“Kehadiran Kampung Nelayan Merah Putih Samber-Binyeri tidak hanya memperkuat ekonomi nelayan, tetapi juga menghidupkan ruang publik warga. Dari destinasi wisata bahari, spot foto pre-wedding, hingga pusat pelaksanaan Upacara HUT RI 17 Agustus 2024, kawasan ini terbukti memberi manfaat sosial-ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir Papua.”
PELAKITA.ID – BIAK NUMFOR — Pagi di kampung nelayan selalu dimulai dari laut. Perahu-perahu kembali membawa hasil tangkapan, keluarga menunggu di daratan, sementara aktivitas ekonomi perlahan bergerak mengikuti pasang-surut kehidupan pesisir.
Di Samber-Binyeri, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pemandangan seperti itu kini ditempatkan dalam sebuah gagasan yang lebih besar: bagaimana sebuah kampung nelayan dapat tumbuh tanpa kehilangan hubungan dengan laut yang menjadi sumber kehidupannya.
Perubahan itu terlihat dari sesuatu yang sederhana tetapi sangat penting bagi masyarakat pesisir: tempat perahu bersandar.
Dermaga yang sebelumnya identik dengan struktur kayu dan akses terbatas kini dibayangkan sebagai ruang publik sekaligus simpul ekonomi, dengan konstruksi yang lebih kokoh, penerangan, akses jalan, serta jalur pedestrian yang membuat kawasan pantai terasa lebih terbuka dan tertata.
Laut tetap menjadi pusat kehidupan, tetapi wajah ruang di sekitarnya berubah. Jalan yang sebelumnya berupa tanah atau permukaan berbatu kini tersambung dengan akses yang lebih baik, sementara tepian pantai ditata dengan pedestrian dan ruang terbuka. Perubahan fisik tersebut bukan sekadar soal estetika. Bagi kampung nelayan, kualitas akses menentukan bagaimana orang, ikan, peralatan, kendaraan, dan berbagai aktivitas ekonomi bergerak dari laut menuju daratan.
Di sinilah gagasan Kampung Nelayan Merah Putih memperoleh makna yang lebih luas. Kampung nelayan tidak cukup hanya memiliki dermaga. Setelah ikan didaratkan, ada rangkaian kebutuhan lain yang menentukan apakah hasil tangkapan tersebut akan menjadi sumber pendapatan yang lebih baik bagi keluarga nelayan atau justru kehilangan nilai sebelum mencapai pasar.
Samber-Binyeri memperlihatkan pendekatan yang mencoba membaca seluruh rangkaian tersebut sebagai satu ekosistem.
Tempat Pelelangan Ikan, pabrik es, gudang beku, shelter coolbox, kios persediaan, dan bengkel nelayan ditempatkan dalam kawasan yang saling mendukung. Nelayan dapat mendaratkan ikan, menjaga mutunya, memperoleh kebutuhan melaut, sekaligus melakukan perawatan terhadap armada tanpa harus bergerak terlalu jauh dari pusat aktivitas kampung.
Dalam kehidupan nelayan, es bukan sekadar benda yang digunakan untuk mendinginkan ikan. Ia menentukan berapa lama kualitas hasil tangkapan dapat dipertahankan.
Gudang beku bukan sekadar bangunan penyimpanan, tetapi bagian dari kemampuan masyarakat untuk menunda penjualan ketika kondisi pasar belum menguntungkan. Bengkel bukan hanya tempat memperbaiki perahu, melainkan bagian dari infrastruktur yang membuat aktivitas melaut dapat terus berlangsung.
Logika semacam itu penting karena kemiskinan atau keterbatasan ekonomi di wilayah pesisir sering kali tidak semata-mata disebabkan oleh rendahnya produksi. Masalah juga dapat muncul setelah ikan ditangkap, ketika nelayan berhadapan dengan keterbatasan penyimpanan, akses pasar, biaya logistik, kebutuhan perbekalan, hingga posisi tawar dalam rantai perdagangan.
Karena itu, membangun kampung nelayan sesungguhnya berarti membangun rantai kehidupan ekonomi di sekitar nelayan.
