- IAS tidak membutuhkan “ketua kedua”. Ia juga tidak membutuhkan sekretaris yang hanya menjadi pengikut. Ia membutuhkan orang kedua yang bekerja seperti orang pertama.
- Orang yang mampu menerjemahkan visi ketua menjadi kerja nyata, merangkul DPD II, menjaga hubungan dengan organisasi pendiri, mengakomodasi kader senior, membuka ruang bagi generasi muda dan perempuan, serta menyiapkan mesin partai menghadapi Pemilu 2029.
PELAKITA.ID – Terpilihnya Ilham Arief Sirajuddin (IAS) secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2026–2031 telah menyelesaikan satu persoalan. Tetapi sekaligus membuka persoalan baru: siapa yang akan menjadi Sekretaris DPD I Golkar Sulsel?
Posisi ini bukan sekadar jabatan administratif. Sekretaris adalah mesin organisasi, orang yang akan memastikan keputusan ketua berjalan sampai ke DPD II dan struktur di bawahnya.
IAS sendiri telah menyebut sejumlah nama yang dikonsultasikan kepada DPP. Mereka adalah Rahman Pina, Armin Mustamin Toputiri, Patarai Amir, Arfandy Idris, Sittiara Kinang, dan Andi Zulkarnaen Latief alias Icul.
Selain nama-nama tersebut, terdapat pula Saad Iranda Dollar yang selama ini diperhitungkan di kalangan elite Golkar Sulsel, meski tidak disebut secara terbuka oleh IAS.
Menariknya, tujuh nama ini mempunyai modal politik yang berbeda. Karena itu, dilema IAS sesungguhnya bukan sekadar memilih seorang sekretaris, tetapi memilih model kepemimpinan Golkar Sulsel lima tahun ke depan.
Rahman Pina: Mesin yang Sudah Teruji
Rahman Pina mungkin merupakan kandidat yang paling siap secara operasional. Ia pernah dipercaya sebagai Plt Sekretaris DPD I Golkar Sulsel dan saat ini juga memiliki posisi politik sebagai Wakil Ketua DPRD Sulsel.
Rahman memiliki mobilitas, pengalaman organisasi dan jaringan legislatif. Ia relatif muda dan memahami bagaimana keputusan politik diterjemahkan menjadi kerja organisasi.
Jika IAS menginginkan sekretaris yang bisa langsung “tancap gas”, Rahman adalah pilihan kuat. Selain itu Rahman juga memiliki kekuatan politik sendiri. Di sinilah IAS harus berhitung, apakah kekuatan tersebut akan menjadi tambahan energi bagi ketua, atau justru menjadi pusat gravitasi baru?
Armin Toputiri: Penjaga Organisasi
Armin Mustamin Toputiri menawarkan modal yang berbeda: senioritas dan penguasaan organisasi. Ia pernah dipercaya menangani bidang organisasi dalam kepengurusan Golkar Sulsel dan mempunyai pengalaman panjang dalam dinamika internal partai.
Armin bukan figur yang membutuhkan waktu lama untuk memahami mekanisme organisasi. Jika IAS membutuhkan sekretaris yang mampu menjaga disiplin partai, merawat komunikasi dengan DPD II dan mengelola berbagai kepentingan internal, Armin mempunyai modal yang kuat.
Pilihan terhadap Armin akan menjadi pesan bahwa IAS mengutamakan stabilitas dan kontinuitas organisasi.
Patarai Amir: Jembatan dengan Organisasi Pendiri
Patarai Amir mempunyai nilai strategis karena selain kader Golkar, ia merupakan Ketua Depidar SOKSI Sulsel. SOKSI adalah salah satu organisasi pendiri Golkar. Pada Agustus 2026, SOKSI Sulsel bahkan mengajukan 20 kader untuk dipertimbangkan masuk dalam kepengurusan baru Golkar Sulsel. Patarai juga dikenal mempunyai hubungan politik dengan IAS.
Jika ia dipilih, pesan politiknya cukup jelas: IAS ingin memperkuat kembali hubungan antara kepengurusan DPD I dengan organisasi pendiri dan akar tradisional Golkar.
Arfandy Idris: Senior yang Bisa Menjadi Sparring Partner
Arfandy Idris membawa pengalaman politik dan legislatif. Figur seperti Arfandy mempunyai nilai tersendiri karena sekretaris tidak harus selalu menjadi orang yang mengatakan “iya” kepada ketua.
Seorang sekretaris justru harus mampu memberi pertimbangan, membaca risiko dan sesekali menjadi sparring partner bagi ketua.
Jika IAS membutuhkan figur senior yang berani menyampaikan pandangan dan memahami politik kelembagaan, Arfandy layak diperhitungkan.
