KKN Unhas Edukasi “SAVE TOOTH” untuk Siswa SMP 4 SATAP Worongnge

  • Whatsapp
Pelaksana kegiatan, Nita Nuramalia, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Hasanuddin angkatan 2023 memaparkan bahwa kegiatan ini meliputi pengisian pre-test, pemaparan materi mengenai pengertian gigi permanen yang terlepas akibat trauma atau avulsi gigi, langkah pertolongan pertama yang tepat saat kejadian, cara menyimpan gigi yang tercabut sebelum mendapatkan pertolongan medis, hal yang tidak boleh dilakukan ketika terjadi hal tersebut, pengisian post-test, serta diakhiri dengan sesi diskusi dan games seputar materi yang telah dipaparkan.

Mahasiswa KKN Unhas Melaksanakan Edukasi Pada Siswa SMP 4 SATAP Desa Worongnge tentang Pertolongan Pertama pada Gigi Permanen Terlepas Akibat Trauma melalui Program “SAVE TOOTH”

PELAKITA.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja individu yaitu penyuluhan kesehatan bertema “SAVE TOOTH: Edukasi Pertolongan Pertama pada Gigi Permanen yang Tercabut Akibat Benturan” di SMP 4 SATAP Desa Worongnge, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan pada hari Selasa, 4 Agustus 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh siswa dan siswi kelas 8 dan 9 SMP 4 SATAP dengan total peserta sebanyak 21 siswa.

Pelaksana kegiatan, Nita Nuramalia, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Hasanuddin angkatan 2023 memaparkan bahwa kegiatan ini meliputi pengisian pre-test, pemaparan materi mengenai pengertian gigi permanen yang terlepas akibat trauma atau avulsi gigi, langkah pertolongan pertama yang tepat saat kejadian, cara menyimpan gigi yang tercabut sebelum mendapatkan pertolongan medis, hal yang tidak boleh dilakukan ketika terjadi hal tersebut, pengisian post-test, serta diakhiri dengan sesi diskusi dan games seputar materi yang telah dipaparkan.

Penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai penanganan kegawatdaruratan gigi, khususnya apabila terjadi kasus gigi permanen yang tercabut akibat kecelakaan atau benturan.

Melalui edukasi ini, siswa diharapkan mampu memahami pentingnya tindakan cepat dan tepat untuk meningkatkan peluang penyelamatan gigi agar dapat di lakukan penanaman kembali (replantasi) serta mencegah komplikasi yang lebih lanjut.

Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk edukasi promotif dan preventif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya remaja terhadap pentingnya pengetahuan mengenai penanganan dental emergensi.

“Melalui penyuluhan ini, kami ingin mengenalkan kepada adik-adik bahwa gigi permanen yang tercabut akibat benturan merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera diman gold standar perawatan yaitu 30 menit setelah kejadian. Hal sederhana seperti tidak memegang bagian akar gigi, mencuci gigi dengan air mengalir jika kotor, serta menyimpan gigi pada media yang tepat seperti cairan saline atau air liur misalnya di simpan dibawah lidah atau pipi sebelum dibawa ke dokter gigi dapat membantu meningkatkan kemungkinan gigi tersebut dipertahankan,” ujar Nita Nuramalia.

Antusiasme juga terlihat dari salah seorang siswa SMP 4 SATAP Desa Worongnge yang mengikuti penyuluhan ini. Menurutnya, materi mengenai Save Tooth merupakan hal baru yang menarik karena memberikan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan ketika mengalami kecelakaan yang menyebabkan gigi tercabut secara keseluruhan dari soketnya.

“Menurut saya pengetahuan baru bahwa avulsi itu merupakan gigi yang terlepas akibat trauma. Sebelumnya saya belum tahu kalau gigi yang copot karena benturan masih bisa diselamatkan. Setelah mengikuti penyuluhan ini saya jadi tahu bahwa gigi tidak boleh dipegang bagian akarnya, jika kotor di bersihkan di air mengalir terlebih dahulu dan harus segera dibawa ke dokter gigi. Materinya seru karena ada games sehingga lebih mudah dipahami,” ujar Nia Ramadhani, salah satu siswa yang diwawancarai.

Kegiatan ditutup dengan post-test untuk mengukur pemahaman siswa setelah mengikuti seluruh rangkaian penyuluhan. Hasil evaluasi menunjukkan sekitar 90% siswa telah memahami materi yang disampaikan, mulai dari pengertian avulsi gigi, penyebab terjadinya, hingga langkah pertolongan pertama yang benar ketika gigi permanen tercabut akibat benturan.

Melalui program “Save Tooth”, diharapkan pemahaman siswa mengenai kegawatdaruratan gigi dapat meningkat sehingga mereka mampu melakukan tindakan awal yang tepat apabila terjadi cedera gigi. Edukasi ini diharapkan dapat membentuk kesadaran sejak dini mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut serta meningkatkan peluang penyelamatan gigi permanen yang mengalami trauma.