









