PELAKITA.ID – Sebuah foto yang diambil antara 1914 hingga 1926 oleh fotografer etnografi Tassilo Adam merekam sosok seorang lelaki tua dari komunitas Orang Laut di delta Sungai Retih dan Indragiri, Kepulauan Riau.
Arsip yang kini tersimpan di Nationaal Museum van Wereldculturen (NMvW), Belanda, diberi keterangan De oudste Orang-Laoet van de delta van Retih en Inderagiri in Riouw, bij wie de tenen vergroeid zijn door het roeien, yang berarti “Orang Laut tertua di delta Retih dan Indragiri, Riau, yang jari-jari kakinya menyatu akibat aktivitas mendayung.”
Foto tersebut bukan sekadar potret seorang pria lanjut usia. Ia merupakan dokumentasi antropologis yang memperlihatkan hubungan sangat erat antara manusia, tubuh, dan lingkungan tempat ia menjalani kehidupan. Keterangan mengenai jari-jari kaki yang tampak menyatu (vergroeid) menggambarkan bagaimana aktivitas mendayung yang dilakukan selama puluhan tahun diyakini telah memengaruhi bentuk fisiknya.
Terlepas dari apakah kondisi tersebut sepenuhnya merupakan akibat mendayung atau dipengaruhi faktor lain, foto ini menunjukkan betapa kuatnya kehidupan Orang Laut bergantung pada laut dan perairan.
Masyarakat yang Hidup Bersama Laut
Orang Laut merupakan salah satu komunitas maritim tertua di Asia Tenggara. Sejak berabad-abad lalu mereka dikenal sebagai masyarakat yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas perahu, berpindah mengikuti musim, arus, dan ketersediaan sumber daya laut. Wilayah jelajah mereka membentang dari Selat Malaka, Kepulauan Riau, pesisir timur Sumatra, hingga sebagian perairan Kepulauan Lingga dan Natuna.
Bagi Orang Laut, laut bukan sekadar ruang mencari nafkah, tetapi juga rumah, jalan raya, sekolah, sekaligus identitas budaya. Hampir seluruh aktivitas kehidupan—berlayar, menangkap ikan, berdagang, hingga membesarkan anak—berlangsung di atas perahu. Mobilitas tinggi menjadi ciri utama kehidupan mereka selama berabad-abad.
Tubuh yang Dibentuk oleh Profesi
Foto karya Tassilo Adam ini memperlihatkan bagaimana pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus dapat membentuk tubuh manusia. Dalam banyak komunitas tradisional, adaptasi fisik akibat pekerjaan bukanlah hal yang asing. Petani memiliki telapak tangan yang mengeras, penyelam tradisional memiliki kapasitas paru-paru yang luar biasa, sementara pelaut dan pendayung mengembangkan kekuatan otot yang berbeda dari masyarakat daratan.
Pada komunitas Orang Laut, mendayung bukan sekadar aktivitas harian, melainkan keterampilan hidup yang dilakukan sejak usia dini hingga usia lanjut. Selama puluhan tahun, gerakan kaki dan tubuh yang terus-menerus menopang keseimbangan perahu menjadi bagian dari rutinitas yang membentuk karakter fisik mereka.
Dokumentasi Penting Sejarah Bahari Nusantara
Tassilo Adam merupakan salah satu fotografer dan etnografer yang banyak mendokumentasikan masyarakat adat di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Karyanya tidak hanya merekam wajah manusia, tetapi juga cara hidup, pakaian, teknologi tradisional, hingga hubungan masyarakat dengan alam.
Bagi para sejarawan dan antropolog, foto-foto seperti ini memiliki nilai yang sangat penting. Ia menjadi bukti visual mengenai keberagaman budaya maritim Nusantara, sekaligus memperlihatkan bahwa Indonesia telah lama dihuni oleh komunitas-komunitas yang membangun peradabannya di atas laut, jauh sebelum konsep negara modern terbentuk.
Menjaga Warisan Budaya Maritim
Kini, sebagian besar komunitas Orang Laut telah mengalami perubahan besar. Kebijakan pemukiman permanen, perkembangan transportasi modern, perubahan ekonomi pesisir, hingga degradasi lingkungan laut membuat pola hidup nomaden semakin berkurang. Banyak generasi muda Orang Laut kini tinggal menetap di daratan, mengakses pendidikan formal, dan bekerja di sektor yang lebih beragam.
Meski demikian, identitas mereka sebagai masyarakat bahari tetap menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia. Pengetahuan mengenai navigasi tradisional, membaca pasang surut, mengenali cuaca, hingga mengelola sumber daya laut merupakan warisan budaya yang memiliki nilai tinggi, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap pembangunan ekonomi biru (blue economy) dan konservasi laut.
Foto seorang lelaki tua dari delta Retih dan Indragiri ini mengingatkan bahwa sejarah maritim Indonesia bukan hanya dibangun oleh kapal-kapal besar, pelabuhan, atau perdagangan internasional. Sejarah itu juga ditulis oleh komunitas-komunitas kecil seperti Orang Laut yang menjadikan laut sebagai ruang hidup sekaligus sumber pengetahuan selama berabad-abad.
Lebih dari satu abad kemudian, arsip visual ini tetap mengajarkan satu hal penting: peradaban maritim tidak hanya membentuk sejarah suatu bangsa, tetapi juga membentuk kehidupan, budaya, bahkan tubuh manusia yang menjalaninya.
Foto: De oudste Orang-Laoet van de delta van Retih en Inderagiri in Riouw, bij wie de tenen vergroeid zijn door het roeien, sekitar 1914–1926. Fotografer: Tassilo Adam. Koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen (NMvW), Belanda.









