Konservasi Mangrove di Sulawesi Selatan Masif, Tata Kelola dan Tanggung Jawab Kelembagaan Masih Jadi Tantangan

  • Whatsapp
Berada di spot Lampia, titik yang pernah direplantasi mangrove oleh Badan Kerjasama Antar Desa dalam skema PKPM PT Vale tahun 2019. Mangrove di tangan Andi Narwis dan Jumardi Lanta ini dianggap jejak terbaru hasil penanaman tersebut (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Sulawesi Selatan memiliki garis pesisir yang panjang, gugusan pulau yang beragam, teluk, muara, delta, laguna, hingga kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan laut terbuka.

Di antara bentang geografis tersebut, mangrove tumbuh sebagai ekosistem peralihan yang sering kali tampak sederhana dari kejauhan, tetapi sesungguhnya menyimpan fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi yang sangat kompleks.

Dari Kepulauan Selayar di bagian selatan hingga Luwu Timur di kawasan timur Sulawesi Selatan, mangrove hadir dengan karakter habitat yang berbeda-beda.

Ada yang tumbuh di tepian muara, ada yang membentuk sabuk hijau di belakang garis pantai, ada yang berkembang di pulau-pulau kecil, sementara sebagian lainnya tumbuh di kawasan yang berhadapan dengan aktivitas permukiman, perikanan, pertanian, hingga pertambangan.

Keragaman itu membuat mangrove Sulawesi Selatan tidak tepat dipahami hanya sebagai kumpulan pohon bakau. Mangrove merupakan ruang ekologis tempat air laut dan daratan bertemu, tempat ikan dan biota lainnya mencari makan serta berlindung, sekaligus ruang hidup masyarakat yang menggantungkan sebagian kehidupannya pada pesisir.

UIN Alauiddin Makassar merilis hasil penelitian di Sungai Tallo, Makassar, misalnya, mengidentifikasi lima jenis mangrove sejati, yakni Avicennia marina, Nypa fruticans, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia caseolaris. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bahkan sebuah ekosistem mangrove yang berada di tengah kawasan perkotaan masih menyimpan keragaman vegetasi yang penting.

Di wilayah lain, keragaman tersebut dapat menjadi lebih tinggi. Penelitian di PPLH Puntondo, Takalar, pada 2026 mengidentifikasi delapan jenis mangrove sejati, yaitu Lumnitzera racemosa, Rhizophora apiculata, R. stylosa, R. mucronata, Sonneratia sp., Avicennia marina, A. alba, dan Ceriops decandra, serta dua jenis asosiasi, Pandanus tectorius dan Excoecaria agallocha.

Temuan di Pulau Bangkobangkoang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, juga memperlihatkan enam jenis mangrove, yakni Rhizophora stylosa, R. apiculata, R. mucronata, Sonneratia alba, Avicennia marina, dan Lumnitzera racemosa. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana karakter pulau kecil turut membentuk komposisi vegetasi mangrove. (PPJP ULM)

Dari Selayar, mangrove membentuk bentang pesisir

Jika perjalanan ekologis Sulawesi Selatan dibayangkan dari selatan ke timur, Kepulauan Selayar menjadi salah satu titik penting untuk memahami hubungan antara pulau kecil, laut, dan vegetasi pesisir.

Di wilayah kepulauan, mangrove bukan sekadar pelindung garis pantai, melainkan bagian dari mosaik ekosistem yang berhubungan dengan padang lamun, terumbu karang, perairan dangkal, dan ruang pemanfaatan masyarakat.

Pada kawasan seperti ini, jenis Rhizophora, Avicennia, dan Sonneratia dapat menjadi bagian dari komunitas mangrove, dengan karakter masing-masing mengikuti kondisi substrat, salinitas, pasang surut, dan keterbukaan terhadap gelombang.

 Rhizophora relatif mudah dikenali melalui akar tunjangnya yang menjalar dari batang dan cabang bawah menuju tanah. Avicennia mempunyai akar napas atau pneumatofor yang muncul dari substrat berlumpur, sedangkan Sonneratia juga dikenal melalui pneumatofornya yang membantu pohon memperoleh oksigen pada lingkungan yang tergenang.

Perbedaan bentuk akar tersebut sebenarnya menyampaikan satu pesan ekologis yang sederhana: mangrove memiliki cara sendiri untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang secara fisiologis tidak mudah dihuni oleh banyak jenis tumbuhan darat.

