PELAKITA.ID – LUWU TIMUR, SULAWESI SELATAN – Sebuah foto bersejarah yang diambil sekitar 1923–1925 memperlihatkan sekelompok penduduk mengangkut hasil panen getah kopal dari Kampung Balambano, Sulawesi Selatan.
Arsip yang kini tersimpan di Nationaal Museum van Wereldculturen (NMvW), Belanda, dengan judul Transport van kopal vanaf kampong Balambano, Celebes (Pengangkutan kopal dari Kampung Balambano, Celebes), merekam salah satu mata rantai penting dalam sejarah ekonomi masyarakat pedalaman Luwu pada awal abad ke-20.
Foto tersebut memperlihatkan sejumlah laki-laki memikul atau membawa karung-karung berisi kopal melintasi jalur darat yang menghubungkan kawasan hutan dengan pusat-pusat pengumpulan hasil bumi.
Aktivitas ini menjadi bukti bahwa jauh sebelum berkembangnya industri pertambangan dan infrastruktur modern, masyarakat di kawasan Luwu telah terlibat dalam jaringan perdagangan komoditas hasil hutan yang memasok pasar regional hingga internasional.
Kopal merupakan getah alami yang diperoleh dari sejumlah jenis pohon hutan tropis. Setelah mengeras, getah tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi karena digunakan sebagai bahan baku pembuatan vernis, cat, tinta, pelapis kayu, hingga berbagai kebutuhan industri pada masa itu. Pada era Hindia Belanda, kopal termasuk salah satu komoditas hasil hutan yang diperdagangkan bersama damar, rotan, gaharu, dan damar mata kucing.
Balambano sendiri berada di kawasan yang kini termasuk Kabupaten Luwu Timur, tidak jauh dari bentang alam Danau Towuti dan Danau Mahalona. Wilayah ini sejak lama dikenal memiliki kekayaan sumber daya hutan yang melimpah.
Sebelum berkembangnya eksploitasi mineral, masyarakat setempat menggantungkan kehidupan pada pemanfaatan hasil hutan, perikanan air tawar, serta pertanian tradisional.
Berdasarkan karakteristik wilayah dan komunitas yang mendiami kawasan tersebut pada awal abad ke-20, para pengangkut kopal dalam foto ini diduga berasal dari komunitas lokal, termasuk kemungkinan masyarakat To Rongkong, yang sejak lama dikenal memiliki tradisi mobilitas tinggi dalam memanfaatkan sumber daya hutan dan menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah di Tanah Luwu.
Identitas etnis para pekerja dalam foto tersebut tidak disebutkan secara eksplisit dalam arsip museum sehingga dugaan tersebut masih memerlukan kajian sejarah yang lebih mendalam.
Proses pengangkutan kopal pada masa itu bukanlah pekerjaan ringan. Setelah getah dipanen dari pohon-pohon di pedalaman, hasilnya harus dikumpulkan, dikeringkan, kemudian diangkut dengan tenaga manusia melewati jalur-jalur hutan menuju kampung, pelabuhan sungai, atau pusat perdagangan.
Dari sana, komoditas tersebut diteruskan ke pelabuhan-pelabuhan utama di pesisir Sulawesi sebelum dikirim ke Batavia, Singapura, atau Eropa.
Rantai distribusi ini menunjukkan bahwa masyarakat pedalaman Sulawesi Selatan telah menjadi bagian dari sistem perdagangan global sejak lebih dari satu abad lalu. Meski hidup jauh dari pusat-pusat pemerintahan kolonial, hasil kerja mereka menjadi bahan baku berbagai industri di luar negeri, memperlihatkan keterhubungan antara hutan tropis Sulawesi dengan perkembangan industri dunia.
Selain memiliki nilai ekonomi, dokumentasi ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan hutan secara produktif tanpa harus selalu menebang pohon. Penyadapan getah kopal merupakan bentuk pemanfaatan hasil hutan non-kayu yang relatif berkelanjutan karena pohon tetap dipertahankan untuk menghasilkan getah pada musim-musim berikutnya. Praktik seperti ini menjadi bagian dari pengetahuan ekologis lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Kini, Balambano dan kawasan sekitarnya lebih dikenal sebagai wilayah strategis yang berkembang bersama industri nikel dan berbagai aktivitas ekonomi modern. Namun, arsip visual seperti ini mengingatkan bahwa sejarah kawasan tersebut jauh lebih panjang daripada era pertambangan. Sebelum nikel menjadi komoditas utama, hutan telah menjadi sumber kehidupan masyarakat melalui berbagai hasil alam yang diperdagangkan hingga ke mancanegara.
Lebih dari sekadar potret pengangkutan barang, foto Transport van kopal vanaf kampong Balambano, Celebes merupakan rekaman penting tentang ketekunan masyarakat pedalaman, dinamika perdagangan hasil hutan, dan peran Luwu dalam jaringan ekonomi kolonial pada awal abad ke-20. Arsip ini menjadi pengingat bahwa sejarah pembangunan Sulawesi Selatan dibangun bukan hanya oleh kota-kota pelabuhan, tetapi juga oleh kerja keras masyarakat yang menapaki jalan-jalan hutan demi menghubungkan kekayaan alam Nusantara dengan dunia.









