PELAKITA.ID – TAKALAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Pemerintah Kabupaten Takalar mulai menjajaki pengembangan Pusat Maritim Unhas di kawasan Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Penjajakan tersebut diarahkan pada pengembangan kawasan maritim terpadu yang menghubungkan potensi kelautan, perikanan, pertanian, tambak garam, teknologi perkapalan hingga energi terbarukan.
Peninjauan awal dilakukan pada Minggu, 27 September 2026, ketika Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa bersama Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye mengunjungi kawasan tambak garam di Dusun Jonggoa, Desa Cikoang.
Dalam kunjungan tersebut turut hadir Dekan Fakultas Teknik Unhas Prof. Dr. Eng. Ir. Muhammad Isran Ramli, S.T., M.T., bersama jajaran pimpinan Unhas dan Pemerintah Kabupaten Takalar.
Cikoang merupakan kawasan pesisir yang memiliki karakter ekonomi dan budaya yang kuat. Masyarakat setempat selama ini menggantungkan kehidupan pada aktivitas sebagai nelayan, petani tambak, penggarap lahan, serta kegiatan pertanian. Kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu pusat tradisi Islam lokal melalui perayaan Maudu Lompoa, sehingga pengembangan kawasan maritim di Cikoang memiliki dimensi ekonomi sekaligus sosial dan budaya.
Rencana pengembangan Pusat Maritim Unhas tidak hanya diarahkan pada pembangunan fasilitas perkapalan modern. Kawasan tersebut juga diproyeksikan menjadi ruang pengembangan teknologi dan pengetahuan mengenai kapal fiber serta kapal tradisional yang berkembang dalam sejarah masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa mengatakan, rencana pembangunan Pusat Maritim di Cikoang saat ini masih berada pada tahap penjajakan. Meski demikian, kunjungan bersama tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi lahirnya kolaborasi yang lebih konkret antara Unhas dan Pemerintah Kabupaten Takalar.
“Pagi ini tanggal 27 September 2026, saya bersama Pak Bupati Takalar dan segenap pimpinan lainnya menjadi saksi adanya niatan kami untuk membangun suatu pusat maritim Unhas di kawasan Cikoang ini,” ujar Jamaluddin.
Menurutnya, pengembangan pusat tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk menghadirkan galangan kapal modern, tetapi juga memperkuat pengembangan kapal fiber dan kapal tradisional.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menghubungkan perkembangan teknologi dengan pengetahuan serta tradisi maritim masyarakat.
“Kita akan bangun bukan hanya galangan kapal yang modern, tapi juga mungkin penguatan kapal-kapal fiber, kapal-kapal tradisional untuk membuktikan bahwa memang nenek moyang kita itu adalah pelaut,” katanya.
Konsep pengembangan kawasan juga mencakup sejumlah sektor yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir.
Di antaranya adalah pengembangan tambak secara lebih intensif, pengolahan garam tradisional dengan dukungan teknologi, serta pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Dengan karakter tersebut, Pusat Maritim Unhas di Cikoang berpotensi menjadi ruang yang mempertemukan fungsi pendidikan, riset, inovasi teknologi, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi pesisir.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah diharapkan dapat menjadikan potensi lokal sebagai bagian dari ekosistem maritim yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Bagi Cikoang, gagasan tersebut juga membuka kemungkinan baru untuk melihat kawasan pesisir bukan hanya sebagai ruang produksi perikanan dan garam, tetapi sebagai ruang pengetahuan yang mempertemukan tradisi, teknologi, sumber daya alam dan kehidupan masyarakat.









