Oleh: Abdul Rahman (Daeng Gusdur), Penggiat Difabel Sulawesi Selatan
PELAKITA,ID – Di negeri ini, kepercayaan publik adalah sesuatu yang dibangun perlahan, melalui keteladanan, kejujuran, dan keberanian menjaga keadilan.
Kepercayaan yang telah tumbuh lama bisa runtuh hanya karena satu keputusan yang dianggap mengabaikan rasa keadilan masyarakat.
Belakangan ini, perhatian publik Sulawesi Selatan tertuju pada proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tahun 2026.
Bukan semata karena hasil seleksinya, melainkan karena munculnya pertanyaan-pertanyaan yang belum memperoleh jawaban jernih dan menenangkan.
Paskibraka sejatinya bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Ia adalah simbol persatuan, ruang pembinaan karakter, disiplin, nasionalisme, dan penghormatan terhadap keberagaman Indonesia.
Karena itu, setiap proses seleksinya diharapkan berlangsung jujur, terbuka, dan memberi ruang yang sama kepada seluruh anak bangsa tanpa membedakan latar belakang apa pun.
Dalam proses seleksi tingkat Kota Makassar, nama Cathlyn Yvaine Lesmana mencuri perhatian. Siswi dari SMAS Cerdas Bangsa Makassar itu tampil menonjol sejak awal tahapan seleksi.
Dari ratusan peserta, ia berhasil meraih predikat Juara 1 tingkat Kota Makassar dan melaju sebagai salah satu wakil terbaik ke tingkat provinsi.
Pada seleksi tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, Cathlyn kembali menunjukkan konsistensi prestasinya. Dari berbagai tahapan tes—mulai dari wawasan kebangsaan, tes fisik, wawancara, hingga psikotes—ia disebut berada di jajaran teratas peserta putri terbaik se-Sulawesi Selatan.
Prestasi yang dimilikinya pun bukan prestasi biasa. Cathlyn tercatat pernah meraih medali dalam ajang sains internasional, menjuarai olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional, hingga berprestasi dalam kompetisi kemampuan bahasa Mandarin. Ia dikenal sebagai sosok muda yang cerdas, disiplin, santun, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Bagi banyak orang, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kualitas seorang anak tidak ditentukan oleh status sekolah ataupun latar belakang etnisnya.
Prestasi lahir dari kerja keras, ketekunan, dan kesempatan yang diberikan secara adil. Namun, harapan masyarakat berubah menjadi tanda tanya ketika pengumuman akhir diumumkan.
Nama Cathlyn tidak tercantum dalam daftar peserta yang diberangkatkan ke tingkat nasional. Keputusan ini memunculkan berbagai reaksi, terutama karena sebelumnya ia diyakini berada pada posisi aman berdasarkan hasil penilaian yang beredar di kalangan peserta dan pembina.
Situasi inilah yang kemudian memantik diskusi lebih luas di tengah masyarakat. Sebagian mulai mempertanyakan apakah seluruh proses benar-benar berjalan murni berdasarkan kompetensi.
Ada pula yang menyoroti masih adanya pandangan yang membedakan sekolah negeri dan swasta, bahkan kekhawatiran mengenai sentimen etnis yang seharusnya tidak lagi mendapat tempat dalam ruang seleksi resmi negara.
Di tengah polemik tersebut, pemerintah daerah dan tim seleksi pusat menyampaikan penjelasan masing-masing.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menegaskan bahwa proses penilaian merupakan kewenangan tim penilai dan pihak pusat. Sementara itu, pihak pusat melalui pejabat terkait menekankan bahwa aturan nasional tidak pernah membedakan peserta berdasarkan suku, etnis, maupun status sekolah.
Pernyataan tersebut sebenarnya menjadi pengingat penting bahwa semangat Paskibraka harus berdiri di atas prinsip persamaan hak. Semua peserta semestinya memperoleh kesempatan yang sama untuk dinilai berdasarkan kemampuan, integritas, kesehatan, wawasan kebangsaan, dan karakter pribadi.
Transparansi jauh lebih penting
Masyarakat tentu memahami bahwa setiap seleksi memiliki dinamika dan keputusan akhir. Namun, dalam proses yang menyangkut masa depan anak-anak muda berprestasi, transparansi menjadi hal yang sangat penting. Keterbukaan bukan untuk memperpanjang polemik, melainkan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Karena itu, banyak pihak berharap adanya langkah evaluasi yang lebih terbuka, termasuk penjelasan menyeluruh mengenai mekanisme penilaian dan dasar perubahan peringkat peserta.
Dengan begitu, tidak ada ruang bagi prasangka, kecurigaan, ataupun rasa kecewa yang berlarut-larut.
Kasus ini sesungguhnya memberi pelajaran besar bagi kita semua. Bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman. Anak-anak dari sekolah negeri maupun swasta, dari suku apa pun, dari latar belakang keluarga mana pun, memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan memperoleh perlakuan adil.
Paskibraka seharusnya menjadi wajah persatuan Indonesia. Tempat di mana kemampuan, kerja keras, dan karakter menjadi ukuran utama, bukan identitas sosial yang melekat sejak lahir.
Di balik polemik yang terjadi, ada satu hal yang patut dijaga bersama: jangan sampai semangat anak-anak muda untuk berprestasi perlahan padam karena merasa ruang keadilan semakin sempit.
Sebab bangsa ini membutuhkan generasi yang percaya bahwa usaha dan kemampuan mereka akan dihargai secara layak.
Cathlyn mungkin kecewa hari ini. Namun, prestasi dan kualitas dirinya tidak akan hilang hanya karena satu keputusan seleksi. Jalan hidup orang-orang berprestasi sering kali jauh lebih panjang daripada sekadar satu panggung seleksi. Waktu pada akhirnya akan membuktikan siapa yang benar-benar bertahan karena kualitas dan integritas.
Semoga peristiwa ini menjadi bahan refleksi bersama agar ke depan seluruh proses seleksi anak bangsa berjalan semakin bersih, transparan, dan berkeadilan. Karena ketika keadilan dijaga, kepercayaan publik akan tumbuh.
Ketika kepercayaan itu tumbuh, bangsa ini akan berdiri lebih kuat dalam keberagamannya.
____