Karena itu, ketika melihat hutan mangrove, perhatian tidak seharusnya hanya diarahkan pada jumlah pohon yang tumbuh. Bentuk akar, regenerasi, struktur tegakan, salinitas, jenis substrat, pasang surut, keberadaan fauna, serta hubungan dengan aktivitas manusia juga menjadi bagian penting dalam membaca kesehatan sebuah ekosistem mangrove.

Takalar dan Pangkep: mangrove sebagai ruang hidup

Perjalanan ke arah barat dan utara membawa kita pada Takalar dan Pangkep, dua wilayah yang memperlihatkan bagaimana mangrove bertaut erat dengan pulau kecil, tambak, permukiman, perikanan, dan aktivitas masyarakat pesisir.

Di Takalar, penelitian di sejumlah lokasi menunjukkan Rhizophora mucronata sebagai salah satu jenis dominan, sementara Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, dan Rhizophora stylosa juga ditemukan dalam komunitas mangrove. Penelitian tersebut mencakup sejumlah lokasi pesisir dan pulau, termasuk Pulau Tanakeke.

Temuan di Puntondo memperlihatkan keragaman yang bahkan lebih jelas. Delapan jenis mangrove sejati dan dua jenis asosiasi ditemukan dalam satu kawasan pendidikan lingkungan tersebut, dengan kondisi habitat yang dipengaruhi oleh substrat, salinitas, serta dinamika pasang surut.

PPJP ULM menemukan bahwa di Pangkep, termasuk kawasan pulau-pulau kecil, mangrove menghadapi tantangan yang berbeda. Penelitian di Pulau Bangkobangkoang menemukan enam jenis mangrove dan sekaligus menunjukkan pentingnya pendekatan pemetaan serta pemantauan untuk memahami struktur dan sebarannya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mangrove tidak tumbuh dalam ruang ekologis yang seragam. Satu jenis mungkin berkembang baik di bagian depan yang terkena gelombang, sementara jenis lain lebih sesuai berada di bagian tengah atau belakang yang relatif terlindung.

Dari pesisir kota menuju Sinjai

Di sekitar Makassar, keberadaan mangrove memperlihatkan persoalan yang berbeda karena tekanan perkotaan menjadi bagian dari dinamika ekosistem.

Sungai Tallo menjadi contoh penting. Penelitian yang dilakukan melalui metode transek dan identifikasi morfologi menemukan lima jenis mangrove sejati, yaitu Avicennia marina, Nypa fruticans, Rhizophora apiculata, R. mucronata, dan Sonneratia caseolaris. (Rumah Jurnal 

Mangrove di lingkungan seperti Sungai Tallo menunjukkan bahwa ekosistem pesisir dapat tetap bertahan di tengah perubahan bentang ruang yang cepat. Akan tetapi, keberadaannya juga menuntut perhatian lebih besar terhadap kualitas air, sampah, perubahan penggunaan lahan, sedimentasi, dan tekanan pembangunan.

Bergerak ke Sinjai, skala ekosistem menjadi lebih luas. Hutan mangrove Tongke-Tongke di Sinjai Timur dilaporkan memiliki luas sekitar 700 hektare dan menjadi salah satu kawasan mangrove terluas di Sulawesi Selatan. Jenis yang dilaporkan antara lain Rhizophora, Avicennia, Bruguiera, dan Sonneratia. Kawasan tersebut juga dikembangkan dengan keterlibatan masyarakat untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan.

Tongke-Tongke memperlihatkan bahwa mangrove dapat menjadi lebih dari sekadar sabuk hijau. Ia dapat menjadi ruang pembelajaran, destinasi ekowisata, pelindung pantai, habitat ikan dan biota lainnya, sekaligus bagian dari identitas masyarakat pesisir.

Dalam perjalanan penulis ke Luwu Timur, mangrove mulai dibaca bukan hanya sebagai objek ekologis, tetapi sebagai bagian dari kehidupan desa.

Di Pasi-Pasi di Kecamatan Malili menjadi salah satu ruang yang menarik untuk melihat hubungan tersebut. Di desa ini, mangrove tumbuh di kawasan pesisir dan telah menjadi perhatian masyarakat sebagai bagian dari konservasi, edukasi, sekaligus upaya menghadapi ancaman abrasi. Pemberitaan lokal pada 2026 juga menggambarkan keberadaan mangrove Pasi-Pasi sebagai ruang yang mulai menarik perhatian masyarakat dan pengunjung.

Kunjungan ke Pasi-Pasi dan Desa Harapan, memberi konteks bahwa pembicaraan mengenai mangrove seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa hektare yang ditanam atau berapa ribu bibit yang dibagikan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang menjaga, siapa yang memperoleh manfaat, bagaimana masyarakat memaknai kawasan tersebut, dan apakah mangrove menjadi bagian dari tata kelola desa atau hanya muncul sebagai kegiatan lingkungan yang berlangsung sesekali.

