PELAKITA.ID – Duabelas tahun lalu, tepatnya pada 2014, saya memperoleh kesempatan mengikuti sebuah workshop kepemimpinan di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Salah satu pembicaranya adalah Prof. Otto Scharmer, akademisi Massachusetts Institute of Technology (MIT) sekaligus penggagas Theory U, sebuah pendekatan kepemimpinan yang kini menjadi rujukan banyak organisasi dunia dalam menghadapi perubahan.
Workshop yang diinisiasi oleh Ir. Hugua—ketika itu menjabat Bupati Wakatobi—mengangkat tema Leadership in the VUCA World. Saat itu, istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) belum sepopuler sekarang.
Scharmer telah mengingatkan bahwa dunia sedang bergerak menuju situasi yang semakin sulit diprediksi, di mana pola-pola lama kepemimpinan tidak lagi memadai.
Kenangan itu kembali muncul ketika saya mengikuti pengukuhan pengurus empat organisasi Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) pada 14 November 2025, termasuk IKA Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas.
Di tengah suasana penuh optimisme tersebut, saya teringat satu pertanyaan sederhana yang diajukan Scharmer kepada para peserta workshop di Wakatobi.
“Who am I, and what can I contribute to the world?”
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan inti dari Theory U. Sebuah ajakan agar setiap individu dan organisasi berhenti sejenak, merefleksikan diri, lalu bertindak bukan berdasarkan kebiasaan masa lalu, melainkan berdasarkan masa depan yang ingin diwujudkan.
Saya percaya, pertanyaan yang sama seharusnya menjadi titik berangkat bagi organisasi alumni.
___
Prof. C. Otto Scharmer adalah dosen senior di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, sekaligus pendiri Presencing Institute dan salah satu pemikir paling berpengaruh di bidang kepemimpinan, inovasi, dan transformasi organisasi. Ia dikenal luas sebagai penggagas Theory U, sebuah pendekatan kepemimpinan yang menekankan pentingnya kesadaran diri (awareness), mendengarkan secara mendalam (deep listening), kolaborasi, dan kemampuan “menghadirkan masa depan yang sedang muncul” (leading from the emerging future). Gagasannya telah diterapkan oleh berbagai perusahaan global, lembaga pemerintahan, universitas, organisasi masyarakat sipil, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks, tidak pasti, dan penuh disrupsi. Melalui karya-karyanya seperti Theory U (2009) dan The Essentials of Theory U (2018), Scharmer mendorong organisasi untuk bertransformasi dari sekadar mengulang pola lama menuju penciptaan solusi inovatif yang berorientasi pada masa depan dan kebermanfaatan bersama.
Organisasi Alumni di Tengah Dunia yang Berubah
Dunia saat ini benar-benar memasuki era VUCA. Krisis iklim semakin nyata, disrupsi teknologi berbasis kecerdasan buatan berlangsung sangat cepat, ekonomi global mengalami ketidakpastian, sementara polarisasi sosial dan politik terjadi di berbagai negara.
Perubahan tidak lagi berlangsung secara bertahap, tetapi eksponensial.
Dalam situasi seperti ini, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan berkualitas. Mereka membutuhkan jaringan alumni yang mampu menjadi modal sosial, pusat inovasi, sekaligus mitra strategis dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.
Sayangnya, di Indonesia organisasi alumni masih sering dipersepsikan sebatas wadah reuni, nostalgia, atau kegiatan seremonial. Padahal, jika dikelola dengan visi yang tepat, alumni merupakan salah satu aset paling bernilai yang dimiliki sebuah universitas.
Theory U menawarkan perspektif menarik untuk membaca kembali peran tersebut.
Dalam berbagai karyanya, Otto Scharmer menjelaskan bahwa tantangan terbesar organisasi modern bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan terjebak pada apa yang disebut ego-system awareness.
Organisasi cenderung sibuk mempertahankan kepentingan kelompok, jabatan, atau identitas masing-masing. Akibatnya, energi habis untuk kompetisi internal, sementara tantangan eksternal terus berkembang.
Theory U mengajak organisasi bergerak menuju eco-system awareness, yaitu kesadaran bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi, saling percaya, dan penciptaan nilai bersama.
Perspektif ini sangat relevan bagi organisasi alumni.
