Muliadi Saleh | Menangisi Literasi Ekologis

  • Whatsapp
Ilustrasi suasana kekeringan oleh Gemini AI

Berbagai kajian menunjukkan bahwa pemberitaan iklim di Indonesia masih minim rujukan ilmiah dan jarang menghadirkan suara para peneliti. Krisis iklim akhirnya lebih sering diperlakukan sebagai peristiwa musiman ketimbang ancaman peradaban.

Makin Lebarnya Jurang antara Cuaca Ekstrem dan Kesadaran Perubahan Iklim

PELAKITA.ID – Langit kini semakin sulit ditebak. Hujan turun di luar musim. Panas terasa lebih membakar. Angin datang seperti amarah yang kehilangan arah. Laut perlahan naik tanpa suara.

Di tengah semua perubahan itu, publik justru hidup dalam pemahaman yang kabur: menganggap cuaca ekstrem sekadar siklus alam biasa, bukan bagian dari krisis iklim yang terus membesar.

Di situlah jurang besar itu menganga.

Jurang antara perubahan iklim dan cara masyarakat memahaminya. Jurang antara fakta ilmiah dan narasi media. Jurang antara kerusakan ekologis dan kesadaran publik.

Selama ini, banyak pemberitaan berhenti pada peristiwa. Banjir hanya disebut banjir. Kekeringan dianggap sekadar musim buruk. Gelombang panas dipahami sebagai cuaca biasa.

Sangat sedikit yang menjelaskan bahwa semua itu saling terhubung dalam rantai panjang perubahan iklim global akibat aktivitas manusia.

Akibatnya, masyarakat tumbuh dalam ruang informasi yang terputus. Mereka melihat bencana, tetapi tidak memahami penyebabnya. Mereka merasakan dampak, tetapi gagal membaca ancamannya.

Ironisnya, di era ketika ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat, komunikasi tentang iklim justru berjalan tertatih-tatih.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa pemberitaan iklim di Indonesia masih minim rujukan ilmiah dan jarang menghadirkan suara para peneliti. Krisis iklim akhirnya lebih sering diperlakukan sebagai peristiwa musiman ketimbang ancaman peradaban.

Media seakan sibuk mengejar dramatisasi bencana, tetapi lalai membangun literasi ekologis.

Padahal, perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan. Ia telah berubah menjadi krisis kemanusiaan. Ketika hasil panen menurun, nelayan kehilangan pola musim, penyakit meningkat akibat suhu ekstrem, hingga harga pangan melonjak, sesungguhnya yang sedang bekerja diam-diam adalah perubahan iklim.

Namun narasi publik kita masih terlalu dangkal untuk membaca hubungan-hubungan itu.

Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi kesadaran justru langka. Algoritma lebih menyukai sensasi daripada penjelasan. Judul viral lebih diprioritaskan daripada kedalaman ilmiah.

Akibatnya, publik lebih mudah panik menghadapi bencana, tetapi tidak cukup tercerahkan untuk memahami akar persoalan.

Inilah yang membuat jurang itu semakin lebar.

Di satu sisi, bumi terus memberi tanda-tanda bahaya. Di sisi lain, manusia gagal menerjemahkan pesan-pesan alam itu menjadi kesadaran kolektif. Kita lebih sibuk memadamkan kebakaran daripada menghentikan sumber apinya.

Padahal tanpa pemahaman yang utuh, masyarakat akan terus hidup dalam siklus kepanikan. Setiap bencana dianggap sebagai kejadian baru, padahal ia bagian dari pola krisis yang terus berulang.

Karena itu, jurnalisme hari ini seharusnya tidak hanya bertugas memberitakan cuaca ekstrem. Ia harus berani menjelaskan hubungan antara kerusakan lingkungan, emisi karbon, eksploitasi alam, dan ancaman yang perlahan bergerak menuju kehidupan manusia.

Pers tidak boleh sekadar menjadi saksi bencana. Ia harus menjadi penjaga kesadaran zaman. Peneguh literasi krisis iklim.

Sebab ketika media gagal menjembatani perubahan iklim dengan realitas cuaca ekstrem, maka yang hilang bukan hanya kualitas informasi. Yang hilang adalah kemampuan masyarakat membaca masa depannya sendiri.

Ancaman terbesar krisis iklim bukan hanya bumi yang semakin panas, melainkan manusia yang tetap dingin terhadap peringatannya.

___
Muliadi Saleh

Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran