Mustamin Raga | Tersandera

  • Whatsapp
Ilustrasi

Bayangkan seorang anggota legislatif yang dipilih rakyat melalui proses demokrasi. Rakyat berharap ia menjadi suara mereka, menjadi mata mereka, sekaligus menjadi hati nurani mereka dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Namun karena kesalahan yang pernah dilakukannya sendiri, ia menjadi tersandera.

Oleh: Mustamin Raga

PELAKITA.ID – Ada orang yang dipenjara oleh tembok. Ada yang dikurung oleh jeruji. Ada yang dibelenggu oleh rantai. Ada pula yang kehilangan kebebasannya karena pintu sel terkunci.

Nasib mereka mudah dikenali karena masyarakat dapat melihat kurungan yang menahan mereka dan dunia dapat menyaksikan batas-batas yang membelenggu langkah mereka.

Tetapi ada penjara lain yang jauh lebih tersembunyi. Jauh lebih rahasia. Dan jauh lebih mengerikan. Penjara itu tidak memiliki dinding, tidak memiliki jeruji, tidak memiliki gembok, dan tidak memiliki sipir.

Penghuninya dapat berjalan ke mana saja, berbicara di hadapan banyak orang, menduduki jabatan tinggi, memegang kekuasaan besar, bahkan menentukan nasib jutaan manusia. Mereka tampak bebas di hadapan dunia. Padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang TERSANDERA.

Mereka tidak lagi dipimpin oleh hati nurani, melainkan oleh ketakutan. Mereka tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan apa yang benar, melainkan berdasarkan apa yang aman bagi dirinya.

Mereka tidak lagi bertanya, “Apa yang seharusnya saya lakukan?”

Mereka bertanya, “Apa yang harus saya lakukan agar rahasia saya tidak dibuka?” Di situlah seorang manusia mulai menjadi TERSANDERA.

Bukan karena rantai yang mengikat tangannya, melainkan karena kesalahan yang mengikat jiwanya. Bukan karena ada pintu yang mengurung tubuhnya, melainkan karena ada ketakutan yang mengurung kemerdekaannya.

Manusia sejatinya dilahirkan sebagai makhluk merdeka. Ia diberi akal untuk menimbang, hati nurani untuk membedakan benar dan salah, serta kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Namun tidak semua orang mampu menjaga kemerdekaan itu.

Sebagian menjualnya, sebagian menggadaikannya, dan sebagian lagi kehilangannya karena kesalahan yang pernah mereka lakukan sendiri.

Kesalahan yang ditutupi, pelanggaran yang disembunyikan, kebohongan yang dipelihara, dan rahasia yang dijaga mati-matian lambat laun berubah menjadi rantai yang tidak terlihat tetapi mengikat, tidak terdengar tetapi menghantui, tidak tampak tetapi mengendalikan.

Sejak saat itu hidup mereka tidak lagi dipimpin oleh keberanian. Mereka dipimpin oleh rasa takut. Dan rasa takut adalah penjara yang paling efektif untuk membunuh kemerdekaan manusia.

Masalah menjadi jauh lebih serius ketika keadaan TERSANDERA menimpa pejabat publik. Karena pada titik itu yang menjadi korban bukan lagi satu orang.

Yang menjadi korban adalah rakyat, yang dirugikan adalah keadilan, dan yang dipermainkan adalah masa depan bangsa.

Tersandera seorang pejabat tidak pernah berhenti sebagai masalah pribadi. Ia selalu menjelma menjadi masalah publik. Sebab setiap keputusan yang diambilnya menyentuh kehidupan banyak orang.

Ketika keputusan itu lahir bukan dari hati nurani, melainkan dari ketakutan, maka rakyatlah yang akhirnya membayar harganya.

Bayangkan seorang anggota legislatif yang dipilih rakyat melalui proses demokrasi. Rakyat berharap ia menjadi suara mereka, menjadi mata mereka, sekaligus menjadi hati nurani mereka dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Namun karena kesalahan yang pernah dilakukannya sendiri, ia menjadi tersandera.

Mungkin ada pelanggaran hukum yang disimpannya rapat-rapat, transaksi gelap yang diketahui pihak lain, atau jejak masa lalu yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menjatuhkannya.

Sejak saat itu kursi yang didudukinya tidak lagi sepenuhnya menjadi kursi rakyat, melainkan kursi ketakutan.

Ia masih berbicara atas nama rakyat, tetapi sesungguhnya sedang bernegosiasi dengan rasa takutnya sendiri.

Ketika sebuah kebijakan harus dipilih, ia tidak lagi mendengar suara konstituen. Ia mendengar bisikan ancaman.

Ketika sebuah keputusan harus diambil, ia tidak lagi bertanya apa yang baik bagi masyarakat, melainkan siapa yang harus dipuaskan agar dirinya tetap aman.

Pada saat itulah pengkhianatan terhadap rakyat dimulai. Bukan karena ia tidak memahami persoalan atau tidak memiliki kecerdasan, tetapi karena ia tidak lagi merdeka.

Ketika anggota dewan menjadi tersandera, yang pertama kali mati adalah fungsi pengawasan. Rapat tetap berlangsung, palu sidang tetap diketuk, dan pidato tetap menggema. Namun substansinya perlahan menghilang.

Ia mungkin mengetahui adanya penyimpangan anggaran, memiliki data, bahkan memegang bukti. Namun ia memilih diam karena orang yang sedang diawasi juga memegang rahasia tentang dirinya.

Akhirnya pengawasan berubah menjadi sandiwara. Rakyat mengira wakilnya sedang berjuang, padahal yang terjadi hanyalah transaksi diam-diam antara orang-orang yang saling menyandera.

Dana publik bocor tanpa pengawasan. Program pembangunan kehilangan arah. Proyek-proyek bermasalah terus berjalan. Dan rakyat tidak pernah tahu bahwa uang mereka sesungguhnya sedang dikorbankan di altar ketakutan para wakilnya sendiri.

Di cabang eksekutif, tragedi yang sama dapat terjadi. Seorang wali kota mengetahui siapa bawahannya yang merusak organisasi.

Seorang bupati mengetahui siapa yang memperjualbelikan jabatan. Seorang gubernur mengetahui siapa yang mencederai etika birokrasi. Namun mereka tidak berani bertindak.

Bukan karena tidak memiliki kewenangan atau kekurangan bukti, melainkan karena orang yang bersalah itu menyimpan rahasia tentang dirinya. Rahasia yang dapat menghancurkan kariernya, meruntuhkan citranya, dan menghilangkan keberaniannya untuk menegakkan disiplin.

Lalu organisasi menjadi sakit. Bukan karena tidak ada aturan, tetapi karena aturan kalah oleh rasa takut.

Dalam keadaan seperti itu, jabatan tidak lagi menjadi alat pelayanan. Jabatan berubah menjadi alat saling menyandera. Atasan menyimpan rahasia bawahan, bawahan menyimpan rahasia atasan, dan birokrasi perlahan berubah menjadi ruang kompromi yang dipenuhi ketakutan.

Pegawai yang jujur kehilangan semangat. Pegawai yang profesional merasa tidak dihargai. Mereka melihat bahwa pelanggaran tidak dihukum, kesalahan tidak ditindak, dan penyimpangan tidak dikoreksi. Sebaliknya, mereka yang memiliki kartu truf justru aman dan nyaman.

Perlahan-lahan pesan yang diterima organisasi menjadi sangat jelas: bukan integritas yang melindungi Anda, melainkan rahasia yang Anda miliki terhadap orang lain.

Dari sanalah meritokrasi mati. Promosi jabatan tidak lagi berdasarkan kompetensi. Mutasi tidak lagi berdasarkan kebutuhan organisasi.

Keputusan tidak lagi berdasarkan kepentingan publik. Orang-orang terbaik tersingkir, sementara mereka yang pandai menjaga jaringan perlindungan justru naik ke posisi strategis.

Masyarakat mungkin tidak melihat proses itu, tetapi mereka merasakan akibatnya setiap hari ketika mengurus izin yang berbelit-belit, menghadapi pelayanan yang lamban, menyaksikan proyek yang cepat rusak, atau melihat pembangunan yang mahal tetapi tidak berkualitas.

Namun puncak tragedi terjadi ketika tersandera memasuki ruang pengadilan. Tempat yang seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan. Tempat di mana manusia mencari perlindungan ketika hak-haknya dirampas. Tempat di mana kebenaran seharusnya berdiri lebih tinggi daripada kekuasaan.

Bayangkan seorang hakim yang harus menjatuhkan putusan. Di atas mejanya tertulis kalimat yang agung: “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Tetapi di dalam hatinya bergemuruh ketakutan.

Ada rahasia masa lalu yang diketahui pihak yang sedang berperkara. Ada kesalahan yang pernah dilakukan. Ada noda yang selama ini disembunyikan. Ada ancaman yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan dirinya dan keluarganya.

Maka putusan yang lahir bukan lagi hasil dialog antara hukum dan hati nurani. Putusan lahir dari negosiasi dengan rasa takut. Dan ketika hakim kehilangan kemerdekaannya, hukum kehilangan martabatnya.

Konsekuensinya jauh lebih besar daripada nasib satu perkara. Yang bersalah dapat dibebaskan, yang benar dapat dikalahkan, dan yang lemah dapat dikorbankan.

Ketika rakyat kehilangan kepercayaan kepada pengadilan, mereka mulai mencari jalan lain. Sebagian memilih diam meski dizalimi.

Sebagian memilih menyuap. Sebagian memilih menggunakan koneksi. Sebagian bahkan memilih kekerasan. Karena mereka tidak lagi percaya bahwa hukum mampu melindungi mereka.

Padahal peradaban berdiri di atas keyakinan bahwa sengketa harus diselesaikan oleh hukum, bukan oleh kekuatan. Ketika keyakinan itu runtuh, yang lahir adalah kekacauan.

Pada akhirnya, yang tersandera bukan hanya para pejabat itu sendiri. Yang tersandera adalah anggaran pendidikan yang tidak sampai kepada murid.

Yang tersandera adalah pelayanan kesehatan yang tidak kunjung membaik.

tersanderaadalah petani yang menunggu irigasi. Yang tersandera adalah nelayan yang menunggu perlindungan. Yang tersandera adalah pencari keadilan yang bertahun-tahun menunggu putusan. Yang tersandera adalah kesempatan kerja yang tidak pernah lahir.

Yang tersandera adalah harapan rakyat kecil yang setiap hari menggantungkan hidupnya pada keputusan para pemegang kekuasaan.

Ketika para pengambil keputusan hidup dalam keadaan tersandera, sesungguhnya seluruh bangsa ikut tersandra bersama mereka.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar. Tidak hanya membutuhkan pejabat yang pandai berbicara. Tidak hanya membutuhkan pemimpin yang hebat membangun citra.

Bangsa ini membutuhkan manusia-manusia merdeka. Manusia yang tidak dapat dibeli, tidak dapat diancam, tidak dapat disandera, dan tidak dapat dipaksa mengkhianati hati nuraninya.

Karena hanya orang yang merdeka yang mampu menegakkan keadilan. Dan hanya keadilan yang ditegakkan oleh manusia-manusia merdeka yang dapat melahirkan peradaban yang bermartabat.

Sebab di mana para pengambil keputusan hidup dalam keadaan TERSANDERA, di sana kejujuran terblokade, kejernihan kehilangan jalan, dan keberanian perlahan menghilang.

Di sana keadilan berubah menjadi sandiwara yang dimainkan oleh orang-orang yang sama-sama takut membuka rahasia satu sama lain.

Mereka tampak berkuasa. Mereka tampak menentukan nasib banyak orang. Mereka tampak bebas.

Padahal sesungguhnya mereka hanyalah para tawanan yang duduk di kursi-kursi kekuasaan.

Dan, sebuah bangsa akan selalu berada dalam bahaya ketika nasib jutaan rakyat ditentukan bukan oleh orang-orang yang merdeka, melainkan oleh orang-orang yang diam-diam hidup sebagai manusia-manusia yang TERSANDERA.

Menurut saya, struktur ini jauh lebih nyaman dibaca sebagai esai buku: alurnya mengalir, tidak terlalu terputus-putus, tetapi masih mempertahankan kalimat-kalimat pendek yang berfungsi sebagai penekanan emosional.

____
Bengkel Catur, 1 Juni 2026