Dermaga, tempat pelelangan, fasilitas rantai dingin, bengkel, kios, ruang pelatihan, dan sentra kuliner memiliki fungsi berbeda, tetapi nilai strategisnya muncul ketika semuanya bekerja sebagai satu sistem.
Di sisi lain, kampung nelayan bukan hanya tempat produksi ikan. Ia adalah tempat keluarga hidup, anak-anak tumbuh, warga bertemu, dan pengetahuan tentang laut diwariskan. Karena itu, keberadaan balai pelatihan dan ruang publik menjadi penting untuk memperluas makna pembangunan dari sekadar fasilitas fisik menuju peningkatan kapasitas masyarakat.
Balai pelatihan dapat menjadi tempat nelayan dan generasi muda belajar keterampilan baru, mendiskusikan pengelolaan usaha, memahami teknologi, atau membangun kerja sama.
Ruang publik memungkinkan kampung tetap menjadi milik warganya, bukan sekadar kawasan infrastruktur yang dibangun dari luar kemudian ditinggalkan setelah proyek selesai.
Sentra kuliner memberikan dimensi lain. Di tempat seperti ini, ikan tidak berhenti sebagai komoditas yang keluar dari kampung. Ia dapat kembali hadir sebagai makanan, pengalaman, dan identitas lokal. Keluarga nelayan, perempuan, pelaku usaha kecil, dan generasi muda berpeluang mengambil bagian dalam aktivitas ekonomi yang lebih luas daripada sekadar menangkap ikan.
Bagi kawasan seperti Biak Numfor, dimensi tersebut menjadi menarik karena laut bukan hanya ruang produksi, tetapi juga bagian dari identitas sosial dan lanskap kehidupan masyarakat. Pesisir yang bersih, akses yang nyaman, bangunan yang tertata, dan ruang publik yang menghadap laut dapat mempertemukan aktivitas ekonomi dengan kehidupan sosial tanpa harus menghilangkan karakter kampung.
Intervensi di Samber-Binyeri disebut memiliki nilai sekitar Rp22,1 miliar, sebuah angka yang menunjukkan besarnya investasi yang dibutuhkan untuk mengubah sebuah kawasan pesisir menjadi ekosistem ekonomi yang lebih terpadu.
Nilai investasi itu pada akhirnya tidak hanya akan dinilai dari berapa banyak bangunan yang berdiri, tetapi dari bagaimana fasilitas tersebut digunakan dan dikelola oleh masyarakat.
Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Bangunan baru dapat terlihat mengesankan pada hari peresmian, tetapi kehidupan sebuah kampung berlangsung jauh lebih lama daripada sebuah seremoni.
Dermaga membutuhkan pemeliharaan, mesin membutuhkan perawatan, gudang beku membutuhkan listrik dan tata kelola, pabrik es membutuhkan operasional yang berkelanjutan, sementara ruang pelatihan membutuhkan program dan orang-orang yang terus menghidupkannya.
Keberhasilan Kampung Nelayan Merah Putih karena itu tidak cukup diukur dari perubahan before-after pada gambar.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah nelayan memperoleh akses ekonomi yang lebih baik, apakah hasil tangkapan memiliki nilai lebih tinggi, apakah biaya produksi dapat ditekan, apakah keluarga nelayan memperoleh peluang usaha baru, dan apakah masyarakat memiliki kapasitas untuk mengelola fasilitas tersebut dalam jangka panjang.
Ada pula pertanyaan tentang siapa yang mendapatkan manfaat. Sebuah kampung nelayan memiliki banyak aktor: nelayan pemilik perahu, anak buah kapal, pedagang ikan, pengolah hasil perikanan, perempuan pesisir, pemuda, pelaku usaha kecil, pemerintah desa, koperasi, dan berbagai lembaga yang bekerja di dalamnya.
Semakin terintegrasi infrastrukturnya, semakin penting pula memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak terkonsentrasi hanya pada segelintir pelaku.
