Dalam unggahannya, Ustaz Das’ad menulis, “Musibah lagi. Gunung Krakatau erupsi, Bandara Soeta tutup, penerbangan cancel, penumpang terlantar. Perjalanan dakwah pun batal.”
PELAKITA.ID – Saya baru saja mengirim kabar ke kekasih yang sedang berada di Jakarta, mengingatkan untuk tetap memantau bandara sebab ada situasi mengkhawatirkan tentang anak Gunung Krakatau yang sedang ‘gelisah’.
Pembaca Pelakita.ID, ada saat ketika rencana manusia berhenti bukan karena kita kehabisan tenaga, kehilangan keberanian, atau salah mengambil keputusan, melainkan karena alam mengingatkan bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas perjalanan hidupnya.
Pesan semacam itu kembali terasa melalui unggahan dai dan akademisi Ustaz Das’ad Latif pada dua jam lalu terkait terganggunya perjalanan akibat erupsi Gunung Krakatau dan penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta.
Penerbangan dibatalkan, penumpang terlantar, sementara agenda dakwah yang telah disusun harus ditunda.
Dalam unggahannya, Ustaz Das’ad menulis, “Musibah lagi. Gunung Krakatau erupsi, Bandara Soeta tutup, penerbangan cancel, penumpang terlantar. Perjalanan dakwah pun batal.”
Unggahan itu kemudian ditutup dengan sebuah doa yang bernada keras sekaligus reflektif, “Ya Allah hukumlah hanya kepada hamba-MU yang merusak negeri kami.”
Bagian yang paling menarik justru terletak pada perumpamaan yang menyertainya: “Jika ada yang membocorkan kapal, maka semua penumpang terdampak atas kebocoran. Inilah pentingnya amar ma’ruf nahi munkar.”
Kalimat sederhana tersebut menyimpan pesan sosial yang jauh lebih luas daripada persoalan penerbangan yang batal. Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan bersama bekerja seperti sebuah kapal.
Kita boleh berbeda tujuan pribadi, berbeda pekerjaan, berbeda pandangan, bahkan berbeda pilihan dalam banyak hal, tetapi pada akhirnya kita berada dalam ruang sosial yang sama.
Ketika kapal mengalami kebocoran, air tidak bertanya siapa yang membuat lubang. Air akan terus masuk. Penumpang yang tidak ikut melubangi kapal tetap akan merasakan akibatnya.
Mereka yang berhati-hati pun tidak otomatis selamat hanya karena tidak terlibat dalam tindakan yang menyebabkan kerusakan.
Di situlah letak relevansi amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan sosial. Ia tidak semestinya dipahami sebatas kewajiban untuk menegur kesalahan orang lain.
Dalam pengertian yang lebih luas, ia merupakan kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ruang kehidupan bersama dari tindakan yang dapat merusak keselamatan orang banyak.

Analogi kapal itu terasa semakin relevan ketika kita melihat persoalan bangsa hari ini.
Kerusakan lingkungan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, intoleransi, hoaks, kekerasan, eksploitasi sumber daya alam, hingga ketidakpedulian terhadap kelompok rentan, semuanya dapat menjadi bentuk “kebocoran” yang pada akhirnya tidak mengenal batas antara pelaku dan korban.
Seseorang mungkin merasa bahwa kerusakan lingkungan bukan urusannya karena ia tidak menebang pohon, tidak membuang limbah, atau tidak melakukan eksploitasi. Namun ketika banjir datang, udara memburuk, sumber air tercemar, atau pesisir rusak, dampaknya dapat dirasakan bersama.
Begitu pula ketika kepercayaan publik rusak, seluruh masyarakat membayar harga sosialnya.
Kita sering lupa bahwa masyarakat bukan kumpulan individu yang berjalan sendiri-sendiri. Ada jaringan hubungan yang menghubungkan satu orang dengan orang lainnya.
Keputusan seorang pejabat dapat memengaruhi ribuan orang. Keputusan sebuah perusahaan dapat mengubah kehidupan sebuah desa. Tindakan satu kelompok dapat menciptakan ketegangan yang dirasakan kelompok lainnya.
Karena itu, kepedulian sosial sesungguhnya bukan tindakan heroik yang harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia dapat dimulai dari keberanian untuk mengingatkan ketika melihat sesuatu yang salah, kesediaan mendengarkan ketika orang lain mengalami kesulitan, serta kemauan menahan diri agar kepentingan pribadi tidak merugikan kepentingan bersama.
Pesan Ustaz Das’ad juga dapat dibaca dalam konteks hubungan manusia dengan alam. Erupsi gunung merupakan fenomena geologis yang tidak dapat begitu saja disederhanakan sebagai akibat perilaku manusia.
Alam memiliki dinamika dan hukum sendiri. Tetapi cara manusia memperlakukan lingkungan menentukan seberapa besar kerentanan yang kita hadapi ketika bencana datang.
Di sinilah penting membedakan antara bencana sebagai peristiwa alam dan risiko sebagai konsekuensi dari cara manusia membangun kehidupan.
Hujan deras mungkin merupakan fenomena alam, tetapi banjir dapat menjadi jauh lebih parah ketika daerah resapan berubah menjadi kawasan terbangun, drainase buruk, sungai dipenuhi sampah, dan tata ruang diabaikan.
Kita memang tidak selalu dapat menghentikan bencana. Namun kita dapat memperkecil risiko dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk menghadapinya.
Kapal yang baik bukanlah kapal yang tidak pernah menghadapi badai. Kapal yang baik adalah kapal yang dirawat, diperiksa, diperkuat, dan dijaga bersama sebelum badai datang.
Demikian pula sebuah bangsa. Ketahanan Indonesia tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, teknologi, dan kebijakan, tetapi juga melalui karakter masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keselamatan bersama.
Dalam konteks itu, amar ma’ruf nahi munkar dapat dibaca sebagai etika kewargaan. Ia mendorong kita untuk tidak sepenuhnya menjadi penonton ketika melihat “lubang” mulai muncul di kapal yang kita tumpangi bersama.
Tentu saja, mengingatkan tidak berarti merasa paling benar. Kepedulian juga tidak boleh berubah menjadi kebiasaan menghakimi.
Justru diperlukan kebijaksanaan untuk membedakan antara kritik yang bertujuan memperbaiki dengan kecaman yang hanya mempermalukan. Masyarakat yang sehat membutuhkan keberanian berbicara sekaligus kerendahan hati untuk mendengarkan.
Saya kira, inilah pesan paling penting dari metafora kapal tersebut. Tidak ada penumpang yang benar-benar terpisah dari nasib kapal.
Kita dapat duduk di kelas yang berbeda, berada di ruang yang berbeda, memiliki tiket yang berbeda, bahkan menikmati perjalanan dengan cara yang berbeda. Namun ketika kapal tenggelam, keselamatan menjadi persoalan bersama.
Indonesia pun demikian.
Kita mungkin hidup di kota yang berbeda, bekerja pada sektor yang berbeda, memiliki kemampuan ekonomi yang berbeda, dan memiliki pandangan yang berbeda tentang masa depan. Tetapi udara yang kita hirup, laut yang kita manfaatkan, tanah yang kita pijak, serta ruang sosial yang kita tempati adalah bagian dari kehidupan bersama.
____
Tamarunang, 6 September 2026