Mangrove menjadi sebuah ruang sosial. Ia mempertemukan kepentingan pemerintah, masyarakat, kelompok pemuda, dunia usaha, komunitas lingkungan, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan pesisir.

Informasi yang beredar di Desa Harapan menjelaskan bahwa pada Juni 2024, Karang Taruna Desa Harapan melakukan penanaman 5.000 bibit mangrove di sepanjang pesisir Lampia dengan melibatkan Aliansi Pemuda Pemerhati Lingkungan, Boneck Lampia, dan PT Citra Lampia Mandiri.

Kegiatan tersebut diarahkan antara lain untuk melindungi pesisir dari abrasi dan memulihkan habitat mangrove.

Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa perhatian terhadap mangrove di Harapan terus berlanjut. Pada 29 Agustus 2026, sebanyak 50 bibit mangrove jenis Avicennia atau api-api ditanam di kawasan Mangkasa Point, Desa Harapan, bersama penanaman 200 bibit lamun jenis Enhalus acoroides.

Pada September 2026, aksi penanaman bahkan dilakukan kembali dalam skala lebih besar. Kodim 1403/Palopo melaporkan penanaman 2.500 bibit mangrove di Desa Harapan, sedangkan kegiatan lain pada 12 September di Pantai Batu Menggoro, Lampia, melibatkan penanaman 1.500 mangrove dan pemasangan 500 unit struktur rehabilitasi terumbu karang.

Rangkaian tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada angka bibit: rehabilitasi mangrove mulai menjadi ruang kolaborasi berbagai aktor. Jauh sebelumnya, pada tahun 2019, tiga desa yaitu Balantang, Harapan dan Pasipasi bersepakat untuk menanam ribuan batang mangrove di pesisir Malili.

“Pemerintah desa, masyarakat, kelompok pemuda, aparat, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan kelompok lainnya hadir dalam ruang yang sama, meskipun masing-masing membawa kepentingan, kapasitas, dan cara pandang yang berbeda,” ujar Andi Narwis saat menerima Pelakita dalam pekan ketiga September 2026.

Menurut Narwis, ada kesadaran baru di tengah masifnya industrialisasi tambang nikel di Kecamatan Malili yaitubahwa desa-desa tidak hanya menjadi lokasi penanaman, tetapi juga ruang untuk membaca bagaimana sebuah agenda ekologis diterjemahkan menjadi kegiatan nyata di tingkat lokal.

Kawasan Lampia membawa cerita tersebut lebih jauh karena kawasan ini berada dalam bentang pesisir yang juga bersinggungan dengan berbagai aktivitas ekonomi.

Diperoleh informasi pula bahwa pada September 2026, Pantai Batu Menggoro di kawasan Lampia menjadi lokasi penanaman 1.500 mangrove dan pemasangan 500 unit struktur rehabilitasi terumbu karang dalam kegiatan yang melibatkan unsur TNI AL, pemerintah daerah, aparat kepolisian, dan masyarakat. Kegiatan tersebut secara eksplisit ditempatkan dalam kerangka mitigasi abrasi dan pemulihan ekosistem pesisir.

Beberapa hari kemudian, penanaman 2.500 bibit mangrove juga dilakukan di Desa Harapan dengan melibatkan masyarakat, pemerintah desa, mahasiswa, aparat, dan unsur dunia usaha.

Perlu penanganan khusus

Menurut aktivis pengorganisasian masyarakat di lokasi tambang Jurmadi Lanta, mangrove membutuhkan ruang tumbuh yang sesuai, perlindungan dari gangguan, kesesuaian jenis dengan habitat, pemantauan tingkat kelangsungan hidup, serta keterlibatan masyarakat setelah kegiatan penanaman selesai.

Pembacaan Jumardi, mangrove tidak pernah berdiri sendiri. Di pesisir Luwu Timur, keberadaannya berhubungan dengan laut, lamun, terumbu karang, sungai, tambak, permukiman, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat.

Karena itu, kata dia, pendekatan rehabilitasi yang hanya menghitung jumlah pohon berisiko mengabaikan lanskap ekologis yang lebih luas. Mangrove yang sehat membutuhkan kondisi hidrologi yang tepat, suplai sedimen, kualitas air, ruang untuk regenerasi, serta konektivitas dengan ekosistem pesisir lainnya.

