Hilir Berau: Mengolah Potensi Perikanan, Mengangkat Daya Saing dari Bumi Batiwakkal

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID
  • Gagasan Hilir Berau lahir dalam konteks penguatan kapasitas kepemimpinan dan inovasi birokrasi daerah. Program ini merupakan bagian dari Laporan Implementasi Proyek Perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II (PKN II) Angkatan X Tahun 2026, yang disusun oleh Abdul Majid, S.Pi., M.Si., Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, melalui Pusjar SKPP LAN Samarinda.
  • Posisi tersebut menempatkan Hilir Berau bukan sekadar sebagai gagasan teknis pengolahan hasil perikanan, tetapi sebagai sebuah proyek perubahan yang mencoba menerjemahkan kepemimpinan birokrasi ke dalam inovasi pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

PELAKITA.ID – BERAU — Di ujung utara Kalimantan Timur, Kabupaten Berau memiliki bentang wilayah yang mempertemukan daratan, pesisir dan kepulauan dengan kekayaan sumber daya kelautan serta perikanan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat pesisir Berau, laut bukan sekadar bentang alam yang terbentang di hadapan kampung-kampung mereka, melainkan ruang hidup yang menyediakan pangan, pekerjaan, pendapatan sekaligus pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Perikanan menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah melalui aktivitas penangkapan dan budidaya yang terus berkembang. Tantangannya kini bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana memastikan hasil produksi tersebut memiliki nilai tambah lebih tinggi, kualitas yang terjaga, serta akses pasar yang semakin luas.

Di sinilah hilirisasi menjadi penting. Ekosistem perikanan perlu dibangun dari hulu hingga hilir agar hasil tangkapan dan budidaya tidak berhenti sebagai komoditas primer atau produk olahan sederhana, tetapi dapat berkembang menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing.

Dinas Perikanan Kabupaten Berau memiliki posisi strategis dalam proses tersebut, bukan hanya dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan, tetapi juga dalam mendorong peningkatan produksi, pengolahan, pemasaran, penguatan sumber daya manusia dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Salah satu gagasan yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah Hilir Berau, sebuah proyek perubahan yang mendorong hilirisasi melalui pengembangan produk pengalengan ikan premium dengan semangat mengolah potensi, mengangkat prestasi.

Produksi Besar, Pengolahan Masih Terbatas

Data tahun 2025 menunjukkan bahwa produksi perikanan Kabupaten Berau mencapai 30.196,71 ton. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi bahan baku yang tersedia dari sektor perikanan daerah.

Persoalannya, dari total produksi tersebut baru sekitar 4.902,72 ton yang masuk dalam proses pengolahan atau sekitar 16,24 persen. Sebagian besar hasil perikanan masih dipasarkan dalam bentuk produk primer maupun olahan sederhana.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya ruang yang cukup besar untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan melalui pengolahan yang lebih terstandar.

Salah satu celah yang belum tersedia adalah produk pengalengan premium yang memenuhi standar HACCP dan SNI sebagai salah satu produk unggulan daerah.

Persoalannya karena itu bukan semata-mata terletak pada jumlah produksi, tetapi pada kemampuan daerah menghubungkan bahan baku dengan teknologi, standar mutu, sumber daya manusia, kelembagaan, branding dan pasar dalam sebuah ekosistem yang bekerja secara berkelanjutan.

Hilir Berau dirancang untuk menjawab persoalan tersebut melalui pengembangan ekosistem hilirisasi pengalengan produk perikanan premium berbasis kolaborasi pentahelix, yang mempertemukan pemerintah, dunia pendidikan, masyarakat, dunia usaha, mitra nonpemerintah dan media.

Dari Gagasan Menjadi Gerakan

Implementasi Hilir Berau diawali setelah seminar rencana proyek perubahan dan berbagai masukan dari mentor serta coach. Tahapan berikutnya diarahkan untuk memastikan gagasan tersebut tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan, tetapi bergerak menjadi rangkaian kegiatan yang memiliki target dan ukuran implementasi.

Konsultasi bersama mentor dan coach menjadi langkah awal untuk memperoleh arahan sekaligus memastikan setiap tahapan berjalan sesuai tujuan perubahan. Setelah itu dibentuk tim efektif Hilir Berau dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang lebih jelas.

Komitmen kelembagaan diperkuat melalui penerbitan surat keputusan tim efektif, sementara anggota tim menandatangani pakta integritas sebagai bagian dari komitmen untuk bekerja secara profesional, transparan dan bertanggung jawab.

Momentum penting berlangsung pada 23 Juli 2026, ketika Hilir Berau resmi diluncurkan di SM Tower Tanjung Redeb oleh Gubernur Kalimantan Timur Rudi Mas’ud bersama Bupati Berau Sri Juniarsih. Peluncuran tersebut menjadi penanda dimulainya gagasan mengolah potensi perikanan Berau menjadi produk premium yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

Tahapan berikutnya diarahkan pada pemetaan potensi bahan baku, pelaku usaha, sarana produksi dan kesiapan lokasi di Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan.

Pengumpulan data lapangan kemudian diverifikasi dan dianalisis untuk mendapatkan gambaran mengenai bahan baku, sarana produksi, sumber daya manusia serta mutu perikanan sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Produk

Hilir Berau kemudian disosialisasikan secara hybrid dengan melibatkan 11 organisasi dan instansi. Proses ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kekuatan yang diperlukan dalam membangun ekosistem hilirisasi perikanan di Berau.

Kolaborasi tersebut diperkuat melalui koordinasi dengan YEKAM, SMK Negeri 3 Berau dan PKK Kecamatan Pulau Derawan, dengan pembagian peran, dukungan dan ruang lingkup kerja sama yang kemudian dituangkan dalam perjanjian kerja sama.

Keterlibatan sekolah kejuruan memberikan dimensi penting karena hilirisasi tidak hanya membutuhkan fasilitas produksi, tetapi juga sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai kebutuhan industri pengolahan pangan berbasis perikanan.

Sementara keterlibatan masyarakat dan kelompok perempuan membuka ruang agar proses hilirisasi tidak hanya menjadi agenda kelembagaan pemerintah, tetapi memiliki basis sosial yang lebih kuat di tingkat lokal.

Tahapan konkret kemudian diwujudkan melalui demplot pengalengan ikan di Kampung Tanjung Batu. Bahan baku perikanan lokal mulai diproses menjadi produk pengalengan premium sekaligus menjadi model awal bagi pengembangan hilirisasi perikanan Berau.

Demplot tersebut menjadi salah satu titik penting karena gagasan yang sebelumnya berada pada level perencanaan mulai diuji melalui praktik produksi. Dari sini dapat dilihat kebutuhan teknologi, bahan baku, keterampilan, standar mutu hingga kesiapan pasar.

Rumah Produksi Menjadi Fondasi Baru

Setelah milestone jangka pendek dilaksanakan, Hilir Berau bergerak menuju tahapan jangka menengah. Salah satu perkembangan penting adalah terbangunnya rumah produksi hilirisasi pengalengan ikan di kawasan Tanjung Batu.

Rumah produksi tersebut tidak hanya diposisikan sebagai tempat membuat produk, tetapi juga sebagai ruang produksi, pembelajaran dan pengembangan usaha.

Kehadirannya memberikan infrastruktur yang memungkinkan kegiatan hilirisasi berlangsung lebih teratur dan tidak berhenti pada satu kali kegiatan percontohan.

Pada 20 Agustus 2026, rumah produksi tersebut dimanfaatkan untuk pelaksanaan demplot atau pilot project. Momentum tersebut memperlihatkan bahwa proses perubahan mulai bergerak dari pembangunan kelembagaan menuju praktik produksi yang lebih konkret.

Keberadaan rumah produksi juga menjadi penting karena hilirisasi membutuhkan kesinambungan. Produk bernilai tambah tidak lahir hanya dari satu kali pelatihan atau demplot, tetapi dari proses produksi yang konsisten, pengendalian mutu, pengembangan pasar serta kemampuan pelaku usaha mempertahankan standar.

Dari Laut Menuju Konsumen

Hilirisasi pada akhirnya tidak cukup berhenti di rumah produksi. Produk yang telah diolah membutuhkan konsumen, sementara konsumen membutuhkan akses untuk mengenal, memperoleh dan mempercayai produk tersebut.

