Menyusuri Sungai Menuju Kampung Tello: Potret Mobilitas Masyarakat Makassar Tahun 1920

  • Whatsapp
Dalam koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen (NMvW), Belanda, tampak sekelompok penduduk menggunakan sebuah perahu untuk menyeberangi sungai menuju Kampung Tello, kawasan yang berada di sebelah timur Kota Makassar. Foto tersebut diberi judul Bewoners varen in een boot over de rivier naar kampong Tello bij Makassar, Zuid-Celebes.

PELAKITA.ID – Selembar foto bertanggal 28 Mei 1920 menyimpan kisah sederhana namun sarat makna tentang kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan pada awal abad ke-20.

Dalam koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen (NMvW), Belanda, tampak sekelompok penduduk menggunakan sebuah perahu untuk menyeberangi sungai menuju Kampung Tello, kawasan yang berada di sebelah timur Kota Makassar. Foto tersebut diberi judul Bewoners varen in een boot over de rivier naar kampong Tello bij Makassar, Zuid-Celebes.

Sekilas, gambar itu hanya memperlihatkan sebuah perahu yang mengangkut beberapa penumpang melintasi aliran sungai. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan gambaran mengenai bagaimana sungai pada masa itu menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Sebelum pembangunan jalan raya dan jembatan berkembang seperti sekarang, transportasi air merupakan moda utama yang menghubungkan kampung-kampung di sekitar Makassar.

Perahu bukan sekadar alat angkut, melainkan bagian dari sistem sosial dan ekonomi masyarakat. Melalui jalur sungai, warga berpindah dari satu kampung ke kampung lain untuk berdagang, bekerja, mengunjungi keluarga, menghadiri pasar, maupun memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Sungai menjadi ruang interaksi yang mempertemukan berbagai komunitas sekaligus menopang aktivitas ekonomi lokal.

Pada awal abad ke-20, kawasan Tello masih didominasi bentang alam berupa persawahan, kebun, rawa, dan permukiman yang tersebar mengikuti aliran sungai. Lokasinya yang berada di pinggiran Makassar menjadikannya wilayah transisi antara pusat kota kolonial dengan kawasan pedesaan di sekitarnya. Jalur air menjadi pilihan paling efisien dibandingkan perjalanan darat yang kala itu masih terbatas.

Foto ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Sulawesi Selatan telah lama memiliki tradisi maritim yang kuat. Kemampuan mengoperasikan perahu, membaca arus sungai, dan memanfaatkan jaringan perairan merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Tradisi tersebut menjadi fondasi budaya bahari masyarakat Bugis-Makassar yang dikenal luas sebagai pelaut dan pedagang ulung di Nusantara.

Dari sudut pandang sejarah perkotaan, dokumentasi ini memperlihatkan bahwa perkembangan Makassar tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sungai-sungainya. Sebelum dominasi kendaraan bermotor, sungai berfungsi sebagai koridor transportasi yang menghubungkan pusat perdagangan dengan wilayah penyangga. Mobilitas penduduk berlangsung secara alami mengikuti bentang alam yang tersedia.

Kini, kawasan Tello telah berubah menjadi bagian dari wilayah metropolitan Makassar dengan jaringan jalan, jembatan, rel kereta api, serta permukiman yang jauh lebih padat. Banyak alur sungai yang dahulu menjadi jalur utama transportasi kini beralih fungsi atau kehilangan perannya akibat perkembangan kota.

Karena itu, foto tahun 1920 ini menjadi pengingat penting bahwa identitas Makassar sebagai kota pesisir juga dibentuk oleh kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai.

Lebih dari sekadar dokumentasi visual, foto tersebut merupakan arsip sosial yang merekam cara hidup, pola mobilitas, dan hubungan manusia dengan lingkungannya pada masa kolonial. Ia mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu hadir melalui peristiwa besar, tetapi juga melalui aktivitas sehari-hari—seperti sekelompok warga yang menyeberangi sungai menggunakan perahu menuju kampung mereka.

Di tengah upaya membangun kota yang berkelanjutan, dokumentasi semacam ini mengingatkan pentingnya menjaga memori kolektif tentang peran sungai dalam kehidupan masyarakat. Sungai bukan hanya bentang alam, melainkan bagian dari warisan budaya yang pernah menjadi denyut utama kehidupan Makassar hampir satu abad yang lalu.

Sumber foto: Nationaal Museum van Wereldculturen (NMvW), Belanda. Judul arsip: Bewoners varen in een boot over de rivier naar kampong Tello bij Makassar, Zuid-Celebes, 28 Mei 1920.