PELAKITA.ID – Sebuah foto bersejarah dari sekitar tahun 1890 merekam momen langka yang mempertemukan para bangsawan dan penguasa penting di Sulawesi Selatan pada masa kolonial Hindia Belanda.
Arsip yang tersimpan dalam koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dengan nomor KITLV3859 ini diberi judul De rijksgroten van Goa atau “Para Pembesar Kerajaan Gowa”.
Dalam foto tersebut tampak tiga tokoh berpengaruh yang mewakili kekuatan politik dan aristokrasi Bugis-Makassar pada akhir abad ke-19. Di sisi kiri berdiri I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Husain, Raja Gowa ke-34.
Di sampingnya tampak putranya yang kelak menjadi tokoh besar Sulawesi Selatan, Andi Mappanyukki, yang di kemudian hari dinobatkan sebagai Sultan Ibrahim, Raja Bone ke-32. Sementara di sisi lainnya hadir La Panguriseng Bau Tode, Arung Alitta, salah satu bangsawan penting dalam struktur politik Kerajaan Bone.
Foto ini tidak hanya merekam sosok-sosok penting, tetapi juga menggambarkan dinamika politik Sulawesi Selatan pada masa transisi antara kekuasaan tradisional dan semakin kuatnya pengaruh pemerintahan kolonial Belanda. Meskipun kerajaan-kerajaan lokal masih mempertahankan struktur pemerintahan dan adatnya, ruang gerak politik mereka mulai dibatasi melalui berbagai perjanjian dan intervensi kolonial.
Kehadiran I Makkulau Daeng Serang dalam foto ini memiliki makna historis tersendiri. Sebagai Raja Gowa ke-34, ia memimpin salah satu kerajaan terbesar di kawasan timur Nusantara yang sejak abad ke-17 dikenal sebagai pusat perdagangan dan kekuatan maritim.
Pada masa pemerintahannya, Gowa menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan kewibawaan kerajaan di tengah menguatnya dominasi pemerintah kolonial.
Sementara itu, sosok Andi Mappanyukki memiliki tempat istimewa dalam sejarah Sulawesi Selatan. Ia bukan sekadar pewaris darah bangsawan, tetapi kemudian tumbuh menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh pada paruh pertama abad ke-20. Setelah menjadi Raja Bone, Andi Mappanyukki dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan martabat kerajaan serta mempertahankan identitas masyarakat Bugis di tengah perubahan politik nasional.
Namanya kemudian diabadikan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Di sisi lain, kehadiran La Panguriseng Bau Tode Arung Alitta menunjukkan pentingnya peran para bangsawan daerah dalam sistem pemerintahan Bugis.
Dalam tradisi kerajaan Bugis, seorang Arung bukan hanya pemimpin wilayah administratif, tetapi juga bagian dari jaringan elite yang berperan dalam pengambilan keputusan politik, penyelesaian sengketa, hingga menjaga stabilitas hubungan antarkerajaan.
Dari perspektif sejarah, foto ini menjadi dokumentasi penting mengenai struktur aristokrasi Sulawesi Selatan. Hubungan antara Gowa, Bone, dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya tidak selalu ditandai oleh konflik. Dalam banyak kesempatan, mereka juga membangun hubungan melalui ikatan kekerabatan, diplomasi, dan kerja sama politik untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di kawasan.
Selain nilai politiknya, foto ini memperlihatkan bagaimana simbol-simbol kebangsawanan diekspresikan melalui busana, posisi duduk atau berdiri, serta atribut yang dikenakan. Setiap elemen mencerminkan status sosial, legitimasi kekuasaan, dan penghormatan terhadap adat istiadat yang menjadi fondasi pemerintahan tradisional Bugis-Makassar.
Kini, lebih dari satu abad setelah foto tersebut diambil, dokumentasi ini menjadi pengingat bahwa sejarah Sulawesi Selatan dibangun oleh tokoh-tokoh yang memainkan peran penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus menghadapi perubahan zaman.
Di balik sebuah potret yang tampak sederhana, tersimpan kisah mengenai kepemimpinan, diplomasi, serta perjalanan panjang kerajaan-kerajaan Nusantara menghadapi era kolonial.
Arsip seperti ini bukan sekadar koleksi fotografi, tetapi merupakan jendela untuk memahami perjalanan politik, budaya, dan peradaban Sulawesi Selatan. Melalui wajah-wajah para raja dan bangsawan yang terekam lebih dari 130 tahun lalu, kita diajak menelusuri jejak sejarah yang membentuk identitas masyarakat Bugis-Makassar hingga hari ini.
Foto: De rijksgroten van Goa, sekitar 1890. Koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), No. Arsip KITLV3859.









