- Saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas. Pendidikan juga tentang keberanian menghadapi kesulitan tanpa menyerah.
- Salah satu sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya adalah Abdi Suhufan, yang kini dikenal sebagai Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan serta Koordinator Nasional DFW Indonesia. Dari beliau saya belajar bahwa pengetahuan harus dibarengi keberanian untuk terlibat dalam perubahan.
Oleh: Jawadin
PELAKITA.ID – Saya lahir di sebuah keluarga petani sederhana di wilayah Buton–Muna, Sulawesi Tenggara. Tidak ada yang istimewa dari latar belakang saya.
Saya bukan anak pejabat, bukan pula berasal dari keluarga berada. Saya hanyalah seorang anak kampung yang tumbuh di tengah ladang, debu jalan desa, dan kehidupan yang mengajarkan arti bertahan sejak usia dini.
Mungkin karena itulah saya memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Ketika anak-anak lain masih merasakan hangatnya pelukan ayah dan ibu, saya harus menerima kenyataan yang berbeda. Saya kehilangan kedua orang tua pada usia yang masih sangat muda.
Kepergian mereka meninggalkan luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi hingga hari ini. Namun Tuhan menghadirkan pengganti yang luar biasa dalam hidup saya: nenek dan kakek.
Merekalah yang mengambil alih peran sebagai orang tua. Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, keduanya merawat, membesarkan, dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang.
Saya masih mengingat bagaimana mereka berangkat ke kebun sejak pagi, bekerja hingga sore, lalu pulang dengan tubuh lelah demi memastikan cucunya tetap bisa makan dan bersekolah.
Dari mereka saya belajar bahwa cinta tidak selalu diucapkan dengan kata-kata. Kadang cinta hadir dalam bentuk tangan yang kasar karena bekerja, pakaian yang sederhana, dan pengorbanan yang tak pernah diceritakan.
Ketika Mimpi Terasa Terlalu Mahal
Setelah lulus SMA, saya memiliki satu keinginan sederhana: kuliah.
Namun bagi keluarga petani seperti kami, kuliah bukan perkara mudah. Biayanya terasa begitu besar, sementara kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas. Ada masa ketika saya hampir percaya bahwa pendidikan tinggi hanya diperuntukkan bagi mereka yang lahir lebih beruntung.
Tetapi setiap kali keraguan datang, nenek dan kakek selalu memberi semangat. “Kalau kamu ingin sekolah, lanjutlah. Kejar cita-citamu. Kami akan berusaha semampu kami,” kata mereka.
Kalimat sederhana itu menjadi bekal yang saya pegang erat.
Dengan penuh keyakinan, saya mendaftarkan diri ke Universitas Halu Oleo di Kendari. Perjuangan sesungguhnya justru dimulai setelah diterima sebagai mahasiswa. Saya harus mencari cara agar bisa tetap bertahan di bangku kuliah.
Saya bekerja sambil belajar.
Saya pernah menjadi buruh kapal, membantu pekerjaan di pelabuhan, mengangkat barang, dan ikut berlayar pada kapal rute Kendari–Baubau untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Kadang tubuh terasa sangat lelah, tetapi saya tahu tidak ada pilihan selain terus berjalan.
Saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas. Pendidikan juga tentang keberanian menghadapi kesulitan tanpa menyerah.
Menemukan Dunia yang Lebih Luas
Setelah menyelesaikan kuliah, jalan hidup membawa saya ke Jakarta. Kota itu mempertemukan saya dengan banyak orang hebat yang memperluas cara pandang saya tentang Indonesia.
Salah satu sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya adalah Abdi Suhufan, yang kini dikenal sebagai Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan serta Koordinator Nasional DFW Indonesia.
Dari beliau saya belajar bahwa pengetahuan harus dibarengi keberanian untuk terlibat dalam perubahan.
Kesempatan besar kemudian datang ketika saya bergabung dalam misi Kapal Pinisi Nusantara. Bersama kapal itu saya menyusuri berbagai wilayah Indonesia, mengunjungi komunitas pesisir, dan terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan serta kampanye isu kelautan dan perikanan.
Perjalanan tersebut menjadi sekolah kehidupan yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah.
Saya melihat sendiri bagaimana masyarakat pesisir bertahan hidup dari laut. Saya mendengar kisah nelayan yang berjuang menghadapi cuaca buruk, keterbatasan fasilitas, hingga ketidakadilan dalam rantai ekonomi perikanan.
