Mereka semestinya menjadi fasilitator kesadaran: membantu masyarakat membaca hubungan antara kebiasaan sehari-hari dengan dampak ekologis jangka panjang.
PELAKITA.ID – Ada satu pertanyaan yang sering luput ketika kita membicarakan sampah di pesisir: kapan sebenarnya masyarakat mulai sadar bahwa lingkungan mereka sedang berubah?
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan cara kita memahami persoalan.
Sebab selama ini, diskusi tentang sampah sering dimulai dari tumpukan plastik, laut yang kotor, atau kebiasaan warga yang dianggap tidak disiplin.
Padahal sebelum semua itu, ada perubahan cara hidup yang perlahan berlangsung di masyarakat—dan tidak selalu mereka sadari.
Sebagai seseorang yang cukup lama bergelut dalam program-program community development, saya melihat bahwa persoalan sampah bukan pertama-tama soal kurangnya tempat sampah atau minimnya sosialisasi.
Ia berhubungan dengan cara pandang manusia terhadap lingkungannya, terhadap laut, terhadap ruang hidup yang selama puluhan bahkan ratusan tahun diwarisi dengan pola tertentu.
Di kawasan pesisir seperti Takalar, atau bahkan di pulau-pulau beranda Makassar, misalnya, membuang sesuatu ke laut dahulu bukanlah tindakan yang otomatis dianggap salah. Laut dipahami sebagai ruang besar yang menyerap dan mengurai kehidupan.
Sampah yang dibuang pun sebagian besar berupa bahan organik: daun pembungkus ikan, daun jati, sisa makanan, potongan kayu, atau bahan lain yang mudah terurai.
Dalam konteks itu, perilaku membuang “sampah” ke laut tidak menimbulkan krisis ekologis seperti hari ini. Alam masih mampu menyerapnya. Laut tetap membersihkan dirinya sendiri.
Masalah muncul ketika dunia berubah, tetapi cara pandang lama tetap bertahan.
Kini, benda-benda yang dilempar ke laut bukan lagi sekadar bahan organik. Plastik, styrofoam, popok sekali pakai, kemasan industri, dan berbagai material yang tidak mudah terurai menggantikan benda-benda lama. Namun secara sosial, sebagian masyarakat masih menggunakan logika lama terhadap benda baru.
Mereka memperlakukan plastik seolah-olah ia memiliki sifat yang sama dengan daun pembungkus ikan di masa lalu.
Di situ, persoalan sampah menjadi lebih kompleks daripada sekadar perilaku individu.
Kita sedang berhadapan dengan keterlambatan kesadaran terhadap perubahan ekologis. Ada jarak antara perubahan material yang berlangsung cepat dengan perubahan cara berpikir yang berjalan jauh lebih lambat.
Pertanyaannya kemudian: siapa yang membantu masyarakat membaca perubahan itu?
Apakah masyarakat harus menunggu pihak luar untuk memberi tahu bahwa ekosistem mereka sedang berubah? Bahwa laut yang dulu mampu mengurai sampah organik kini mulai menumpuk plastik yang tak pernah benar-benar hilang?
Atau justru persoalannya adalah tidak adanya ruang bersama untuk memahami perubahan tersebut secara kolektif?
Di sinilah peran berbagai pihak menjadi penting. LSM, media, peneliti kampus, pemerintah desa, komunitas lokal, hingga tokoh masyarakat sesungguhnya bukan sekadar “penyuluh” yang datang membawa larangan.
Mereka semestinya menjadi fasilitator kesadaran: membantu masyarakat membaca hubungan antara kebiasaan sehari-hari dengan dampak ekologis jangka panjang.
Karena kesadaran ekologis tidak lahir hanya dari slogan “jangan buang sampah sembarangan.” Kesadaran tumbuh ketika orang memahami mengapa sesuatu yang dahulu dianggap biasa kini menjadi berbahaya.
Pendekatan semacam ini penting agar masyarakat tidak merasa sedang disalahkan atas perubahan yang sebenarnya juga diproduksi oleh sistem yang lebih besar: industri plastik, pola konsumsi modern, distribusi barang sekali pakai, hingga absennya tata kelola sampah yang memadai.
Artinya, masyarakat pesisir tidak bisa diposisikan hanya sebagai pelaku masalah. Mereka juga adalah kelompok yang sedang beradaptasi terhadap perubahan zaman yang datang sangat cepat.
Karena itu, penanganan sampah semestinya tidak berhenti pada urusan teknis seperti pengangkutan atau pembersihan pantai. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran baru tentang hubungan manusia dengan lingkungannya.
Kesadaran bahwa laut bukan tempat membuang sisa peradaban modern.
Kesadaran bahwa benda yang kita gunakan sehari-hari memiliki umur ekologis yang jauh lebih panjang daripada umur manfaatnya.
Kesadaran bahwa perubahan lingkungan sering kali tidak terasa sampai dampaknya hadir di depan mata: ikan berkurang, pesisir tercemar, banjir datang lebih sering, atau laut kehilangan daya hidupnya.
Jadi sosodara, persoalan sampah adalah persoalan cara kita membaca perubahan.
Tugas terbesar kita hari ini bukan sekadar membersihkan sampah, tetapi membantu masyarakat memahami bahwa dunia tempat mereka hidup sudah tidak sama lagi dengan dunia yang diwarisi generasi sebelumnya.
___
Tamarunang, 22 Mei 2026