IKA bukanlah ruang untuk mempertontonkan status sosial, posisi birokrasi, ataupun keberhasilan pribadi para alumninya. Sebaliknya, ia adalah ruang kolektif untuk menghubungkan berbagai potensi demi kemajuan almamater, mahasiswa, masyarakat, bahkan bangsa.
Organisasi alumni yang kuat bukan dibangun oleh siapa yang paling berpengaruh, melainkan oleh siapa yang paling bersedia berkontribusi.
Presencing: Berani Mendengar Masa Depan
Salah satu konsep paling terkenal dalam Theory U adalah presencing, yaitu kemampuan hadir secara utuh, mendengarkan secara mendalam, dan menangkap kemungkinan masa depan sebelum mengambil keputusan.
Konsep ini sesungguhnya sangat relevan bagi organisasi alumni.
IKA sering kali lebih sibuk membicarakan keberhasilan masa lalu dibanding membayangkan masa depan. Padahal tantangan generasi muda berbeda sama sekali dengan tantangan yang dihadapi para alumninya dua atau tiga dekade lalu.
Mahasiswa hari ini menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif, transformasi digital yang sangat cepat, tekanan perubahan iklim, hingga hadirnya kecerdasan buatan yang mengubah hampir semua profesi.
Karena itu, organisasi alumni perlu lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Mendengar kebutuhan mahasiswa. Mendengar perubahan industri. Mendengar aspirasi masyarakat. Mendengar arah perubahan dunia. Dari proses mendengar itulah lahir keputusan-keputusan yang relevan dengan masa depan.
Co-Sensing dan Co-Creating
Theory U tidak berhenti pada tahap refleksi. Setelah mendengarkan secara mendalam (deep listening), organisasi harus memasuki fase co-sensing, yakni memahami realitas bersama melalui pengalaman langsung dan keterlibatan dengan berbagai pemangku kepentingan.
Bagi organisasi alumni, ini berarti tidak cukup hanya menyelenggarakan seminar, rapat rutin, atau kegiatan seremonial. Alumni perlu kembali ke kampus, berdialog dengan mahasiswa, mendengar kebutuhan sivitas akademika, serta membangun interaksi yang erat dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat agar mampu menangkap tantangan yang benar-benar dihadapi.
Proses tersebut kemudian berlanjut pada tahap co-creating, yaitu menciptakan solusi secara kolaboratif.
Organisasi alumni dapat mewujudkannya melalui berbagai inisiatif strategis, seperti program mentoring mahasiswa, inkubasi startup berbasis alumni, riset kolaboratif, penyediaan beasiswa, penguatan jejaring internasional, pengembangan kewirausahaan, hingga advokasi kebijakan publik. Seluruh program itu bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan bentuk nyata kontribusi alumni dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, organisasi alumni tidak lagi berfungsi sebagai ruang berkumpul untuk mengenang masa lalu, tetapi berkembang menjadi ekosistem kolaborasi yang melahirkan inovasi dan kepemimpinan.
Dalam perspektif Otto Scharmer, alumni tidak cukup menjadi pengamat perubahan, melainkan harus menjadi bagian dari mereka yang merancang, menggerakkan, dan menciptakan masa depan bersama melalui aksi kolektif yang berdampak bagi almamater, masyarakat, dan bangsa.
Belajar dari Universitas Kelas Dunia
Banyak universitas terbaik dunia telah membuktikan bahwa organisasi alumni merupakan bagian penting dari strategi institusi.
MIT Alumni Association, misalnya, menghubungkan ribuan alumninya dalam jaringan inovasi global yang berkontribusi pada pengembangan teknologi, kecerdasan buatan, bioteknologi, hingga solusi perubahan iklim.
Harvard Alumni Association aktif mendukung pembelajaran sepanjang hayat, filantropi, dan pengembangan riset.
Oxford dan Cambridge memanfaatkan jejaring alumninya untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam ilmu pengetahuan maupun kebijakan publik.
Di Asia, University of Tokyo dan National University of Singapore juga berhasil menjadikan alumni sebagai mitra strategis dalam inovasi industri, pembangunan nasional, dan diplomasi akademik.
Kesamaan dari semua contoh tersebut adalah satu hal: organisasi alumni diposisikan sebagai ekosistem pengetahuan, bukan sekadar komunitas sosial.









