Tisu, Cumi-cumi, dan Laut yang Menghidupi

  • Whatsapp
Namanya Wawan, 22 tahun. Di dalam perahunya, sekitar seratus ekor cumi-cumi tersimpan dalam ember. Laut baru saja memberinya rezeki malam itu. (dok: Muliadi Saleh)

Membaca Keteguhan Seorang Nelayan dari Galesong

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Pukul tiga dini hari, laut belum selesai dengan riak dan ombak kecilnya. Sebuah perahu sederhana bergerak meninggalkan kegelapan, membawa seorang lelaki muda menembus malam menuju daratan.

Namanya Wawan, 22 tahun. Di dalam perahunya, sekitar seratus ekor cumi-cumi tersimpan dalam ember. Laut baru saja memberinya rezeki malam itu.

Dari Galesong, Takalar, sekitar 26 kilometer dari Makassar, Wawan berangkat sejak sore. Sekitar pukul 17.00, ia meninggalkan rumah menuju perairan di sekitar Pulau Kodingareng. Biasanya, perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar satu jam. Setelah itu, ketika langit mulai gelap, pancing diturunkan dan perjuangan pun dimulai.

Ia berjibaku dengan laut, angin, gelombang, dan ketidakpastian.

Dari pantai Makassar, Pulau Kodingareng masih tampak samar di kejauhan. Pulau itu berada sekitar 15 kilometer dari daratan Kota Makassar, dengan waktu tempuh menggunakan perahu motor sekitar 40–60 menit, tergantung cuaca dan kondisi gelombang.

Pagi itu, sekitar pukul tujuh, saya bertemu Wawan.

Pakaiannya sederhana. Wajahnya menyimpan kelelahan yang belum sempat benar-benar beristirahat. Pendidikan formalnya hanya sampai sekolah dasar. Namun, laut telah memberinya sekolah yang panjang—sekolah tentang kesabaran, keberanian, cuaca, arah angin, musim, membaca tanda-tanda alam, dan terutama tentang bagaimana manusia bertahan hidup tanpa banyak mengeluh.

“Cumi-cumi!” serunya menawarkan dagangan.

Di hadapannya terdapat dua wadah. Cumi-cumi dipisahkan berdasarkan ukurannya. Yang lebih besar, sekitar 25–30 ekor, ditawarkan Rp100 ribu. Sementara yang lebih kecil dijual Rp50 ribu.

Seorang bapak datang, bertanya harga, lalu membeli. Seorang ibu sempat menawar, tetapi akhirnya pergi karena merasa harganya agak mahal.

Wawan tetap bersikap biasa saja. Ia memahami hukum sederhana kehidupan: tidak semua yang ditawarkan akan dibeli, dan tidak setiap perjalanan ke laut selalu berakhir dengan keberuntungan.

Menurutnya, Agustus hingga September biasanya menjadi masa yang cukup baik untuk mencari cumi-cumi. Dalam sehari, pendapatan kotornya bisa mencapai sekitar Rp350 ribu. Namun, angka itu tentu belum dikurangi biaya bahan bakar, bekal, perawatan perahu, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Lalu saya menemukan sesuatu yang menarik dari cara Wawan mencari nafkah.

Umpannya adalah tisu.

Awalnya saya mengira tisu mungkin merupakan istilah lokal untuk jenis umpan tertentu. Saya bertanya lagi untuk memastikan.

“Tisu?”

“Ya.”

Ternyata benar. Umpan yang digunakan Wawan adalah tisu yang biasa kita gunakan sehari-hari, termasuk untuk keperluan di toilet.

Biasanya ia membawa satu gulung. Tisu tersebut kemudian diikat dengan benang pada mata pancing.

Sederhana sekali. Namun, justru di situlah cerita ini menjadi menarik. Sesuatu yang bagi kebanyakan orang mungkin dianggap remeh dan tidak bernilai, di tangan seorang nelayan dapat berubah menjadi alat untuk mencari penghidupan.

