Sebaran Areal Kopi Barru, dari Lereng Pujananting hingga Perbukitan Tanete Riaja

  • Whatsapp
Ilustrasi Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari dan pemetik kopi (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Kabupaten Barru selama ini lebih dikenal sebagai daerah pesisir yang menghubungkan Kota Makassar dengan kawasan Ajatappareng.

Di balik citra sebagai wilayah maritim tersebut, Barru sesungguhnya menyimpan potensi perkebunan kopi yang cukup menjanjikan, terutama di kawasan perbukitan dan pegunungan yang membentang di bagian timur kabupaten.

Data Kabupaten Barru Dalam Angka 2026 menunjukkan bahwa luas areal tanaman kopi mencapai 1.777 hektar pada tahun 2025, menjadikan kopi sebagai salah satu komoditas perkebunan yang layak mendapat perhatian dalam strategi pengembangan ekonomi pedesaan.

“Kita ada kopi, besar juga, bisa sampai 5 ribu hektar jika ada yang tertarik berinvestasi, atau mengembangkan potensi ini,” kata Bupati Barru saat ditemui di acara CIDES Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, 8 Juni 2026. 

Pujananting, Jantung Produksi Kopi Barru

Kecamatan Pujananting merupakan pusat utama perkebunan kopi di Kabupaten Barru. Dari total luas areal kopi yang ada, sekitar 1.055 hektar atau hampir 60 persen berada di wilayah ini. Produksi kopi Pujananting mencapai 21,8 ton biji kering, menjadikannya penyumbang terbesar produksi kopi Barru.

Secara geografis, wilayah Pujananting memiliki bentang alam perbukitan dengan ketinggian yang relatif lebih sesuai untuk budidaya kopi dibandingkan kawasan pesisir.

Kondisi iklim yang lebih sejuk serta ketersediaan sumber air dari daerah hulu menjadi faktor yang mendukung tumbuhnya tanaman kopi.

Dengan dominasi luas lahan dan produksi tersebut, desa-desa di Kecamatan Pujananting dapat dipandang sebagai sentra utama kopi Barru yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi kawasan agrowisata maupun sentra kopi spesialti di masa depan.

Tanete Riaja, Penyangga Utama Produksi Kopi

Posisi kedua ditempati oleh Kecamatan Tanete Riaja dengan luas perkebunan kopi mencapai 391 hektar. Produksinya tercatat sekitar 3,78 ton, jauh di bawah Pujananting namun tetap menjadi kontributor terbesar kedua di Kabupaten Barru.

Kawasan ini memiliki karakter perbukitan yang cukup luas dengan masyarakat yang masih mempertahankan pola usaha tani berbasis lahan kering.

Apabila dilakukan peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman, penggunaan bibit unggul, dan penguatan pascapanen, Tanete Riaja berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi berbasis kopi di wilayah utara Barru.

Mallusetasi dan Balusu, Potensi yang Belum Tergarap Optimal

Di wilayah barat laut Barru, Mallusetasi memiliki luas areal kopi sekitar 159 hektar, sedangkan Balusu memiliki 101 hektar. Meskipun luas lahannya cukup signifikan, produksi kedua kecamatan ini masih relatif rendah, masing-masing hanya sekitar 0,25 ton dan 0,18 ton.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya ruang besar untuk peningkatan produktivitas.

Rendahnya hasil panen dibandingkan luas lahan mengindikasikan perlunya perhatian terhadap aspek budidaya, peremajaan tanaman, serta pendampingan teknis bagi petani.

Jika produktivitas dapat ditingkatkan, kedua kecamatan ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi sektor kopi Barru.

Soppeng Riaja dan Tanete Rilau, Skala Kecil dengan Peluang Besar

Perkebunan kopi juga ditemukan di Soppeng Riaja dan Tanete Rilau. Luas lahannya masing-masing mencapai 38 hektar dan 33 hektar. Produksi yang dihasilkan memang masih terbatas, yakni sekitar 0,18 ton dan 0,31 ton.

Walaupun skalanya kecil, keberadaan perkebunan kopi di kedua kecamatan ini menunjukkan bahwa komoditas kopi telah menyebar hampir di seluruh wilayah Barru.

Dengan pendekatan pengembangan berbasis desa, kawasan-kawasan ini dapat diarahkan untuk menghasilkan kopi dengan karakter khas tertentu yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan kopi komoditas biasa.

Menunggu Pemetaan Potensi hingga Tingkat Desa

Salah satu tantangan dalam pengembangan kopi Barru adalah belum tersedianya data resmi yang memetakan potensi hingga tingkat desa. Publikasi statistik yang ada masih menyajikan data pada level kecamatan sehingga belum dapat diketahui secara rinci desa-desa mana yang menjadi pusat produksi kopi.

Meski demikian, dapat diasumsikan bahwa desa-desa yang berada di wilayah pegunungan dan perbukitan Kecamatan Pujananting, Tanete Riaja, Mallusetasi, Balusu, Soppeng Riaja, dan Tanete Rilau merupakan kantong-kantong produksi kopi yang perlu mendapat perhatian.

Pemetaan lebih detail akan membantu pemerintah daerah, pelaku usaha, dan kelompok tani dalam merancang strategi pengembangan yang lebih tepat sasaran.

Dari Komoditas ke Identitas Daerah

Total produksi kopi Barru yang mencapai sekitar 26,56 ton biji kering memang belum tergolong besar dibandingkan sentra kopi utama di Sulawesi Selatan.

Luas lahan yang mencapai hampir 1.800 hektar menunjukkan bahwa Barru memiliki modal dasar yang kuat untuk mengembangkan industri kopi yang lebih bernilai.

Jika pengembangan dilakukan secara terintegrasi—mulai dari budidaya, pengolahan pascapanen, branding, hingga pemasaran—kopi Barru tidak hanya akan menjadi komoditas perkebunan, melainkan juga identitas daerah yang mampu menggerakkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Barru dalam peta kopi Sulawesi Selatan.

Penulis Denun