Sittiara Kinang: Wajah Profesional
Sittiara Kinang menawarkan warna berbeda. Pengalamannya di birokrasi Pemerintah Kota Makassar dapat menjadi modal untuk membangun sekretariat partai yang lebih profesional. Secara organsatoris Ia dibesarkan oleh Ampi, dan beberapa lembaga sayap pendiri dan yang didirikan Golkar lainya, memiliki simpul-simpul kekuatan politik yang riel dan loyal, tepat untuk mengembalikan besarnya elektabilitas Golkar
Apalagi IAS telah memberikan sinyal akan memperbesar ruang bagi kader perempuan dan generasi muda dalam kepengurusan barunya.
Jika Sittiara dipilih, pesannya bukan semata-mata soal gender. Lebih dari itu, IAS dapat diartikan sedang mengirim pesan tentang profesionalisasi organisasi dan perubahan kultur kepartaian.
Icul: Senioritas yang Tidak Banyak Berisik
Icul—Andi Zulkarnaen Latief—mungkin adalah kandidat yang menarik justru karena selama ini tidak terlalu menonjol di panggung politik. Ia alumni Ilmu Politik FISIP Unhas, pernah menjadi Ketua Umum KNPI Sulsel dan telah lama menjadi kader serta pengurus Golkar.
Jejaknya di Golkar bahkan telah berlangsung sejak era Orde Baru. Icul memahami kultur organisasi, kepemudaan dan perjalanan panjang partai. Dalam pemberitaan lama, ia juga terlihat aktif melakukan konsolidasi struktur Golkar hingga tingkat kecamatan.
Karena itu, Icul membawa satu modal yang tidak selalu dimiliki semua kandidat: senioritas dan memori organisasi. Ia mungkin bukan kader yang paling sering muncul di media, tetapi namanya tetap diperhitungkan ketika struktur kepengurusan dibicarakan.
Saad Iranda: Loyalitas yang Tidak Perlu Dipertontonkan
Lalu ada Saad Iranda Dollar. Saad mempunyai posisi yang unik. Ia dikenal sebagai salah satu orang yang dekat dan loyal kepada IAS dan keluarga. Dalam perjalanan politik IAS, Saad disebut selalu hadir, baik ketika IAS berada dalam posisi kuat maupun ketika menghadapi masa sulit.
Secara organisasi, Saad bukan orang baru. Ia pernah lama menjadi Bendahara Golkar Kota Makassar dan pernah menjadi pengurus Golkar Sulsel. Dalam struktur sementara DPD I Golkar Sulsel 2026, Saad tercatat sebagai Wakil Bendahara.
Menariknya, ketika IAS mengambil formulir pencalonan Ketua Golkar Sulsel, Saad justru mendampingi putra IAS, Iyul.
Iyul menyebut kehadiran dirinya bersama Saad sebagai simbol lintas generasi. Namun justru karena kedekatan itu, nama Saad mungkin menjadi sensitif untuk diumumkan secara terbuka.
Sebab IAS tentu tidak ingin pilihan sekretaris dibaca semata-mata sebagai politik orang dekat. Padahal dalam politik, loyalitas yang telah teruji juga merupakan modal.
Jadi, Siapa yang Paling Tepat?
Di sinilah dilema IAS. Rahman menawarkan kecepatan. Armin menawarkan organisasi. Patarai menawarkan jaringan organisasi pendiri. Arfandy menawarkan senioritas dan pengalaman politik.
Sittiara menawarkan profesionalisasi dan representasi perempuan. Icul menawarkan senioritas dan kesinambungan sejarah Golkar. Sementara Saad menawarkan loyalitas dan kepercayaan personal yang telah teruji.
Tidak ada pilihan yang benar-benar bebas risiko. Sebab sekretaris yang terlalu lemah tidak akan mampu menggerakkan organisasi. Tetapi sekretaris yang terlalu kuat juga berpotensi menciptakan pusat kekuatan baru.
Karena itu, IAS tidak membutuhkan “ketua kedua”. Ia juga tidak membutuhkan sekretaris yang hanya menjadi pengikut. Ia membutuhkan orang kedua yang bekerja seperti orang pertama.
Orang yang mampu menerjemahkan visi ketua menjadi kerja nyata, merangkul DPD II, menjaga hubungan dengan organisasi pendiri, mengakomodasi kader senior, membuka ruang bagi generasi muda dan perempuan, serta menyiapkan mesin partai menghadapi Pemilu 2029.
Pembaca sekalian, pilihan sekretaris akan menjadi sinyal pertama mengenai, Golkar Sulsel seperti apa yang ingin dibangun IAS. Apakah Golkar yang mengandalkan kekuatan politik?
Golkar yang mengutamakan disiplin organisasi?
Golkar yang menghidupkan kembali jaringan organisasi pendiri? Atau Golkar yang memadukan semuanya?
Pertanyaan sebenarnya bukan siapa yang paling kuat. Tetapi: Siapa yang paling tepat membuat seluruh kekuatan Golkar Sulsel bergerak dalam satu irama di bawah kepemimpinan IAS?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang kini sedang ditunggu keluarga besar Golkar Sulsel.
___
Penulis adalah pengamat politik, Dosen Praktisi FIS-H Universitas Negeri Makassar.
Opini ini adalah merupakan karya penulis dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai pandangan sendiri









