Mustamin Raga | Rembuk

  • Whatsapp
Ilustrasi

Tak Ada Konflik yang Terlalu Besar bagi Hati yang Bersedia Berembuk

PELAKITA.ID – Barangkali, sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak pernah ada masyarakat yang benar-benar bebas dari konflik. Sejak manusia pertama belajar hidup bersama, sejak dua orang mulai berbagi ruang, kepentingan, dan harapan, pada saat itulah perbedaan menjadi keniscayaan.

Perbedaan bukanlah cacad dalam kehidupan. Ia adalah bukti bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai salinan satu sama lain. Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan kehilangan ruang untuk dipertemukan.

Konflik sesungguhnya bukan lahir karena manusia berbeda pikiran. Konflik lahir ketika manusia merasa tidak lagi perlu memahami pikiran manusia lainnya. Ia tumbuh ketika ego lebih nyaring daripada nurani, ketika prasangka lebih dipercaya daripada klarifikasi, dan ketika gengsi lebih dijaga daripada persaudaraan.

Pada saat itulah, rembuk menemukan maknanya.

Rembuk bukanlah obat yang menghapus semua konflik dalam sekejap. Ia juga bukan tongkat ajaib yang membuat semua orang tiba-tiba sepakat. Rembuk adalah kesediaan untuk membuka pintu yang selama ini dikunci dari dalam. Ia adalah keberanian untuk berkata, “Mari kita duduk dulu sebagai manusia, sebelum kita berdiri sebagai lawan.”

Kalimat sederhana itu sering kali lebih kuat daripada seribu argumentasi. Saya selalu percaya bahwa hampir tidak ada konflik yang benar-benar tidak dapat diselesaikan. Yang sering kali tidak dapat diselesaikan adalah kesombongan yang menolak untuk duduk bersama untuk saling mengerti dan memahami.

Banyak perselisihan tidak berakhir karena persoalannya terlalu besar. Ia berlarut-larut justru karena tidak ada yang bersedia memulai.
Semua menunggu pihak lain datang lebih dahulu.

Semua berharap pihak lain meminta maaf lebih dahulu. Semua ingin dihormati, tetapi enggan lebih dahulu menghormati. Padahal, sejarah tidak pernah mencatat bahwa perdamaian lahir dari perlombaan mempertahankan gengsi.

Perdamaian selalu dimulai oleh seseorang yang cukup besar jiwanya untuk merendahkan egonya. Di situlah rembuk menjadi cermin kedewasaan. Karena dalam rembuk, orang yang pertama mengulurkan tangan bukanlah orang yang kalah. Dialah orang yang memahami bahwa hubungan jauh lebih mahal daripada kemenangan sesaat.

Dalam kehidupan birokrasi, saya sering menyaksikan bagaimana surat-menyurat menjadi semakin tebal, sementara hubungan antar-lembaga justru semakin tipis.

Koordinasi berubah menjadi korespondensi.

Dialog berganti menjadi sekedar disposisi.

Silaturahmi digantikan oleh surat tembusan.

Semuanya berjalan sesuai prosedur, tetapi tidak selalu berjalan menuju penyelesaian hakiki.

Kadang-kadang persoalan yang berbulan-bulan berputar di atas meja administrasi justru selesai dalam satu sore, ketika semua pihak bersedia duduk tanpa atribut jabatan, tanpa naskah sambutan, tanpa mikrofon, tanpa rasa ingin menang sendiri. Itulah kekuatan yang tidak dapat dihitung oleh indikator kinerja manapun. Karena yang bekerja bukan lagi semata-mata akal. Yang bekerja adalah hati.

Begitu pula dalam dunia politik. Sering kali yang dipertontonkan kepada publik adalah debat yang keras, saling menyalahkan, bahkan saling menjatuhkan. Setiap pihak sibuk mengumpulkan tepuk tangan pendukungnya, tetapi lupa mengumpulkan kembali kepercayaan yang tercerai-berai. Padahal politik pada hakikatnya bukan seni mengalahkan lawan. Politik adalah seni merawat kehidupan bersama. Dan kehidupan bersama tidak pernah dapat dipelihara apabila semua orang hanya pandai berdebat, tetapi tidak lagi mau berembuk.

Dalam keluarga, makna rembuk bahkan jauh lebih dalam. Tidak sedikit rumah tangga yang runtuh bukan karena persoalannya terlalu besar, melainkan karena percakapannya terlalu sedikit.

Anak berhenti bercerita kepada orang tuanya.

Suami dan istri lebih sering berbagi layar telepon daripada berbagi isi hati.

Saudara kandung berubah menjadi orang asing hanya karena bertahun-tahun tidak pernah lagi duduk bersama.

Hubungan-hubungan itu tidak hancur dalam satu malam. Ia retak perlahan, setiap kali kesempatan untuk berembuk ditunda.
Setiap kali ego berkata, “Nanti saja.”

Setiap kali hati berbisik, “Biarlah waktu yang menyelesaikan.” Padahal waktu tidak pernah menyelesaikan konflik. Waktu hanya membuat luka tampak lebih tua. Yang menyembuhkan tetaplah manusia yang bersedia membuka hatinya.

Mungkin karena itulah leluhur kita tidak pernah memandang rembuk sebagai kegiatan.
Ia adalah kebiasaan. Bahkan lebih dari itu, ia adalah cara hidup.

Rembuk tidak menunggu konflik datang. Ia dilakukan agar konflik tidak tumbuh menjadi permusuhan. Ia memelihara hubungan sebelum hubungan itu retak. Ia merawat kepercayaan sebelum kepercayaan itu hilang. Sebab orang-orang tua dahulu memahami satu kebijaksanaan yang hari ini terasa semakin langka, yakni hubungan yang baik jauh lebih mudah dipelihara daripada diperbaiki.

Saya melihat rembuk bukan sekedar warisan budaya.Ia adalah warisan cara berpikir. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah menemukan jalan keluar apabila masing-masing sibuk membangun tembok di sekitar dirinya. Jalan keluar hanya muncul ketika kita bersedia membuka pintu.

Bukankah sebuah rumah tidak menjadi hangat karena dindingnya? Ia menjadi hangat karena pintunya terbuka bagi mereka yang datang dengan niat baik. Begitu pula hati manusia. Ia tidak menjadi mulia karena selalu merasa benar. Ia menjadi mulia karena masih memiliki ruang untuk memahami kebenaran yang dibawa orang lain.

Maka, jika suatu hari komunikasi formal kembali menemui jalan buntu, jika surat-menyurat hanya melahirkan salah paham baru, jika rapat demi rapat hanya memperpanjang daftar perbedaan, barangkali yang kita perlukan bukan lagi meja yang lebih besar atau aturan yang lebih rinci.Barangkali yang kita perlukan hanyalah kembali kepada kebijaksanaan yang telah lama diajarkan oleh para leluhur kita.

Menggelar tikar.

Menyeduh kopi.

Menanggalkan jabatan di depan pintu.

Lalu duduk melingkar sebagai sesama manusia.

Sebab selama manusia masih bersedia berembuk, harapan tidak akan pernah kehilangan tempat untuk kembali.

Dan selama hati masih mau saling sipakatau, sipakalabbiri’, dan sipakainga’, tidak akan ada perselisihan yang begitu besar sehingga mustahil diperdamaikan. Karena sesungguhnya, yang menyelamatkan dunia bukanlah mereka yang paling pandai berbicara. Melainkan mereka yang masih percaya bahwa setiap persoalan selalu memiliki jalan pulang, selama manusia tidak berhenti berembuk.

Bategulung, 23 Juli 2026