Di Sidrap, SKM tidak hanya mengurus kesehatan, tetapi juga memimpin wilayah. “Tidak banyak bupati di Indonesia yang menempatkan SKM sebagai camat.” Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, S.KM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D.
PELAKITA.ID – Di bawah langit Sidrap yang hangat dan bersih, halaman Rumah Jabatan Bupati di Kelurahan Pangkajene menjadi ruang pertemuan yang tak sekadar seremonial.
Di sana, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin seperti sedang menata ulang napasnya—menghitung capaian, menimbang kekurangan, lalu merumuskan arah baru.
Kegiatan “Evaluasi Kinerja dan Strategi Pencapaian Kinerja FKM Unhas 2026” bukan sekadar agenda tahunan, melainkan titik temu antara refleksi dan ambisi: bagaimana sebuah fakultas di timur Indonesia menegaskan diri menuju reputasi global.
Selama tiga hari, 17 hingga 19 April 2026, rombongan besar FKM Unhas berkumpul di Sidenreng Rappang.
Hadir lengkap: pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga petugas kebersihan dan keamanan. Tak ada jarak yang mencolok di antara mereka.

Semua seperti dilebur dalam satu kesadaran—bahwa kerja besar tak pernah lahir dari individu, melainkan dari orkestrasi kolektif yang rapi dan saling percaya.
Malam pembukaan menghadirkan dua figur kunci: Bupati Sidrap, Saharuddin Alrif, dan Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi.
Di hadapan para tamu, Sukri tidak sekadar memberi sambutan. Ia seperti sedang membaca ulang Sidrap—sebuah daerah yang, dalam catatannya, berhasil melompat menjadi yang terdepan dalam pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.
Baginya, keberhasilan itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari keberanian mengambil kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.
Ia berhenti sejenak pada satu hal yang jarang disorot: keberanian menempatkan Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) di posisi strategis birokrasi.
Di Sidrap, SKM tidak hanya mengurus kesehatan, tetapi juga memimpin wilayah. “Tidak banyak bupati di Indonesia yang menempatkan SKM sebagai camat,” katanya, suaranya tegas namun mengandung kekaguman.
Ia menyebut kemampuan “door-to-door” yang dimiliki lulusan FKM—kemampuan turun langsung, hidup bersama masyarakat, memahami persoalan dari dekat—sebagai kekuatan sosial yang jarang dimiliki disiplin lain.
Di sisi lain, Bupati Saharuddin Alrif melihat hubungan ini sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar kerja sama institusi. Ia berbicara tentang peran Universitas Hasanuddin sebagai mitra strategis daerah.
Bagi Sidrap, kehadiran kampus bukan hanya simbol akademik, tetapi sumber energi intelektual yang mampu menggerakkan pembangunan. Kalimatnya sederhana, tetapi jelas: kemajuan daerah tak bisa dilepaskan dari kolaborasi.
Memasuki hari kedua, suasana berubah. Dari hangat seremoni menjadi tajam evaluasi. Di ruang diskusi, angka-angka, grafik, dan indikator kinerja dibedah satu per satu.
Yang terasa bukan sekadar evaluasi teknis, melainkan upaya membaca diri sendiri secara jujur.
Bidang akademik dan tata kelola mendapat sorotan positif, terutama atas capaian di tingkat universitas dan keberhasilan membangun Zona Integritas—sebuah fondasi penting bagi transparansi dan akuntabilitas.
Di sesi berikutnya, pembicaraan naik satu tingkat: reputasi global. FKM Unhas kini berada dalam radar dunia, dengan capaian publikasi ilmiah yang menempatkan para penelitinya dalam kelompok 2 persen ilmuwan terbaik secara internasional.

Ini bukan angka biasa. Ia adalah penanda bahwa kerja-kerja akademik dari Makassar mampu menembus batas geografis dan berbicara dalam bahasa ilmu pengetahuan global.
Capaian itu tidak berdiri sendiri. Di baliknya, ada kerja sunyi yang sering luput dari sorotan—mulai dari tim penjaminan mutu yang menjaga akreditasi tetap unggul, hingga pelaksanaan tracer study yang memastikan lulusan benar-benar relevan dengan kebutuhan zaman.
Semua ini, jika ditarik garis lurus, bermuara pada satu tujuan besar: kontribusi nyata terhadap agenda global seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.
FKM Unhas secara sadar menempatkan dirinya dalam peta besar itu. Kontribusi pada kesehatan masyarakat (SDGs 3), pendidikan berkualitas (SDGs 4), hingga kemitraan (SDGs 17) bukan lagi jargon, melainkan arah kerja yang terukur. Sidrap, dalam konteks ini, bukan hanya tuan rumah, tetapi laboratorium sosial tempat gagasan diuji dan dibumikan.
Di penghujung forum, keputusan strategis mulai dikunci. Salah satunya adalah percepatan penguatan sumber daya manusia melalui penambahan guru besar.
Bagi Dekan Sukri Palutturi, profesor bukan sekadar gelar akademik, tetapi penopang utama reputasi institusi.
Ia juga menekankan pentingnya revitalisasi laboratorium, pengembangan jurnal ilmiah, serta percepatan akreditasi program studi, termasuk Dietisien yang tengah dipacu.
Tak kalah penting, transformasi fisik kampus ikut menjadi bagian dari strategi.
Gedung C berlantai tiga yang ditargetkan rampung akan menjadi simbol sekaligus instrumen: pusat laboratorium gizi modern, ruang bagi Gugus Penjaminan Mutu, hingga fasilitas kebugaran bagi sivitas akademika. Infrastruktur, dalam pandangan ini, bukan sekadar bangunan, tetapi ekosistem yang menopang produktivitas.
Bukan hanya itu, yang paling mengendap justru datang di akhir.
Dalam nada yang lebih tenang, Sukri Palutturi berbicara tentang keluarga.
Ia menyebut seluruh elemen FKM Unhas—dari profesor hingga petugas kebersihan—sebagai satu napas yang sama. Tak ada capaian yang lahir dari kerja sendiri. Semua adalah hasil dari kebersamaan yang dijaga tanpa sekat.
Di Sidrap, malam itu, FKM Unhas tidak hanya mengevaluasi kinerja. Ia sedang meneguhkan identitas: sebagai institusi yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga manusiawi dalam cara bekerja.
Dari halaman sederhana di timur Indonesia, sebuah langkah panjang menuju panggung dunia kembali dimulai.
___
Editor Denun