“Pengalaman di Harapan memperlihatkan hubungan tersebut dengan cukup jelas. Pada satu sisi terdapat penanaman mangrove, sementara pada sisi lain terdapat rehabilitasi lamun dan terumbu karang. Tiga ekosistem tersebut sebenarnya merupakan bagian dari satu bentang pesisir yang saling berhubungan dan ada masyarakat di antaranya,” sebut Jumardi.

Disebutkan Jumardi Lanta, penanaman dapat dilakukan dalam sehari, tetapi pemeliharaan membutuhkan hubungan yang lebih panjang antara masyarakat, pemerintah desa, kelompok pemuda, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga lainnya.

“Kepercayaan menjadi penting karena masyarakat harus percaya bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar proyek sesaat. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, sementara masyarakat membutuhkan kepastian bahwa ruang pesisir yang mereka jaga benar-benar dihargai dan dikelola untuk kepentingan jangka panjang,” sebut pria yang telah malang melintang di urusan pengorganisasian masyarakat di lokasi pertambangan nikel ini.

Dia menegaskan, hubungan antarwarga dan kelompok lokal membentuk modal sosial yang mengikat, kerja sama antarkelompok membangun jembatan, sedangkan hubungan masyarakat dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga lainnya menciptakan jejaring yang menghubungkan komunitas dengan sumber daya dan kewenangan yang lebih luas.

“Konservasi mangrove dengan demikian bukan sekadar persoalan biologi. Ia juga merupakan persoalan kelembagaan, pengetahuan, kepemimpinan lokal, distribusi manfaat, dan kemampuan membangun kerja bersama,” tegasnya.

Isu beragam

Perjalanan penulis, dari Selayar hingga Luwu Timur menunjukkan bahwa mangrove Sulawesi Selatan memiliki wajah yang beragam.

Di satu tempat ia hadir sebagai hutan pulau kecil, di tempat lain sebagai sabuk pelindung pantai, di muara sebagai peralihan antara sungai dan laut, dan di kawasan perkotaan sebagai fragmen ekosistem yang bertahan di tengah tekanan pembangunan.

Jenisnya pun beragam. Avicennia dengan pneumatofornya, Rhizophora dengan akar tunjang, Sonneratia dengan akar napasnya, Bruguiera dengan akar lutut, Nypa yang tumbuh seperti palma di tepian muara, hingga berbagai jenis asosiasi menunjukkan kemampuan luar biasa tumbuhan pesisir beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah-ubah.

Pasi-Pasi mengingatkan bahwa konservasi dapat tumbuh dari perhatian masyarakat desa. Harapan menunjukkan bahwa rehabilitasi dapat menjadi ruang kolaborasi. Lampia memperlihatkan bahwa perlindungan pesisir semakin membutuhkan pendekatan lintas ekosistem dan lintas aktor.

Tiga tempat tersebut juga memberi pelajaran bahwa keberhasilan konservasi tidak seharusnya berhenti pada seremoni penanaman. Ukuran yang lebih penting adalah apakah ekosistem pulih, apakah bibit bertahan, apakah regenerasi berlangsung, apakah biota kembali, dan apakah masyarakat merasakan manfaatnya.

Di tengah tekanan perubahan iklim, abrasi, perubahan penggunaan ruang, dan meningkatnya kebutuhan pembangunan pesisir, mangrove menjadi semacam garis depan yang sering bekerja dalam diam. Inilah yang perlu menjadi arena tata kelola, pertanyaannya, seberapa antisipatif pemerintah daerah dalam menyiapkan kelembagaan, baik formal maupun informal.

Mangrove memang bisa saja menahan gelombang tanpa banyak terlihat, menyimpan karbon tanpa suara, menjadi tempat biota tumbuh tanpa meminta perhatian, dan menyediakan ruang hidup bagi masyarakat tanpa selalu masuk dalam perhitungan ekonomi formal tetapi apa yang bisa menjalin korelasinya pada sistem ekologi yang fungsional dan tidak menimbulkan ancaman sosial ekonomi.

Mangrove menjaga ruang pertemuan antara darat dan laut, ruang hidup manusia dan biota, sekaligus ruang sosial tempat pengetahuan, kepentingan, dan tanggung jawab terhadap masa depan dipertemukan.  Parapihak sudah bahu membahu untuk menanam, berinvestasi masa depan, hanya saja, upaya tidak mesti berhenti di situ. Tidak semata seremoni, saban tahun dengan menanam.

Jika kelembagaan di daerah juga eksis dan bisa menjadi arena aktualisasi para pihak sebagai penjaga masa depan kawasan, tentu akan lebih dahsyat!

Penulis: Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID