Sepenggal Kisah di Empagae: Jejak Kecil dalam Sejarah Besar Swasembada Pangan Indonesia

  • Whatsapp
Ilustrasi suasana desa (dok: Pelakita.ID)

Tiga helikopter mendarat di Bumi Nene Mallomo. Bagi masyarakat Sidrap, kehadiran kepala negara bukan sekadar agenda kenegaraan. Kunjungan tersebut menjadi penanda bahwa apa yang dikerjakan para petani di daerah ini mendapat perhatian langsung dari negara.

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Sejarah sering lahir jauh dari pusat perhatian. Ia tumbuh di hamparan sawah, di sepanjang saluran irigasi, dan di tangan-tangan petani yang bekerja sejak matahari belum terbit.

Karena itu, sebuah kisah sederhana terkadang mampu membuka kembali lembaran sejarah yang nyaris terlupakan.

Kisah itu membawa kita ke tahun 1978, ke Desa Empagae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

Sebuah desa yang mungkin tidak banyak disebut dalam buku-buku sejarah nasional, tetapi menyimpan jejak penting dalam perjalanan Indonesia menuju swasembada pangan.

Pada Maret tahun itu, Presiden Soeharto bersama Ibu Tien Soeharto dan sejumlah menteri melakukan kunjungan kerja ke Sidrap untuk mencanangkan mekanisasi pertanian nasional.

Tiga helikopter mendarat di Bumi Nene Mallomo. Bagi masyarakat Sidrap, kehadiran kepala negara bukan sekadar agenda kenegaraan. Kunjungan tersebut menjadi penanda bahwa apa yang dikerjakan para petani di daerah ini mendapat perhatian langsung dari negara.

Sesungguhnya, pencanangan itu bukanlah awal dari keberhasilan. Ia merupakan pengakuan atas sebuah proses panjang yang telah berlangsung sebelumnya.

Jauh sebelum rombongan Presiden tiba, para petani Sidrap telah bergerak lebih dahulu. Mereka mulai meninggalkan pola pengolahan lahan yang sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia dan hewan. Hand tractor dan mini tractor mulai memasuki persawahan. Nama Kubota menjadi begitu akrab di telinga petani. Perlahan tetapi pasti, mekanisasi mengubah wajah pertanian Sidrap.

Pengolahan lahan menjadi lebih cepat, biaya kerja lebih efisien, luas garapan meningkat, dan produktivitas mulai melonjak. Namun mesin bukanlah satu-satunya cerita di balik keberhasilan tersebut.

Di belakangnya berdiri jaringan irigasi yang dibangun secara bertahap dan berkesinambungan. Ketersediaan air memungkinkan petani meningkatkan intensitas tanam. Sawah yang sebelumnya hanya menghasilkan dua musim panen dalam setahun mulai mampu ditanami hingga tiga kali.

Perubahan itu diperkuat oleh hadirnya benih unggul, ketersediaan pupuk yang semakin baik, penyuluhan yang berjalan efektif, serta dukungan sarana produksi yang memadai.

Para petani mengenal prinsip sederhana yang populer saat itu, yakni 3T: tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat cara. Konsep yang tampak sederhana tersebut justru menjadi fondasi keberhasilan budidaya.

Hasilnya sangat mengesankan. Pada lahan beririgasi yang dikelola dengan baik, produktivitas padi mampu mencapai sekitar sembilan ton per hektare, sebuah capaian yang sangat membanggakan pada masanya.

Empagae hanyalah satu titik kecil di peta Indonesia. Namun dari titik-titik kecil semacam itulah sejarah besar sebuah bangsa dibangun.

Kisah ini menjadi semakin hidup melalui penuturan Musyafir Kelana Arifin Nu’mang, mantan Wakil Bupati Sidrap periode 2003–2008. Ia tidak sedang mengulang cerita yang didengarnya dari orang lain. Ia mengisahkan kenangan yang dekat dengan perjalanan hidup keluarganya sendiri.

Saat Presiden Soeharto berkunjung ke Empagae pada tahun 1978, ayahandanya, almarhum H. Arifin Nu’mang, tengah berada di penghujung masa jabatan sebagai Bupati Sidrap setelah memimpin daerah tersebut selama kurang lebih dua belas tahun sejak 1966.

Persiapan kunjungan Presiden berlangsung sangat ketat. Koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, Kodam, aparat keamanan, dan berbagai unsur terkait dilakukan hampir setiap hari. Kunjungan Presiden bukan hanya soal seremoni, melainkan menyangkut keamanan negara sekaligus keberhasilan sebuah agenda nasional yang sangat strategis.

Di tengah kesibukan itu, sebuah musibah sempat terjadi.

Dalam perjalanan dari Makassar menuju Sidrap, mobil dinas Bupati mengalami kecelakaan di ruas jalan Maros–Makassar. Kendaraan tersebut bertabrakan dengan sebuah truk yang mengangkut mini tractor Kubota yang akan digunakan dalam demonstrasi mekanisasi pertanian di hadapan Presiden.

Takdir seakan sedang menulis ironi dengan caranya sendiri. Kendaraan yang membawa kepala daerah bertabrakan dengan kendaraan yang membawa simbol modernisasi pertanian yang hendak diresmikan.

Beruntung, seluruh penumpang selamat. Setelah menjalani perawatan singkat di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, almarhum H. Arifin Nu’mang kembali bertugas untuk memastikan seluruh persiapan berjalan sebagaimana mestinya.

Peristiwa itu sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak pernah lahir dari kerja satu pihak. Pemerintah, petani, penyuluh, akademisi, dan pelaku usaha menjadi bagian dari ekosistem yang saling menopang. Kehadiran H. Kalla sebagai distributor mini tractor Kubota ketika itu merupakan salah satu bagian dari kolaborasi besar yang mendorong mekanisasi pertanian Indonesia.

Ada pula kisah kecil yang memperlihatkan betapa seriusnya sebuah kunjungan kenegaraan dipersiapkan.

Sekitar sepuluh hari sebelum kedatangan Presiden, Rumah Jabatan Bupati dikosongkan sementara dan dijadikan area protokoler kenegaraan. Sebuah paviliun khusus dibangun sebagai tempat beristirahat Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto.

Menjelang keberangkatan rombongan Presiden, sempat terjadi kepanikan kecil. Tas tangan Ibu Tien Soeharto ternyata tertinggal di paviliun. Ajudan Presiden saat itu, Kolonel Tri Sutrisno—yang kelak menjadi Panglima ABRI dan Wakil Presiden Republik Indonesia—diceritakan berlari menuju paviliun untuk mengambilnya sebelum helikopter lepas landas.

Bagi sebagian orang, kisah-kisah seperti ini mungkin hanya terdengar sebagai nostalgia. Padahal sesungguhnya ia merupakan potongan mozaik sejarah yang memperlihatkan bagaimana sebuah bangsa bekerja dan bertumbuh.

Ketika Indonesia memperoleh pengakuan dunia atas keberhasilan swasembada beras pada tahun 1984, banyak orang melihatnya sebagai capaian yang datang begitu saja. Padahal keberhasilan itu tidak lahir dalam semalam. Ia bukan hasil satu musim tanam. Ia juga bukan hasil satu kebijakan tunggal.

Keberhasilan tersebut merupakan buah dari proses panjang yang dijalankan melalui tahapan pembangunan yang dikenal sebagai PELITA. Ada pembangunan irigasi, intensifikasi pertanian, mekanisasi, penyuluhan, dukungan sarana produksi, dan kesinambungan kebijakan yang dijaga dari waktu ke waktu.

Yang paling menentukan adalah konsistensi.

Di situlah letak pelajaran terbesarnya.

Hari ini, ketika Indonesia kembali berbicara tentang swasembada pangan, ketahanan pangan, dan kedaulatan pangan, sesungguhnya bangsa ini tidak sedang memulai dari titik nol. Kita sedang melanjutkan perjalanan panjang yang telah dirintis oleh generasi-generasi sebelumnya.

Tantangan memang telah berubah. Jika dahulu fokus utama adalah meningkatkan produksi, kini kita menghadapi perubahan iklim, alih fungsi lahan, regenerasi petani, digitalisasi pertanian, hingga ketidakpastian geopolitik global.

Meski demikian, ada satu hal yang tetap sama: bangsa ini akan selalu membutuhkan pangan. Dan pangan selalu membutuhkan perencanaan jangka panjang.

Menghormati sejarah bukan berarti hidup di masa lalu. Menghormati sejarah berarti mengambil pelajaran terbaik darinya untuk menjawab tantangan masa kini.

Empagae mengajarkan bahwa keberhasilan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari saluran irigasi yang dibangun setahap demi setahap. Dari mesin yang mulai diperkenalkan. Dari petani yang bersedia mencoba cara baru. Dari kebijakan yang dijalankan secara konsisten. Dari pemimpin yang mampu berpikir jauh melampaui zamannya.

Jejak-jejak kecil itulah yang kemudian bertemu, saling menguatkan, dan pada akhirnya membentuk sejarah besar.

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan hari ini, mungkin itulah pesan yang paling layak kita renungkan: tidak ada ketahanan pangan yang dibangun secara instan. Tidak ada swasembada yang lahir dari slogan. Tidak ada kemajuan yang tumbuh tanpa kesabaran, ketekunan, dan kesinambungan.

Pembangunan bangsa pada hakikatnya adalah sebuah estafet panjang. Setiap generasi menerima tongkat dari generasi sebelumnya, lalu meneruskannya kepada generasi yang akan datang.

Di antara mata rantai estafet itu, Empagae akan selalu dikenang sebagai sebuah jejak kecil dalam sejarah besar swasembada pangan Indonesia.