- Impor kakao Indonesia tidak hanya berasal dari Ghana dan Pantai Gading. Pada 2024, pemasok terbesar justru berasal dari Ekuador, disusul oleh Pantai Gading, Papua Nugini, Malaysia, dan Nigeria.
- Pantai Gading sendiri mengirimkan sekitar 18,9 juta kilogram atau hampir 19 ribu ton biji kakao ke Indonesia dengan nilai mendekati US$100 juta, menegaskan perannya sebagai salah satu pemasok utama bagi industri dalam negeri.
PELAKITA.ID – “Cobaki periksa, berapa nilai dan volume impor kakao kita, kak.” Begitu komentar Ical Red Corner saat penulis cerita tentang coklat yang dia tawarkan untuk dikunyah, untuk dites. Dia tahu kalau saya pernah sebagai Farmer Organization Specialis untuk ACDI/VOCA dukungan Usaid tahun 2004-2005.
Lupakan Dollar, mari simak ini dulu.
Bagi banyak orang, fakta ini terdengar janggal. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia. Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah, selama puluhan tahun menjadi jantung produksi kakao nasional. Ribuan keluarga petani menggantungkan hidupnya pada komoditas yang menjadi bahan baku utama industri cokelat global tersebut.
Akan tetapi, di tengah reputasi sebagai negara penghasil kakao, Indonesia justru masih mengimpor kakao dalam jumlah besar dari berbagai negara, terutama dari kawasan Afrika Barat seperti Ghana dan Pantai Gading (Côte d’Ivoire). Sekilas, kondisi ini tampak kontradiktif. Mengapa negara yang menghasilkan kakao masih harus mendatangkan kakao dari luar negeri?
Jawabannya justru menggambarkan perubahan besar yang sedang berlangsung dalam struktur ekonomi dan industri kakao Indonesia.
Dari Pengekspor Biji Menjadi Pengolah Kakao
Pada masa lalu, Indonesia lebih dikenal sebagai eksportir biji kakao mentah. Sebagian besar hasil panen petani dikirim ke luar negeri untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti cocoa butter, cocoa powder, cocoa liquor, hingga cokelat siap konsumsi.
Situasi mulai berubah ketika pemerintah mendorong kebijakan hilirisasi industri. Tujuannya sederhana tetapi strategis: Indonesia tidak lagi sekadar menjual bahan mentah, melainkan harus mengambil porsi nilai tambah yang lebih besar dari rantai industri global.
Kebijakan tersebut berhasil menarik investasi besar ke sektor pengolahan kakao. Sejumlah perusahaan multinasional membangun atau memperluas fasilitas pengolahan di Indonesia. Kapasitas industri tumbuh pesat, menjadikan Indonesia salah satu pusat pengolahan kakao terbesar di Asia.
Keberhasilan ini membawa dampak positif. Nilai ekspor produk kakao olahan meningkat, lapangan kerja bertambah, dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global menjadi semakin kuat.
Masalahnya, pertumbuhan kapasitas pabrik berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan produksi kakao nasional.
Dalam satu dekade terakhir, produksi kakao Indonesia justru mengalami tekanan. Banyak tanaman kakao yang sudah tua dan melewati usia produktif. Serangan hama dan penyakit tanaman masih menjadi tantangan serius. Sebagian petani beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Di beberapa wilayah, lahan kakao juga mengalami konversi ke penggunaan lain.
Akibatnya, pasokan biji kakao domestik tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan yang terus berkembang.
Di sinilah akar persoalannya.
Indonesia bukan mengimpor kakao karena tidak mampu menanam kakao. Indonesia mengimpor kakao karena kebutuhan industri pengolahannya jauh lebih besar dibandingkan jumlah kakao yang diproduksi di dalam negeri.
Dengan kata lain, Indonesia sedang menghadapi paradoks industri yang menarik: kapasitas hilirisasi berkembang lebih cepat daripada kapasitas hulunya.
Angka yang Menjelaskan Segalanya
Data perdagangan internasional menunjukkan bahwa pada tahun 2024 Indonesia mengimpor sekitar 157.395 ton biji kakao dengan nilai mencapai sekitar US$1,1 miliar atau setara Rp17–18 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar importir pelengkap dalam perdagangan kakao dunia. Indonesia telah menjadi salah satu pasar penting karena industri pengolahannya membutuhkan pasokan bahan baku yang sangat besar.
Menariknya, sumber impor Indonesia tidak hanya berasal dari Ghana dan Pantai Gading. Ekuador saat ini menjadi salah satu pemasok utama, disusul Pantai Gading, Papua Nugini, Malaysia, Nigeria, dan beberapa negara produsen lainnya.
Meski demikian, Ghana dan Pantai Gading tetap memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global karena kedua negara tersebut merupakan pusat produksi kakao dunia.
Jawabannya sederhana: karena sebagian besar kakao dunia berasal dari sana.