Saat itulah saya mulai memahami bahwa laut bukan sekadar bentang alam. Laut adalah sumber kehidupan bagi jutaan orang.
Belajar dari Kepulauan Aru
Pengalaman yang paling mengubah cara pandang saya datang ketika saya dipercaya menjadi fasilitator program penanganan Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUUF) di Dobo, Kepulauan Aru, Maluku.
Di sana saya tidak hanya datang sebagai pendamping program.
Saya hidup bersama masyarakat.
Saya mendengar cerita mereka setiap hari. Saya melihat bagaimana mereka menghadapi berbagai persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Saya belajar memahami kehidupan dari sudut pandang mereka.
Di Kepulauan Aru saya menemukan pelajaran penting tentang pengabdian.
Saya menyadari bahwa perubahan tidak lahir dari instruksi atau proyek semata. Perubahan lahir ketika kita mau mendengar, memahami, dan berjalan bersama masyarakat.
Mencari Makna Pengabdian
Setelah program di Aru selesai, saya kembali ke dunia akademik. Saya sempat bekerja sebagai staf di kampus kelautan dan perikanan di Buton, kemudian menjadi tenaga honorer di Dinas Perikanan Kabupaten Buton.
Saya berharap bisa berkontribusi bagi pembangunan sektor perikanan dari dalam sistem.
Namun semakin lama saya menyadari bahwa panggilan hidup saya berada di tempat lain.
Saya kemudian merantau ke Morowali dan bekerja di lingkungan industri pertambangan nikel. Pengalaman itu memberi banyak pelajaran tentang dunia kerja, industri, dan pembangunan ekonomi.
Tetapi ada sesuatu yang terus memanggil saya. Saya merindukan kehidupan masyarakat pesisir. Saya merindukan percakapan-percakapan sederhana dengan nelayan. Saya merindukan pekerjaan yang membuat saya merasa dekat dengan orang-orang yang sedang berjuang.
Kembali ke Tengah Pekerja Perikanan
Akhirnya saya memilih kembali.
Saya mulai mendatangi pelabuhan-pelabuhan perikanan, berbincang dengan awak kapal, buruh bongkar muat, dan para pekerja sektor perikanan. Semakin banyak saya mendengar, semakin saya memahami betapa banyak persoalan yang mereka hadapi. Ada upah yang tidak dibayarkan. Ada jam kerja yang berlebihan. Ada kecelakaan kerja yang tidak mendapatkan perlindungan.
Ada pekerja yang bertahun-tahun bekerja tanpa kepastian hak.
Banyak dari mereka bekerja jauh dari sorotan publik. Mereka menopang industri perikanan nasional, tetapi suara mereka nyaris tidak terdengar.
Dari situlah saya menemukan alasan baru untuk terus bergerak.
Saya mulai terlibat dalam upaya mengorganisir pekerja perikanan, membangun solidaritas, memperkuat kesadaran akan hak-hak ketenagakerjaan, serta memperjuangkan perlindungan yang lebih adil bagi mereka.
Alasan untuk Terus Berjalan
Ketika menoleh ke belakang, saya sering merasa takjub melihat jalan hidup yang telah saya lalui. Dari ladang-ladang sederhana di Buton–Muna. Dari rumah nenek dan kakek yang penuh cinta.
Dari pelabuhan-pelabuhan tempat saya bekerja sambil kuliah.
Dari perjalanan panjang menyusuri Nusantara dengan Kapal Pinisi. Dari masyarakat Kepulauan Aru yang mengajarkan arti pengabdian. Dari ruang-ruang kampus, kantor pemerintahan, hingga kawasan industri Morowali. Semua perjalanan itu akhirnya membawa saya kembali kepada satu hal yang paling penting: manusia.
Saya mungkin bukan anak pejabat. Saya bukan berasal dari keluarga kaya. Saya hanyalah seorang anak petani yang dibesarkan oleh dua orang tua pengganti yang luar biasa.
Tetapi dari mereka saya belajar bahwa kehidupan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki. Kehidupan diukur dari keberanian untuk terus melangkah, meski keadaan tidak selalu berpihak kepada kita.
Dari ladang sederhana di Buton–Muna saya belajar bermimpi. Dari kehilangan saya belajar bertahan. Dari masyarakat pesisir saya belajar mengabdi.
Dari perjuangan para pekerja perikanan saya menemukan alasan untuk terus berjalan, memperjuangkan keadilan, dan menyuarakan mereka yang selama ini belum cukup didengar.
___
Editor Kamaruddin Azis