Barangkali begitulah kecerdasan manusia bekerja.

Ia tidak selalu lahir dari ruang kelas, laboratorium, buku tebal, atau gelar akademik. Kadang-kadang ia tumbuh dari pengalaman, keterdesakan, pengamatan yang panjang, percobaan berulang, dan hubungan yang terus-menerus dengan alam.

Wawan mungkin tidak belajar teori perikanan di perguruan tinggi. Namun, setiap malam ia berhadapan langsung dengan laut sebagai sebuah ruang belajar.

Ia membaca angin, mengenali musim, memahami perilaku ikan dan cumi. Ia mengetahui kapan harus berangkat, kapan harus bertahan, dan kapan harus pulang. Itulah pengetahuan yang lahir dari pengalaman.

Karena itu, ketika kita menyantap ikan atau cumi-cumi di meja makan, sesungguhnya kita sedang menikmati perjalanan panjang seseorang yang mungkin berangkat ketika sebagian besar manusia masih terlelap. Ada laut di belakangnya. Ada tenaga, risiko, ketidakpastian, dan tentu saja, ada doa.

Sekitar pukul sembilan atau sepuluh pagi, dagangan Wawan biasanya sudah habis. Ketika musim cumi berlalu, ia kembali memancing ikan.

Laut mengajarinya satu prinsip sederhana: ketika satu pintu rezeki mulai mengecil, jangan berhenti mengetuk pintu yang lain.

Begitulah dinamika kehidupan nelayan. Begitulah pula kehidupan manusia. Kita sering mengukur keberhasilan melalui besarnya angka, tingginya jabatan, panjangnya gelar, luasnya rumah, atau banyaknya kepemilikan.

Di luar ukuran-ukuran itu, ada manusia yang setiap hari mempertaruhkan dirinya di tengah laut hanya demi membawa pulang beberapa ratus ribu rupiah untuk keluarganya. Ia mungkin tidak banyak membaca buku.

Tetapi laut telah mengajarinya membaca tanda-tanda. Ia mungkin hanya tamat sekolah dasar tetapi pengalaman telah mengajarinya ilmu yang tidak selalu tertulis. Ia mungkin hanya menggunakan tisu sebagai umpan.

Dari selembar tisu itu kita dapat belajar sesuatu yang lebih besar: sesuatu yang sederhana dapat menjadi bernilai ketika berada di tangan orang yang mau berpikir, mencoba, dan berusaha.

Bukankah rezeki memang demikian?

Allah tidak selalu mengirimkannya melalui jalan yang kita bayangkan. Kadang melalui laut yang gelap. Kadang melalui pancing. Kadang melalui cumi-cumi. Bahkan, kadang-kadang melalui selembar tisu yang tampak tak berarti.

Maka mungkin tugas manusia bukan memastikan dari mana rezeki akan datang. Tugas kita adalah memastikan bahwa kita tetap berikhtiar ketika laut kehidupan sedang bergelombang. Wawan berangkat ketika malam masih pekat. Ia pulang ketika matahari mulai meninggi.

Di antara gelap dan terang itulah ia menjalani sebuah zikir kehidupan yang sederhana: berangkat, berusaha, berserah, lalu pulang.

Laut mungkin luas tetapi harapan manusia selalu lebih luas. Dari seorang nelayan muda di Galesong, kita belajar bahwa pelajaran kehidupan tidak selalu disampaikan melalui ruang-ruang besar. Kadang ia hadir di atas perahu kecil.

Kadang datang bersama aroma laut, bersembunyi di antara puluhan ekor cumi-cumi. Kadang pula, Tuhan menyelipkannya melalui selembar tisu. Sesuatu yang tampak sederhana, tetapi di tangan manusia yang gigih, berubah menjadi jalan menuju kebermanfaatan.

Begitulah laut menghidupi manusia. Bukan hanya dengan ikan dan cumi-cumi, tetapi juga dengan pelajaran tentang ketekunan, kreativitas, kesabaran, dan harapan.


Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban.”