Bendungan Lajaroko 1935, Jejak Awal Modernisasi Irigasi dan Pertanian di Soppeng

  • Whatsapp
Arsip yang tersimpan dalam koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dengan nomor KITLV41644 ini diberi judul De Ladjaroko-irrigatiedam te Soppeng.

PELAKITA.ID – PELAKITA.ID – Sebuah foto yang diabadikan sekitar tahun 1935 merekam salah satu infrastruktur penting dalam sejarah pertanian Sulawesi Selatan, yakni Bendungan Irigasi Lajaroko di Kabupaten Soppeng.

Arsip yang tersimpan dalam koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dengan nomor KITLV41644 ini diberi judul De Ladjaroko-irrigatiedam te Soppeng.

Di balik kesederhanaan gambar tersebut, tersimpan cerita tentang bagaimana pembangunan infrastruktur pengairan menjadi bagian dari transformasi sektor pertanian pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Bendungan Lajaroko dibangun untuk mengatur distribusi air ke lahan-lahan persawahan yang menjadi sumber utama kehidupan masyarakat Soppeng dan wilayah sekitarnya.

Sejak lama, Kabupaten Soppeng dikenal sebagai salah satu kawasan agraris di Sulawesi Selatan. Kesuburan tanah serta ketersediaan sumber air menjadikan daerah ini berkembang sebagai sentra produksi padi. Namun, keberhasilan pertanian tidak hanya bergantung pada kondisi alam. Sistem pengelolaan air yang baik menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas, terutama ketika musim kemarau melanda.

Pembangunan bendungan dan jaringan irigasi seperti Lajaroko merupakan bagian dari kebijakan kolonial yang dikenal sebagai modernisasi pertanian.

Pada awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda mulai memperluas pembangunan infrastruktur irigasi di berbagai wilayah Nusantara, terutama di daerah-daerah yang memiliki potensi sebagai lumbung pangan. Selain bertujuan meningkatkan produksi beras, kebijakan tersebut juga mendukung kepentingan ekonomi kolonial melalui peningkatan hasil pertanian.

Meski dibangun pada masa kolonial, manfaat bendungan ini dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Ketersediaan air yang lebih teratur memungkinkan petani mengurangi ketergantungan pada curah hujan dan meningkatkan intensitas tanam. Kehadiran bendungan juga memperkuat sistem pertanian sawah yang telah berkembang dalam masyarakat Bugis selama berabad-abad.

Bagi masyarakat Bugis, air bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan bagian dari sistem sosial. Pengelolaan irigasi selama ini dilakukan melalui berbagai mekanisme gotong royong dan kesepakatan adat dalam pembagian air antarpetani. Infrastruktur seperti Bendungan Lajaroko kemudian melengkapi praktik-praktik lokal tersebut dengan teknologi yang lebih modern pada zamannya.

Foto tahun 1935 ini juga memperlihatkan bagaimana pembangunan fisik menjadi bagian dari perubahan lanskap pedesaan Sulawesi Selatan.

Bendungan tidak hanya mengubah pola pengairan, tetapi juga mendorong berkembangnya kawasan pertanian yang lebih produktif serta meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Hingga kini, irigasi tetap menjadi salah satu tulang punggung ketahanan pangan nasional. Di tengah tantangan perubahan iklim, berkurangnya sumber air, dan meningkatnya kebutuhan produksi pangan, dokumentasi sejarah seperti Bendungan Lajaroko mengingatkan bahwa investasi pada infrastruktur air telah menjadi perhatian sejak hampir satu abad silam.

Lebih dari sekadar bangunan teknik sipil, Bendungan Lajaroko merupakan simbol perjalanan panjang pembangunan pertanian di Sulawesi Selatan. Ia menjadi saksi bagaimana perpaduan antara sumber daya alam, teknologi, dan kerja keras petani telah membentuk sejarah ketahanan pangan di kawasan ini.

Arsip visual seperti ini memiliki nilai penting karena membantu generasi masa kini memahami bahwa pembangunan pertanian tidak lahir secara instan. Di balik hamparan sawah yang produktif hari ini, terdapat sejarah panjang mengenai pengelolaan air, pembangunan infrastruktur, serta dedikasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Foto: De Ladjaroko-irrigatiedam te Soppeng, sekitar tahun 1935. Koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), No. Arsip KITLV41644.