Kampung Nelayan Merah Putih, Membangun Desa Pesisir dari Potensi dan Kebutuhan Lokal

  • Whatsapp
Ilustrasi ini masih versi lama, tapi tak banyak berubah kemudian (dok: Istimewa)

Setelah tahap pemodelan tersebut, pembangunan direncanakan berlanjut secara bertahap, yakni 100 lokasi pada 2025, 1.269 lokasi pada 2026, 1.000 lokasi pada 2027 – kemungkinan besar ditambah target melebihi angka 1000 di tahun ini, lalu, 2.000 lokasi pada 2028, dan 631 lokasi pada 2029.

PELAKITA.ID – Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) ditempatkan sebagai salah satu program prioritas pembangunan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) periode 2025–2029.

Berdasarkan informasi dalam flyer program, pembangunan KNMP dirancang dengan pendekatan tematik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing desa, sehingga pembangunan kampung nelayan tidak semata-mata berorientasi pada penyediaan infrastruktur, tetapi diarahkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Rencana pembangunan tersebut menargetkan 5.000 lokasi KNMP dalam periode 2025–2029.

Rencana itu merupakan bagian dari proses replikasi model yang telah dikembangkan sebelumnya di Sumber Binyeri, Biak, yang tercatat sebagai lokasi pemodelan pada 2023.

Setelah tahap pemodelan tersebut, pembangunan direncanakan berlanjut secara bertahap, yakni 100 lokasi pada 2025, 1.269 lokasi pada 2026, 1.000 lokasi pada 2027 – kemungkinan besar ditambah target melebihi angka 1000 di tahun ini, lalu, 2.000 lokasi pada 2028, dan 631 lokasi pada 2029.

Skala pembangunan tersebut menunjukkan bahwa KNMP dirancang bukan sebagai intervensi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai model pembangunan yang direplikasi ke berbagai desa nelayan dengan mempertimbangkan karakter lokal.

Pendekatan tematik memungkinkan kebutuhan sebuah desa nelayan tidak diperlakukan sama dengan desa lainnya. Potensi perikanan, kondisi sosial-ekonomi masyarakat, kebutuhan sarana produksi, hingga peluang pengembangan usaha dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan bentuk pembangunan di masing-masing lokasi.

Dari sisi dampak, KKP mengharapkan pembangunan KNMP dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan produktivitas nelayan.

Produktivitas dalam konteks ini berkaitan dengan kemampuan masyarakat nelayan meningkatkan aktivitas usaha perikanan melalui dukungan lingkungan produksi yang lebih baik. Dengan produktivitas yang meningkat, program juga diarahkan untuk mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan.

Dampak lain yang ditargetkan adalah penciptaan lapangan kerja. Artinya, pembangunan kampung nelayan tidak hanya melihat nelayan sebagai pelaku utama produksi perikanan, tetapi juga membuka ruang bagi aktivitas ekonomi lain yang tumbuh di sekitar ekosistem kampung.

Ketika aktivitas produksi, pengolahan, distribusi, perdagangan, dan layanan pendukung berkembang, kebutuhan terhadap tenaga kerja baru juga dapat meningkat.

Dengan demikian, KNMP dapat dibaca sebagai pendekatan pembangunan yang berupaya menghubungkan potensi desa, produktivitas perikanan, pendapatan rumah tangga, dan kesempatan kerja dalam satu kerangka pembangunan.

Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak kampung yang dibangun, tetapi juga oleh sejauh mana setiap lokasi mampu mengembangkan potensi lokal dan menghasilkan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Target 5.000 lokasi hingga 2029 menjadi gambaran besarnya skala program ini. Tantangannya adalah memastikan proses replikasi tidak sekadar memperbanyak jumlah lokasi, tetapi tetap mempertahankan prinsip bahwa setiap kampung nelayan memiliki karakter, kebutuhan, dan potensi yang berbeda.

Dengan pendekatan berbasis kebutuhan dan potensi lokal sebagaimana dirancang KKP, KNMP diarahkan menjadi instrumen untuk membangun kampung nelayan yang lebih produktif, menciptakan pekerjaan, sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir.