Melampaui APBD: Apa yang Dilihat Kemendagri dari Wajo?

  • Whatsapp
Yang berbahagia Bupati Andi Rosman dan Sekda Ir. Armayani (dok: Istimewa)

Di tengah tantangan fiskal yang dihadapi hampir seluruh pemerintah daerah di Indonesia, Wajo berhasil menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran. Yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah membaca potensi daerah, membangun kolaborasi, dan mengubah keterbatasan menjadi peluang.

PELAKITA.ID – Penghargaan Juara 1 Creative Financing tingkat Kabupaten se-Sulawesi yang diraih Kabupaten Wajo pada ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 bukan sekadar kemenangan administratif.

Penulis menonton peristiwanya malam itu, 29 Mei 2026, Andi Rosman melangkah pelan tapi pasti ke atas panggung setelah disebutkan sebagai terbaik, peringkat pertama Creative Financing se-Sulawesi.

Dia melangkah tenang, tak ada senyum, lalu menyembang tipis saat naik ke panggung dan menyalami Menteri Tito, dan Menko Polkam Djamari Chaniago. Andi Rosman pun disalami Menteri Perumahan Rakyat Maruarar Sirait. Senyumnya mengembang.

Tangan Menteri Ara bahkan memegang pundaknya, tanda bahwa mereka akrab atau saling kenal. Mereka nampak saling berbalas kata sebelum Andi Rosman mengangkat trofi dan dana ‘pembinaan’ Pusat senilai 3 miliar.

Penghargaan ini sesungguhnya merupakan pengakuan atas cara sebuah daerah memandang pembangunan dan mengelola masa depannya.

Di tengah tantangan fiskal yang dihadapi hampir seluruh pemerintah daerah di Indonesia, Wajo berhasil menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran.

Yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah membaca potensi daerah, membangun kolaborasi, dan mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Karena itu, penghargaan yang diberikan Kementerian Dalam Negeri sesungguhnya bukan hanya penghargaan atas kreativitas pembiayaan.

Lebih dari itu, penghargaan tersebut mencerminkan penilaian pemerintah pusat terhadap kualitas tata kelola pembangunan yang sedang tumbuh di Kabupaten Wajo.

Wajo dan Tradisi Daerah yang Adaptif

Sejarah Wajo sesungguhnya menyimpan modal sosial yang kuat untuk tumbuh sebagai daerah yang inovatif.

Sejak masa lampau, masyarakat Wajo dikenal sebagai komunitas yang memiliki tradisi kewirausahaan, perdagangan, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi. Puncaknya tahun lalu saat disebut sebagai 1 dari 8 kabupaten di Indonesia dengan produksi beras terbesar.

Ada citra yang sudah lama hadir bahwa karena beras itu pula, orang Wajo tersebar di berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara, membangun jaringan ekonomi yang kuat tanpa meninggalkan identitas kedaerahannya.

Karakter inilah yang tampaknya mulai diterjemahkan kembali ke dalam tata kelola pemerintahan modern sebagaimana Andi Rosman dan dr Baso menavigasi Wajo.

Pemerintah daerah tidak lagi hanya berperan sebagai administrator anggaran, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem pembangunan yang melibatkan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.

Dengan pengandaian bahwa jika produksi beras di atas rata-rata maka di situ unit-unit usaha tumbuh, yang berjual beras semakin tinggi volume dan nilai usaha, lembaga bisnis banyak order atau katakanlah produk olahan berbahan beras juga tak kehilangan kreativitas, bisa jadi tape beras atau ketan booming atau rangginang meledak. Bisa saja kan? Iya, sebab kita sedang bicara keberhasilan Wajo dalam mendorong pembiayaan kreatif.

Dalam perspektif pembangunan modern, daerah yang maju bukanlah daerah yang menunggu bantuan, melainkan daerah yang mampu menciptakan peluang. APBN minim, masih ada sumber pembiayaan lain, bisa saja CSR, hibah atau donasi sosial kekerabatan Wajo bukan?

Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan dalam acara yang berlangsung di Hotel Claro Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (29/5/2026), dan diterima langsung oleh Bupati Wajo H. Andi Rosman  didampingi Sekretaris Daerah Ir. Armayani.

Apa yang Dilihat Kemendagri?

Tapi tunggu, apa sesungguhnya Kemendagri baca dari Wajo ini? Ada banyak lho kabupaten di Sulawesi, ada 70-an.

Bila membaca indikator penilaian yang digunakan dalam kategori Creative Financing, sesungguhnya ada pesan yang sangat jelas dari pemerintah pusat.

Kemendagri tidak hanya menilai laporan keuangan atau besaran investasi yang masuk. Yang dinilai adalah kapasitas kepemimpinan daerah dalam mengelola pembangunan secara berkelanjutan.

Kapasitas? Iya, kemampuan mengelola. Bisa saja pengalaman, pengetahuan, kejelian atau keterampilan aparatur, dan norma eksekusi anggaran dan sumber daya pembangunan daerah yang oleh Bupati dan Wakilnya, DPRD, dan semua elemen cermat dalam desain dan implementasinya.

Kita ungkap saja.

Pertama, kemampuan mengoptimalkan potensi daerah.

