Sebelum Gas Mengalir, Bomaki Lebih Dulu Menerima Bor, Gerinda, dan Bak Air

  • Whatsapp
Melalui Program Investasi Sosial INPEX Masela, Ltd., Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kepulauan Tanimbar bersama Pemerintah Desa Bomaki, dengan dukungan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia sebagai mitra pelaksana, memfasilitasi dua bentuk bantuan yang menyasar kebutuhan produktif masyarakat.

PELAKITA.ID – Saumlaki, 25 September 2026 — Blok Masela, proyek pengembangan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) berskala besar di Laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, masih berada dalam tahap pengembangan dan belum memasuki fase produksi meskipun telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Di Desa Bomaki, kehadiran INPEX Masela, Ltd. justru mulai dirasakan masyarakat melalui bentuk dukungan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: peralatan kerja bagi pengrajin tifa dan ukulele serta fasilitas penampungan air untuk kelompok tani.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa perusahaan pengembang proyek migas berskala besar memilih membantu bor, mesin gerinda, dan bak air sebelum masyarakat menikmati manfaat dari produksi gas.

Jawabannya dapat ditelusuri dari persoalan produktivitas yang selama ini dihadapi masyarakat Bomaki.

Potensi lahan pertanian belum sepenuhnya digarap, sementara para pengrajin tifa dan ukulele masih menghadapi keterbatasan peralatan sehingga sebagian proses produksi dilakukan secara manual.

Persoalan lain terdapat pada akses air. Bomaki sebenarnya memiliki sumber mata air, tetapi petani belum mudah mengalirkannya ke lahan karena keterbatasan biaya untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur pendukung.

Situasi tersebut berlangsung di tengah kondisi sosial-ekonomi Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang masih menghadapi tantangan kemiskinan dan keterbatasan sumber penghidupan masyarakat.

Melalui Program Investasi Sosial INPEX Masela, Ltd., Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kepulauan Tanimbar bersama Pemerintah Desa Bomaki, dengan dukungan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia sebagai mitra pelaksana, memfasilitasi dua bentuk bantuan yang menyasar kebutuhan produktif masyarakat.

Bantuan pertama diberikan kepada UMKM Cinta Karya, kelompok pengrajin tifa dan ukulele, berupa sejumlah peralatan produksi seperti bor, mesin gerinda, dan mesin chainsaw.

Bantuan kedua diberikan kepada Kelompok Tani Salju dalam bentuk bak penampung air untuk mendukung kebutuhan pertanian yang selama ini terkendala ketersediaan air.

Bagi Kelompok Tani Salju, persoalan pertanian bukan semata soal ketersediaan lahan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kemauan warga untuk mengelolanya.

Ketua kelompok, Yoseph Lukas Sermatan, menceritakan bahwa dirinya sebelumnya bekerja sebagai sopir dengan rutinitas berangkat pagi dan pulang malam, sebelum memutuskan sepenuhnya menjadi petani pada 2020.

Pengalaman membentuk kelompok tani di Bomaki juga tidak selalu mudah karena beberapa kelompok sebelumnya tidak mampu bertahan, sehingga ia kemudian membangun kelompok bersama anggota keluarganya agar kegiatan pertanian dapat terus berjalan.

“Saya melihat di Bomaki ini bagus, tetapi belum ada niat untuk menjadi petani sungguhan,” katanya, menggambarkan besarnya potensi lahan yang menurutnya belum diikuti keseriusan masyarakat untuk mengelolanya secara konsisten.

Dalam menjalankan kegiatan pertanian, kelompoknya sebelumnya masih mengandalkan cangkul untuk membuat bedengan hingga kemudian memperoleh bantuan cultivator melalui program pendampingan.

Untuk persoalan air, Yoseph menyebut keberadaan bak penampung yang baru diterima telah menjawab sekitar 80 persen kebutuhan kelompoknya, meskipun pemanfaatannya masih menunggu jaringan pipa PDAM Bomaki yang sedang diperbaiki.

Di sektor kerajinan, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan peralatan produksi, tetapi juga keberlanjutan pengetahuan dan regenerasi pengrajin. Ketua UMKM Cinta Karya, Yoseph Samangun, mengatakan bahwa kerajinan tifa dan ukulele membutuhkan lebih banyak anak muda dan warga lokal yang bersedia mengenal serta mempelajari keterampilan tersebut.

Menurutnya, peningkatan minat masyarakat menjadi penting agar kerajinan tradisional itu tidak berhenti pada generasi pengrajin yang ada saat ini dan tetap dapat berkembang sebagai kegiatan ekonomi masyarakat.

Perwakilan INPEX Masela, Ltd., Hanny Grasius Gladius Tanamal, selaku Special Regional External Relation, mengatakan bantuan tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang berkaitan langsung dengan produktivitas masyarakat.

“Bantuan ini diberikan selain untuk membantu masyarakat, juga untuk mendorong kemandirian supaya mendapatkan hasil tanaman panen yang lebih baik,” ujarnya.

Ia mengatakan INPEX Masela, Ltd. akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di tiga desa terdampak, yakni Bomaki, Lermatang, dan Latdalam, dengan harapan manfaat program dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

Koordinator Program, Wa Ode Husmayani, menjelaskan bahwa pembangunan bak penampung air bagi Kelompok Tani Salju dimaksudkan untuk membantu petani menyimpan air yang dibutuhkan dalam kegiatan budidaya, terutama ketika ketersediaan air mengalami keterbatasan.

“Dengan adanya bak penampung ini, kelompok tani diharapkan lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan air untuk lahan pertanian mereka,” ujarnya. Sementara itu, bantuan peralatan produksi untuk Kelompok Cinta Karya diberikan agar proses pembuatan tifa dan ukulele menjadi lebih mudah, efisien, dan memungkinkan kegiatan produksi berlangsung secara berkelanjutan.

Dari Pemerintah Desa Bomaki, Kepala Urusan Pelayanan, Ampi, berharap kehadiran INPEX Masela, Ltd. melalui program investasi sosial dapat berkembang menjadi bentuk kemitraan baru sekaligus memberikan motivasi bagi masyarakat dan pelaku usaha kecil di tiga desa terdampak.

Menurutnya, dukungan tersebut memiliki arti penting bagi warga yang selama ini menjalankan kegiatan ekonomi dengan berbagai keterbatasan sarana dan sumber daya.

Dua bentuk bantuan tersebut pada dasarnya menyasar dua simpul persoalan yang berbeda tetapi saling berkaitan dalam kehidupan ekonomi masyarakat Bomaki: keterbatasan alat produksi dan akses terhadap air untuk kegiatan pertanian.

Peralatan kerja memberi peluang bagi pengrajin untuk meningkatkan kapasitas produksi, sementara bak penampung air membuka ruang bagi kelompok tani untuk mengelola lahan dengan dukungan infrastruktur yang lebih memadai. Manfaat fasilitas tersebut akan semakin nyata ketika perbaikan jaringan pipa PDAM selesai dan bak penampung dapat digunakan secara optimal.

Bagi sebuah proyek migas yang belum memasuki tahap produksi, bentuk investasi sosial seperti ini menghadirkan ukuran lain tentang bagaimana kehadiran investasi mulai berinteraksi dengan kehidupan masyarakat lokal.

Di Bomaki, manfaat tersebut belum hadir dalam bentuk gas yang mengalir, melainkan melalui alat kerja, air, keterampilan, dan peluang untuk meningkatkan produktivitas.

Bersama dengan bantuan pangan yang sebelumnya disalurkan di desa yang sama, program tersebut menunjukkan bahwa proses pembangunan di sekitar Blok Masela juga berlangsung melalui upaya mengurangi kerentanan ekonomi dan memperkuat kapasitas masyarakat di desa-desa penyangga.