Boyd Whalan: Kunci Keberhasilan PAIR Bukan Sekadar Riset, tetapi Dampak Nyata bagi Masyarakat Sulawesi

  • Whatsapp
Boyd Whalan (image by Kamaruddin Azis)

MAKASSAR — Bagi Australia-Indonesia Centre (AIC), keberhasilan sebuah riset tidak diukur dari banyaknya publikasi ilmiah yang dihasilkan. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana penelitian mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memengaruhi kebijakan, dan memberikan manfaat nyata bagi daerah.

Pesan itu disampaikan Direktur Australia-Indonesia Centre (AIC), Boyd Whalan, ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai tujuan serta dampak Program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) dalam sesi PAIR Annual Meeting 2026 di Makassar.

Menurut Boyd, AIC memiliki posisi yang unik dibandingkan banyak organisasi internasional lainnya. Sejak 2014, lembaga konsorsium perguruan tinggi Australia dan Indonesia itu telah bekerja secara konsisten di Indonesia, bahkan memiliki kantor permanen beserta tim yang berbasis di Makassar.

Keberadaan tersebut, katanya, bukan sekadar simbol kehadiran, melainkan fondasi penting untuk memastikan hasil-hasil penelitian tidak berhenti di atas kertas.

“Kami berada di sini untuk jangka panjang. Sangat sedikit organisasi internasional yang memiliki kantor permanen dan tim lokal di Makassar. Posisi ini membuat kami lebih siap memastikan penelitian benar-benar menghasilkan dampak,” ujarnya.

Boyd menjelaskan bahwa PAIR bukanlah program pertama yang dijalankan AIC di Sulawesi. Sebelumnya, AIC telah menyelesaikan program serupa pada periode 2019–2023. Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk menyempurnakan pendekatan pada fase berikutnya.

Komitmen AIC, lanjutnya, adalah terus membangun kolaborasi erat dengan para peneliti, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal, hingga sektor industri agar penelitian yang dihasilkan tetap relevan, berkelanjutan, dan dapat diterapkan.

Salah satu kekuatan utama PAIR adalah pendekatan place-based, yaitu seluruh penelitian dirancang berdasarkan karakteristik dan kebutuhan lokal Sulawesi. Dengan pendekatan ini, solusi yang dikembangkan diharapkan benar-benar sesuai dengan tantangan yang dihadapi masyarakat setempat.

Selain itu, seluruh proyek dalam PAIR menggunakan pendekatan demand-driven, di mana setiap penelitian wajib memiliki impact partner yang terlibat sejak awal. Mitra tersebut tidak hanya membantu merumuskan pertanyaan penelitian, tetapi juga memberikan masukan selama proses riset hingga hasilnya siap diterapkan.

“Konferensi tahunan ini menjadi ruang bagi para impact partner untuk ikut membentuk arah perkembangan penelitian sehingga hasilnya benar-benar dapat dimanfaatkan,” jelasnya.

Boyd juga mengungkapkan bahwa berbagai evaluasi dari pemerintah Indonesia dan Australia memberikan masukan penting bagi pengembangan PAIR Batch 2.

Salah satu peningkatan paling menonjol adalah semakin luasnya keterlibatan perguruan tinggi. Jika Batch 1 melibatkan 19 universitas dari kedua negara, maka Batch 2 diproyeksikan menghadirkan lebih banyak universitas, khususnya perguruan tinggi lokal dari setiap provinsi di Sulawesi.

“Kami selalu memastikan ada universitas lokal yang terlibat dalam setiap provinsi di Sulawesi. Pada Batch 2, representasi tersebut akan semakin kuat, dan itu menjadi perkembangan yang sangat menggembirakan,” katanya.

Proses seleksi Batch 2 juga mengalami penyempurnaan melalui mekanisme kompetitif yang lebih terbuka, mengikuti berbagai masukan dari LPDP dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Boyd berharap pengumuman proyek-proyek terpilih dapat dilakukan dalam waktu dekat sehingga kolaborasi baru segera dimulai.

Lebih dari sekadar forum akademik, PAIR Annual Meeting 2026, menurut Boyd, merupakan “working meeting” yang mempertemukan puluhan universitas dengan para pengguna hasil riset.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peneliti berdialog langsung dengan pemerintah pusat dan daerah, pelaku industri, perusahaan, organisasi masyarakat, serta komunitas lokal yang nantinya akan menjadi pihak pertama yang memanfaatkan hasil penelitian.

Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, PAIR berupaya memperpendek jarak antara laboratorium dan ruang kebijakan, antara kampus dan masyarakat. Bagi AIC, riset terbaik bukan hanya yang menghasilkan pengetahuan baru, melainkan yang mampu mengubah kehidupan masyarakat secara nyata.

___
Penulis Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID