Menyusun Masa Depan Jurnalisme Iklim Indonesia dari Makassar hingga Melbourne

  • Whatsapp
Kegiatan yang didukung oleh Australia-Indonesia Institute tersebut menjadi ruang refleksi penting tentang bagaimana media Indonesia memandang, membingkai, dan menyampaikan krisis iklim kepada publik.

PELAKITA.ID – Diskusi berlangsung hangat dan dinamis di Universitas Hasanuddin ketika para jurnalis, peneliti, dan pegiat komunikasi iklim berkumpul bersama Australia Indonesia Centre dan Monash Climate Communication Hub untuk membahas hasil penelitian terbaru mengenai pelaporan isu iklim di ruang redaksi Indonesia.

Kegiatan yang didukung oleh Australia-Indonesia Institute tersebut menjadi ruang refleksi penting tentang bagaimana media Indonesia memandang, membingkai, dan menyampaikan krisis iklim kepada publik.

Dalam forum itu, berbagai pengalaman lapangan dibagikan oleh jurnalis lokal yang telah lama meliput isu lingkungan, pesisir, dan perubahan iklim di berbagai daerah di Indonesia.

Mereka tidak hanya berbicara tentang tantangan teknis dalam peliputan, tetapi juga tentang kenyataan bahwa isu iklim masih sering dianggap sebagai isu yang jauh, rumit, dan kurang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Padahal, bagi banyak komunitas pesisir dan masyarakat rentan, perubahan iklim sudah menjadi pengalaman nyata. Cuaca ekstrem semakin sulit diprediksi, musim bergeser, banjir rob meningkat, dan hasil tangkapan nelayan semakin tidak menentu.

Suasana kegiatan sharing session (dok: Konjen Australia di Makassar)

Dalam situasi seperti ini, media memiliki peran penting bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penghubung antara sains, kebijakan, dan pengalaman hidup masyarakat.

Konsul Australia, Isaac, menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan para jurnalis Indonesia yang dinilai memiliki pengalaman kuat dalam melaporkan isu-isu lingkungan dan kemanusiaan. Ia juga menyambut baik semangat kolaborasi lintas negara yang mulai tumbuh melalui program ini.

Salah satu bagian penting dari proyek tersebut adalah kunjungan para peserta ke Melbourne untuk mengikuti lokakarya berbagi pengetahuan selama dua hari.

Di sana, jurnalis Indonesia bertemu langsung dengan jurnalis Australia, ilmuwan iklim, pakar komunikasi, dan peneliti dari berbagai institusi. Pertemuan itu membuka ruang dialog yang lebih luas tentang bagaimana media dapat membangun narasi iklim yang lebih efektif, manusiawi, dan solutif.

Lokakarya tersebut memperkenalkan pendekatan constructive journalism atau jurnalisme konstruktif dalam pelaporan perubahan iklim.

Pendekatan ini tidak berhenti pada pemberitaan tentang bencana, krisis, atau rasa takut, tetapi juga menyoroti solusi, inovasi, adaptasi masyarakat, dan kemungkinan-kemungkinan perubahan yang dapat dilakukan bersama.

Bagi para peserta, pengalaman di Melbourne bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan kesempatan untuk melihat bagaimana isu iklim dapat dikomunikasikan secara lebih inklusif dan berdampak.

Diskusi bersama ilmuwan membantu jurnalis memahami kompleksitas sains iklim dengan bahasa yang lebih mudah dipahami publik.

Sementara pertemuan dengan praktisi media membuka perspektif baru tentang pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam menghadapi tantangan global.

Kiri-kanan, Muliadi Saleh (penulis), Sudirman Nasir (peneliti Unhas), Suriani Mappong (Antara) dan Alfian (Tribun Timur), dok: Konjen Australia di Makassar

Sepulang dari Australia, para peserta membawa pulang bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga semangat baru untuk membangun jurnalisme iklim yang lebih relevan bagi masyarakat Indonesia.

Mereka mulai melihat bahwa pelaporan iklim tidak harus selalu dipenuhi narasi bencana, melainkan juga dapat menjadi ruang untuk membangun harapan, kesadaran, dan aksi bersama.

Kolaborasi antara Australia Indonesia Centre, Monash Climate Communication Hub, Universitas Hasanuddin, dan para jurnalis lokal ini menunjukkan bahwa komunikasi iklim membutuhkan kerja kolektif.

Krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi isu sosial, ekonomi, budaya, dan masa depan manusia.

Karena itu, media memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan masyarakat tidak hanya mengetahui ancaman yang datang, tetapi juga memahami jalan keluar yang mungkin dibangun bersama.