Pantai Gading merupakan produsen kakao terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 40 persen produksi global. Ghana secara tradisional berada di posisi kedua atau ketiga dunia dan dikenal menghasilkan biji kakao berkualitas tinggi dengan standar yang relatif konsisten.
Bagi industri pengolahan, pasokan dari kedua negara ini menawarkan tiga keuntungan utama.
Pertama, volume yang besar dan relatif stabil.
Kedua, kualitas biji yang telah menjadi standar industri cokelat internasional.
Ketiga, sistem perdagangan dan logistik yang sudah terintegrasi dengan pasar global selama puluhan tahun.
Ketika pabrik-pabrik pengolahan di Indonesia membutuhkan tambahan ratusan ribu ton bahan baku setiap tahun, Afrika Barat menjadi salah satu sumber pasokan yang paling masuk akal secara ekonomi.
Tidak Semua Kakao Memiliki Karakter yang Sama
Ada alasan lain yang sering luput dari perhatian publik.
Dalam industri cokelat, tidak semua kakao dianggap sama. Seperti halnya kopi dari Toraja memiliki karakter berbeda dengan kopi dari Ethiopia atau Brazil, kakao dari Sulawesi juga memiliki profil rasa yang berbeda dengan kakao dari Ghana maupun Pantai Gading.
Perusahaan-perusahaan cokelat global umumnya melakukan blending atau pencampuran berbagai asal kakao untuk memperoleh rasa, aroma, tekstur, dan konsistensi tertentu.
Kakao Ghana dikenal memiliki kualitas fermentasi yang baik dan cita rasa yang relatif seragam. Sementara kakao Indonesia memiliki karakteristik tersendiri yang disukai untuk aplikasi tertentu.
Karena itu, impor kakao tidak semata-mata dilakukan untuk menambah volume pasokan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan kualitas dan spesifikasi produk yang berbeda.
Jika dicermati lebih dalam, impor kakao Indonesia sesungguhnya merupakan konsekuensi dari sebuah keberhasilan.
Indonesia berhasil membangun industri pengolahan yang kuat. Kita tidak lagi hanya menjual biji kakao mentah, tetapi juga mengekspor berbagai produk olahan bernilai tinggi ke pasar dunia.
Akan tetapi, keberhasilan tersebut melahirkan ketergantungan baru terhadap bahan baku impor.
Dulu Indonesia bergantung pada pabrik-pabrik luar negeri untuk mengolah kakao. Kini Indonesia memiliki pabrik sendiri, tetapi sebagian bahan bakunya harus didatangkan dari negara lain.
Paradoks inilah yang sedang dihadapi industri kakao nasional.
Tantangan Besar di Masa Depan
Ketergantungan terhadap pasokan dari Afrika Barat juga menyimpan risiko yang tidak kecil.
Perubahan iklim, cuaca ekstrem, serangan penyakit tanaman, gangguan logistik, hingga gejolak geopolitik dapat memengaruhi produksi kakao di Ghana dan Pantai Gading. Ketika produksi mereka terganggu, harga kakao dunia melonjak dan industri pengolahan di Indonesia ikut merasakan dampaknya.
Beberapa tahun terakhir menjadi bukti nyata. Produksi kakao di Afrika Barat mengalami tekanan akibat cuaca ekstrem dan penyakit tanaman, sehingga harga kakao global mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Artinya, hujan yang terlambat turun di Ghana atau gagal panen di Pantai Gading dapat berpengaruh terhadap biaya produksi industri cokelat di Indonesia.
Dunia saat ini semakin terhubung dalam satu rantai pasok global yang saling bergantung.
Jalan Keluar: Menghidupkan Kembali Kebun Kakao Nasional
Pelajaran terbesar dari kisah ini adalah bahwa masa depan industri kakao Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada hilirisasi.
Perhatian yang sama besar harus diberikan kepada sektor hulu, terutama petani.
Program peremajaan tanaman, penyediaan bibit unggul, peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan petani, perbaikan kualitas pascapanen, serta regenerasi petani muda menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.
Sulawesi yang selama ini menjadi tulang punggung kakao nasional memiliki potensi besar untuk kembali menjadi pusat kebangkitan kakao Indonesia.
Jika produktivitas kebun dapat ditingkatkan secara signifikan, Indonesia tidak hanya mampu mempertahankan posisi sebagai pusat pengolahan kakao Asia, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.
Kisah impor kakao Indonesia seperti diceritakan Ical itu, bukanlah cerita tentang kegagalan.
Ini adalah cerita tentang sebuah negara yang sedang naik kelas dalam rantai nilai global. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa keberhasilan industri hilir berjalan seiring dengan kebangkitan sektor hulu.
Sampai saat itu terwujud, kapal-kapal pengangkut kakao dari Afrika Barat akan terus berlabuh di pelabuhan Indonesia.
Sebuah ironi yang menarik sekaligus pelajaran penting: negeri penghasil kakao masih mengimpor kakao, bukan karena kekurangan tanah atau petani, melainkan karena industrinya telah tumbuh lebih cepat daripada kemampuan kebunnya menyediakan bahan baku.