Dari Samber-Binyeri, kita dapat membaca sebuah perubahan cara pandang yang lebih luas terhadap kampung nelayan Indonesia. Kampung pesisir tidak lagi seharusnya dilihat semata sebagai tempat tinggal masyarakat miskin di tepi laut, tetapi sebagai ruang ekonomi yang memiliki potensi produksi, perdagangan, pengolahan, wisata, pendidikan, dan inovasi.
Pendekatan tersebut juga mengingatkan bahwa pembangunan pesisir bukan sekadar memindahkan wajah kampung dari kumuh menjadi modern.
Transformasi yang lebih mendalam terjadi ketika masyarakat memperoleh infrastruktur, pengetahuan, akses pasar, kelembagaan, dan kesempatan untuk menentukan bagaimana ruang hidup mereka berkembang.
Biak Numfor memberikan sebuah gambaran tentang kemungkinan tersebut. Di bawah langit Papua dan di hadapan laut yang menjadi halaman depan kampung, dermaga baru, ruang usaha, fasilitas perikanan, jalan, pedestrian, pusat kuliner, dan ruang pelatihan mencoba disatukan dalam satu lanskap kehidupan.
Jika pendekatan itu mampu bertahan setelah proyek selesai, Samber-Binyeri tidak hanya menjadi contoh perubahan fisik sebuah kampung nelayan. Ia dapat menjadi pembelajaran tentang bagaimana negara membangun dari laut ke daratan, dari ikan ke ekonomi keluarga, dan dari infrastruktur menuju kapasitas masyarakat.
Wajah baru kampung nelayan bukan ditentukan oleh warna merah-putih pada bangunan, panjang dermaga, atau jumlah fasilitas yang dibangun.
Wajah baru itu akan terlihat ketika seorang nelayan pulang dengan hasil tangkapan yang tetap bernilai, keluarganya memperoleh lebih banyak pilihan ekonomi, anak muda melihat masa depan di kampungnya sendiri, dan masyarakat memiliki alasan untuk merawat apa yang telah dibangun bersama.
Dari Biak Numfor, pertanyaan tentang kampung nelayan Indonesia kemudian menjadi lebih besar: bukan hanya bagaimana membangun kampung di tepi laut, tetapi bagaimana membuat kehidupan masyarakat pesisir tumbuh bersama laut yang selama ini menopangnya.
Secara operasional, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dirancang sebagai ekosistem usaha perikanan yang menghubungkan aktivitas nelayan sejak persiapan melaut hingga produk sampai ke pasar.
Rangkaian ini mencakup ketersediaan perbekalan dan BBM melalui SPBN, dukungan slurry ice untuk menjaga mutu ikan sejak di laut, fasilitas pendaratan, cold storage dan shelter coolbox, hingga distribusi, pengolahan, dan pemasaran. Dengan pendekatan tersebut, kampung nelayan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi pesisir dari hulu hingga hilir.
Setelah ikan didaratkan, sistem rantai dingin berperan mempertahankan kualitas dan mengurangi tekanan untuk segera menjual hasil tangkapan karena keterbatasan penyimpanan.
Produk kemudian dapat dipasarkan sebagai ikan segar, disimpan, atau diolah menjadi produk bernilai tambah sebelum didistribusikan ke pasar domestik maupun ekspor. Pada tahap pemasaran, keberadaan offtaker atau pembeli yang jelas diharapkan memberikan kepastian penyerapan, memperkuat posisi tawar nelayan, serta menghubungkan produksi lokal dengan kebutuhan pasar.
Integrasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan tiga dampak utama, yakni meningkatkan produksi dan mutu hasil perikanan, memperkuat pendapatan nelayan dan keluarga pesisir, serta menciptakan lapangan kerja lokal di sepanjang rantai usaha.
Karena itu, KNMP pada dasarnya bukan sekadar pembangunan dermaga, gudang, atau fasilitas perikanan, melainkan upaya membangun satu sistem ekonomi pesisir yang menghubungkan produksi, logistik, teknologi, kelembagaan, pengolahan, dan pasar agar nilai yang dihasilkan dari laut dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat di kawasan pesisir.
Redaksi









