PELAKITA.ID – MAKASSAR – Upaya pemulihan ekosistem terumbu karang di Pulau Samalona memasuki babak yang menjanjikan.
Kolaborasi antara PT Intan Sejahtera Utama (ISMA) dan GGI SCUBA melalui Jaringan Adopsi Karang (JARI) menunjukkan bahwa rehabilitasi terumbu karang tidak lagi sekadar kegiatan transplantasi, tetapi telah berkembang menjadi program konservasi berbasis data ilmiah dengan sistem pemantauan yang terukur.
Program ini menjadi contoh bagaimana sinergi antara dunia usaha dan komunitas konservasi mampu menghadirkan solusi nyata bagi perlindungan ekosistem pesisir sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Konservasi Menjadi Bagian dari Tanggung Jawab Korporasi
Bagi PT Intan Sejahtera Utama, rehabilitasi terumbu karang merupakan bagian dari komitmen tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.
Direktur Utama PT Intan Sejahtera Utama, Muhammad Irfan, menegaskan bahwa investasi pada ekosistem laut merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat ekologis maupun sosial bagi generasi mendatang.
Menurutnya, keberhasilan program di Pulau Samalona menunjukkan bahwa kolaborasi antara sektor swasta dengan komunitas konservasi yang memiliki kompetensi teknis mampu menghasilkan dampak yang nyata dan terukur.
Program ini juga dirancang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem laut.
Menggunakan Karang yang Diselamatkan
Berbeda dengan metode transplantasi konvensional, program rehabilitasi di Samalona menerapkan pendekatan yang lebih ramah lingkungan melalui metode Fragments of Opportunity.
Metode ini memanfaatkan pecahan-pecahan karang yang telah terlepas secara alami atau berpotensi mati akibat aktivitas wisata maupun faktor lingkungan. Dengan demikian, tidak ada pengambilan fragmen dari koloni karang sehat sehingga risiko kerusakan ekosistem dapat diminimalkan.
Fragmen-fragmen tersebut kemudian dipasang pada media spider frame, yaitu rangka berbentuk jaring laba-laba yang dirancang memiliki stabilitas tinggi terhadap arus dan gelombang laut.
Struktur ini memberikan ruang tumbuh yang optimal bagi karang sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan transplantasi dalam jangka panjang.
Tingkat Kelangsungan Hidup Mencapai 98,8 Persen
Hasil monitoring yang dilakukan pada 10 Juli 2026, atau sekitar 20 hari setelah transplantasi yang dimulai pada 20 Juni 2026, menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan.
Program ini mencatat tingkat kelangsungan hidup (survival rate) sebesar 98,8 persen, menunjukkan bahwa hampir seluruh fragmen berhasil beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Selain itu, tim monitoring juga menemukan 233 cabang baru dari 15 sampel fragmen yang diamati. Pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa fase stres pascatransplantasi telah berhasil dilewati dan karang mulai memasuki fase pertumbuhan aktif.
Evaluasi menggunakan Coral Health Chart (CHC) memperlihatkan kondisi karang berada pada kategori sehat, ditandai dengan dominasi warna yang menunjukkan kepadatan zooxanthellae—alga mikroskopis yang hidup bersimbiosis dengan karang—dalam kondisi optimal.

Pemeliharaan Dilakukan Secara Berkala
Ketua Jaringan Adopsi Karang (JARI), Mudasir Zainuddin, yang bertindak sebagai penanggung jawab kegiatan transplantasi, menjelaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak hanya bergantung pada proses penanaman, tetapi juga pada pemeliharaan rutin.
Tim lapangan secara berkala membersihkan media transplantasi dari pertumbuhan alga yang dapat menghambat perkembangan karang.
Selain itu, fragmen yang menunjukkan pertumbuhan kurang optimal akan segera diganti sehingga setiap struktur spider frame tetap berfungsi secara maksimal sebagai habitat baru bagi terumbu karang.
Pendekatan adaptif tersebut memungkinkan kualitas rehabilitasi tetap terjaga sekaligus meningkatkan efektivitas penggunaan sumber daya yang tersedia.
Model Rehabilitasi yang Layak Direplikasi
Ketua GGI SCUBA, Zulqarnain, menilai keberhasilan di Pulau Samalona tidak hanya tercermin dari tingginya angka keberhasilan transplantasi, tetapi juga dari sistem pengelolaan yang dibangun.
Menurutnya, kombinasi antara pemantauan ilmiah yang terencana, pemeliharaan berkelanjutan, dan keterlibatan komunitas telah menciptakan model rehabilitasi yang dapat diterapkan di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
“Keberhasilan ini bukan sekadar soal angka. Yang lebih penting adalah terbentuknya sistem rehabilitasi yang dapat direplikasi di lokasi lain sehingga kawasan yang mengalami degradasi memiliki peluang untuk pulih secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ke depan, kolaborasi antara PT Intan Sejahtera Utama dan GGI SCUBA-JARI diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan ekosistem terumbu karang Pulau Samalona, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan pariwisata bahari yang berkelanjutan serta meningkatkan fungsi alami terumbu karang sebagai pelindung pesisir Kota Makassar dari ancaman abrasi dan perubahan iklim.
Melalui pendekatan berbasis sains, dukungan dunia usaha, dan partisipasi aktif komunitas, Pulau Samalona memperlihatkan bahwa pemulihan ekosistem laut dapat dilakukan secara efektif sekaligus menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.









