PELAKITA.ID – Sebuah foto bersejarah yang diabadikan sekitar tahun 1910 merekam wajah-wajah para pemimpin tradisional dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan.
Arsip yang tersimpan dalam koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) ini diberi judul Hoofden met volgelingen uit Zuid-Celebes atau “Para Kepala Wilayah beserta Pengikutnya dari Sulawesi Selatan.” Foto tersebut diambil oleh fotografer Tionghoa ternama di Makassar pada masa kolonial, Wah Heng, yang banyak mendokumentasikan kehidupan sosial dan politik di Hindia Belanda pada awal abad ke-20.
Foto ini memperlihatkan sembilan tokoh penting yang berasal dari wilayah Kerajaan Luwu dan daerah-daerah sekitarnya.
Berdiri berjejer dari kanan ke kiri adalah Mincara Burau (Malili), Pabbicara Luwu sekaligus Polimpang Walinrang, Tomarilalang Luwu, Balirante Luwu yang juga menjabat Madika Bua, Patunru Luwu sekaligus Sulewatang Wara, Sanggaria Bajo, Polimpang Rongkong, Madika Ponrang, serta Makole Balbunta.
Mereka tampil mengenakan busana kebesaran yang mencerminkan kedudukan sosial dan politik masing-masing dalam struktur pemerintahan tradisional Bugis-Luwu.
Wajah Pemerintahan Kerajaan Luwu
Bagi masyarakat masa kini, sejumlah gelar yang tercantum dalam foto tersebut mungkin terdengar asing. Padahal, masing-masing memiliki fungsi penting dalam sistem pemerintahan Kerajaan Luwu, salah satu kerajaan tertua dan paling berpengaruh di Sulawesi Selatan.
Dalam struktur kerajaan Bugis, pemerintahan tidak hanya dijalankan oleh seorang raja atau Datu, tetapi juga didukung oleh para pejabat adat yang memiliki tugas dan kewenangan berbeda.
Tomarilalang, misalnya, merupakan pejabat tinggi yang berperan sebagai penasihat utama kerajaan sekaligus koordinator urusan pemerintahan. Pabbicara bertugas mengurus administrasi, diplomasi, dan komunikasi resmi kerajaan, sementara Sulewatang merupakan kepala wilayah yang mengelola pemerintahan lokal atas nama kerajaan.
Di tingkat daerah, terdapat pula jabatan seperti Madika, Makole, Polimpang, dan Sanggaria, yang masing-masing memimpin komunitas atau wilayah tertentu dengan kewenangan adat dan administratif sesuai tradisi setempat. Struktur tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan tradisional Sulawesi Selatan telah mengenal pembagian fungsi birokrasi jauh sebelum lahirnya sistem pemerintahan modern.
Luwu sebagai Pusat Kekuasaan Timur Sulawesi Selatan
Sebagian besar tokoh dalam foto berasal dari wilayah kekuasaan Kerajaan Luwu. Sejak abad ke-14, Luwu dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar di kawasan timur Nusantara.
Wilayah pengaruhnya membentang dari pesisir Teluk Bone hingga daerah pegunungan di pedalaman Sulawesi Selatan, bahkan menjangkau sebagian Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Keberadaan pejabat dari Malili, Wara, Bua, Rongkong, Ponrang, hingga Balbunta menunjukkan luasnya jaringan pemerintahan kerajaan. Setiap wilayah dipimpin oleh bangsawan lokal yang tetap memiliki hubungan politik dan kekerabatan dengan pusat kerajaan di Luwu.
Hubungan tersebut bukan sekadar administratif, melainkan juga dibangun melalui sistem adat, musyawarah, dan ikatan genealogis yang menjadi ciri khas pemerintahan Bugis.
Di Tengah Bayang-Bayang Kolonial
Foto ini diambil pada masa ketika Hindia Belanda semakin memperluas pengaruhnya di Sulawesi Selatan. Setelah berbagai ekspedisi militer pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial mulai menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung (indirect rule), yaitu mempertahankan keberadaan kerajaan dan elite lokal sambil menempatkannya di bawah pengawasan administrasi kolonial.
Dalam konteks itulah para pejabat kerajaan seperti yang terlihat dalam foto memainkan peran ganda. Di satu sisi mereka tetap menjaga adat, tradisi, dan legitimasi kerajaan, tetapi di sisi lain mereka juga harus beradaptasi dengan kebijakan pemerintah kolonial yang semakin mengatur kehidupan politik dan ekonomi daerah.
Karena itu, foto ini bukan sekadar dokumentasi para bangsawan, melainkan juga gambaran mengenai sebuah masa transisi ketika sistem pemerintahan tradisional mulai berhadapan dengan modernisasi administrasi kolonial.
Karya Wah Heng yang Menjadi Arsip Sejarah
Fotografer Wah Heng dikenal sebagai salah satu pelopor fotografi profesional di Makassar pada awal abad ke-20. Studio miliknya banyak mendokumentasikan keluarga kerajaan, pejabat kolonial, pedagang, hingga kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.
Karya-karyanya kini menjadi sumber penting bagi para sejarawan karena mampu menghadirkan detail mengenai pakaian adat, atribut kebangsawanan, tata upacara, hingga struktur sosial masyarakat pada masa itu. Melalui foto-foto tersebut, generasi sekarang dapat melihat wajah para pemimpin lokal yang selama ini lebih banyak dikenal melalui naskah lontara dan catatan sejarah.
Arsip yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak foto ini diambil. Banyak wilayah yang dahulu dipimpin oleh para pejabat adat tersebut kini telah berkembang menjadi kabupaten dan kecamatan modern. Namun, jejak sistem pemerintahan tradisional masih dapat ditemukan dalam berbagai upacara adat, struktur kelembagaan adat, maupun penghormatan masyarakat terhadap para pemangku gelar kebangsawanan.
Foto ini menjadi pengingat bahwa sejarah pemerintahan di Sulawesi Selatan tidak dimulai sejak lahirnya negara modern. Jauh sebelumnya, masyarakat Bugis dan Luwu telah membangun sistem administrasi, kepemimpinan, dan tata kelola wilayah yang kompleks, berlapis, dan berakar kuat pada nilai-nilai adat.
Di balik satu potret hitam putih karya Wah Heng, tersimpan kisah tentang kepemimpinan, diplomasi, dan ketahanan institusi lokal yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Dokumentasi semacam ini memperkaya pemahaman kita bahwa identitas Sulawesi Selatan dibangun melalui perpaduan antara tradisi, pemerintahan adat, dan dinamika sejarah yang terus berkembang.
Foto: Hoofden met volgelingen uit Zuid-Celebes, sekitar tahun 1910. Fotografer: Wah Heng. Koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), Leiden, Belanda.