Wajo memiliki kekuatan besar pada sektor pertanian, perikanan darat, peternakan, dan perdagangan. Kawasan Danau Tempe yang menjadi ikon daerah bukan hanya menyimpan nilai ekologis, tetapi juga potensi ekonomi yang sangat besar apabila dikelola secara terintegrasi.

Pemerintah pusat tampaknya melihat adanya upaya untuk menghubungkan potensi-potensi tersebut dengan agenda pembangunan yang lebih luas, sehingga sumber daya lokal dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi.

Kedua, penguatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Dalam paradigma pembangunan saat ini, BUMD tidak lagi dipandang sekadar pelengkap birokrasi. BUMD harus menjadi mesin ekonomi daerah yang mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Daerah yang mampu mengelola BUMD secara profesional menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan membangun kemandirian fiskal secara bertahap.

Ketiga, digitalisasi pemerintahan.

Digitalisasi bukan hanya soal penggunaan teknologi. Digitalisasi adalah indikator modernisasi birokrasi.

Ketika pelayanan publik semakin transparan, sistem keuangan semakin akuntabel, dan proses pengambilan keputusan semakin berbasis data, maka kepercayaan publik maupun investor akan meningkat.

Dalam bahasa pembangunan, kepercayaan adalah modal yang nilainya bahkan lebih besar daripada anggaran.

Keempat, tata kelola keuangan yang sehat.

Kemendagri pada dasarnya ingin melihat apakah sebuah daerah mampu mengelola sumber daya publik secara efektif, efisien, dan bertanggung jawab tanpa harus bergantung sepenuhnya ke APBN.

Karena itu, penghargaan ini merupakan pengakuan bahwa Wajo dinilai memiliki fondasi tata kelola yang cukup kuat untuk menopang pembangunan jangka panjang.

Dari Daerah Agraris Menjadi Simpul Pertumbuhan

Posisi geografis Wajo juga memberikan keunggulan tersendiri.

Kabupaten ini berada dalam kawasan strategis Bosowasi (Bone-Soppeng-Wajo), salah satu pusat pertumbuhan ekonomi penting di Sulawesi Selatan. Letak tersebut menjadikan Wajo memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai simpul perdagangan, jasa, dan distribusi regional.

Jika potensi pertanian, perikanan, UMKM, serta konektivitas antarwilayah dapat terus diperkuat, Wajo memiliki modal untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Sulawesi Selatan.

Dalam konteks itulah penghargaan Creative Financing menjadi relevan. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah pusat melihat adanya kesiapan kelembagaan dan kapasitas manajerial untuk mengelola peluang-peluang tersebut.

Kepemimpinan yang Membaca Masa Depan

Tidak dapat dimungkiri bahwa keberhasilan pembangunan daerah sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan.

Penghargaan yang diterima Bupati Wajo Andi Rosman bersama Sekretaris Daerah Armayani mencerminkan adanya sinergi antara kepemimpinan politik dan birokrasi pemerintahan.

Dalam pembangunan daerah modern, pemimpin tidak hanya dituntut menjalankan program, tetapi juga membangun kepercayaan, menggalang kolaborasi, dan membuka ruang bagi inovasi.

Creative financing, bukan hanya soal mencari sumber dana alternatif. Ia adalah cerminan dari keberanian untuk keluar dari pola lama dan mencari cara baru agar pembangunan tetap berjalan. Statistik pembangunan yang ada seperti BPS, jelas menunjukkan tanda-tanda baik itu.

Penghargaan untuk Hari Ini, Tantangan untuk Masa Depan

Meski membanggakan, penghargaan ini sesungguhnya bukan garis akhir.

Justru di sinilah tantangan baru dimulai.

Pengakuan dari pemerintah pusat membawa ekspektasi yang lebih besar. Masyarakat tentu berharap inovasi pembiayaan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pembangunan yang semakin dirasakan manfaatnya oleh petani, nelayan, pelaku UMKM, generasi muda, dan seluruh warga Wajo.

Bagi Pemda Wajo, bagi masyarakat Wajo atau mereka yang mencintai Wajo, makna terbesar dari penghargaan ini bukanlah status juara yang diraih, melainkan pesan bahwa Wajo sedang berada di jalur yang tepat. Bahwa ada harapan cerah di balik kepemimpinan Andi Rosman dan dr Baso Rahmanuddin.

Sebuah jalur pembangunan yang tidak hanya mengandalkan besarnya APBD, tetapi bertumpu pada inovasi, kolaborasi, tata kelola yang baik, serta keberanian untuk mempersiapkan masa depan sejak hari ini. Yang lebih mengesankan adalah peran para pihak, OPD, swasta, masyarakat Wajo secara luas.

“Penghargaan ini adalah hasil kerja bersama. Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat mampu menghadirkan pembangunan yang memberi manfaat nyata bagi daerah,” ujar Andi Rosman setelah menerima penghargaan dari Kemendagri dan diberikan oleh Menteri Maruarar Sirait.

Inilah yang sesungguhnya dilihat Kemendagri ketika menempatkan Wajo sebagai daerah terbaik dalam kategori Creative Financing di Sulawesi tahun 2026.

___
Penulis Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID, maritimeposts.com