Karena itu, pada 28 Agustus 2026, produk Hilir Berau mulai dipasarkan melalui penitipan produk di Toko Syukurahmat dan Toko Makmur Jaya. Langkah tersebut menjadi tahap awal membangun jalur pemasaran lokal dari bahan baku perikanan, rumah produksi, jaringan distribusi hingga konsumen.

Jalur sederhana tersebut sesungguhnya memperlihatkan inti dari hilirisasi: menciptakan hubungan yang lebih kuat antara produksi dan pasar. Semakin kuat hubungan tersebut, semakin besar peluang nilai ekonomi yang dihasilkan dari komoditas perikanan untuk berputar di daerah.

Dalam konteks itu, pengalengan bukan hanya persoalan mengubah ikan menjadi produk dalam kemasan. Ia berkaitan dengan kemampuan daerah menciptakan standar mutu, identitas produk, merek, jaringan distribusi dan kepercayaan konsumen.

Dukungan Kebijakan untuk Keberlanjutan

Pengembangan Hilir Berau kemudian diarahkan pada penguatan kebijakan agar inovasi tersebut memiliki landasan yang lebih kuat. Salah satu langkahnya adalah penerbitan SK Bupati Berau Nomor 391 Tahun 2026 tentang penetapan produk pengalengan ikan premium Hilir Berau sebagai produk unggulan perikanan Kabupaten Berau.

Dukungan kebijakan tersebut penting karena keberlanjutan hilirisasi membutuhkan lebih dari sekadar proyek perubahan. Ia membutuhkan kelembagaan, kepastian arah pengembangan, dukungan anggaran dan program, penguatan kapasitas pelaku, serta akses pasar yang terus diperluas.

Pemerintah Kabupaten Berau menyatakan dukungannya terhadap inovasi Hilir Berau dengan harapan program tersebut dapat mendorong sektor perikanan menjadi lebih berdaya saing dan bernilai tambah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dukungan juga datang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta berbagai pihak yang terlibat dalam proses implementasi. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk membawa Hilir Berau dari skala proyek perubahan menuju pengembangan ekosistem ekonomi perikanan yang lebih luas.

Dari Berau untuk Indonesia

Hilir Berau memperlihatkan sebuah persoalan yang sering muncul dalam pembangunan sektor perikanan: daerah dapat memiliki sumber daya dan produksi yang besar, tetapi nilai ekonomi yang tercipta belum tentu sebanding dengan potensi bahan bakunya.

Data produksi Berau sebesar 30.196,71 ton pada 2025, dengan pengolahan sekitar 16,24 persen, memperlihatkan ruang pengembangan yang masih terbuka.

Tantangannya adalah bagaimana ruang tersebut diisi dengan inovasi yang realistis, teknologi yang sesuai, sumber daya manusia yang siap dan pasar yang mampu menyerap produk.

Karena itu, ukuran keberhasilan Hilir Berau tidak berhenti pada berdirinya rumah produksi atau lahirnya produk pengalengan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah ekosistem tersebut mampu bertahan, meningkatkan kapasitas produksi, menjaga mutu, memperluas pasar dan menciptakan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Jika proses tersebut berjalan konsisten, hilirisasi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kekayaan laut Berau dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat posisi produk perikanan daerah dalam pasar yang lebih luas.

Dalam konteks itulah Hilir Berau dapat dibaca sebagai upaya menghubungkan agenda kepemimpinan pemerintahan dengan kebutuhan transformasi ekonomi perikanan di daerah. Proyek perubahan ini tidak hanya berbicara tentang menghasilkan produk ikan kaleng premium, tetapi juga membangun ekosistem yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, pendidikan, kelompok perempuan, pelaku perikanan dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dari ruang pelatihan kepemimpinan, gagasan tersebut kemudian bergerak menuju lapangan melalui pemetaan potensi, pembentukan tim, kolaborasi, pembangunan rumah produksi, demplot hingga pemasaran produk—sebuah perjalanan yang menjadi inti dari cerita Hilir Berau: mengolah potensi, mengangkat prestasi.

Dari Bumi Batiwakkal, gagasan itu dirangkum dalam satu semangat: Hilir Berau, mengolah potensi, mengangkat prestasi—dari Berau untuk Indonesia.