KNMP Tongke-Tongke Tumbuhkan Pendapatan Nelayan dan Perluas Akses Pasar

  • Whatsapp
Di KNMP Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Tengah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun sinergi dengan Kementerian Koperasi, Kementerian Keuangan, dan BP BUMN untuk memastikan berbagai sarana produksi yang telah tersedia, mulai dari dermaga, pabrik es, hingga gudang beku, dapat dikelola secara profesional melalui koperasi.

PELAKITA.ID – Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tidak hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur perikanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi ekonomi di desa-desa pesisir.

Transformasi tersebut diharapkan dapat memperkuat swasembada pangan, meningkatkan daya saing produk perikanan, sekaligus memperbaiki kesejahteraan nelayan.

Di KNMP Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Tengah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun sinergi dengan Kementerian Koperasi, Kementerian Keuangan, dan BP BUMN untuk memastikan berbagai sarana produksi yang telah tersedia, mulai dari dermaga, pabrik es, hingga gudang beku, dapat dikelola secara profesional melalui koperasi.

Keberhasilan program tersebut diukur dari peningkatan produksi dan mutu hasil perikanan, efisiensi biaya, perluasan akses pasar, pertumbuhan lapangan kerja, serta peningkatan pendapatan nelayan.

Hasil uji coba operasional KNMP Tongke-Tongke selama Mei hingga Agustus 2026 menunjukkan sejumlah perkembangan. Rata-rata pendapatan nelayan meningkat 76,2 persen, dari sekitar Rp2,6 juta menjadi Rp4,6 juta per bulan untuk setiap nelayan.

Pada periode yang sama, harga tuna juga meningkat dari sekitar Rp30 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram. Uji coba tersebut turut menyerap 39 tenaga kerja, sementara sebanyak 80 anggota koperasi terlibat dalam ekosistem KNMP.

Perkembangan lainnya terlihat dari mulai terhubungnya produksi dengan pasar yang lebih luas. Dari KNMP Tongke-Tongke, pengiriman tuna telah dilakukan sebanyak lima kali dengan total volume 65 ton dan nilai sekitar Rp2,54 miliar.

Jika sebelumnya tuna dipasarkan melalui Makassar dalam bentuk ikan utuh, kini komoditas tersebut diolah menjadi tuna loin dan dikirim langsung ke Jakarta. Pola ini menghasilkan efisiensi biaya pengiriman sekitar Rp1,5 juta untuk setiap pengiriman.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur KNMP tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi perikanan di tingkat hulu, tetapi juga mulai mendorong proses hilirisasi dan memperpendek rantai pemasaran.

Setelah Desa Samber-Binyeri di Biak dan KNMP Tongke-Tongke, transformasi ekonomi desa-desa perikanan diharapkan dapat berkembang pula di berbagai lokasi KNMP lainnya di Indonesia.