PELAKITA.ID – Jika membaca desain tata letak Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang disusun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), terlihat bahwa program ini tidak sekadar berbicara tentang membangun fasilitas fisik di kawasan pesisir.
Di balik pembagian ruang antara KNMP Hub dan KNMP Penyangga, terdapat gagasan untuk membangun sebuah ekosistem ekonomi perikanan yang saling terhubung, dengan aneka urusan di dalamnya tetapi diarahkan pada satu tujuan: membuat ekonomi pesisir terus berdenyut.
Dalam desain tersebut, KNMP Hub ditempatkan sebagai pusat utama ekosistem perikanan kawasan.
Posisinya berada di bagian tengah dengan area lahan dan fasilitas yang lebih luas dibandingkan kawasan penyangga. Kompleks ini dilengkapi berbagai fasilitas layanan, seperti Cold Storage, SPBUN, kantor atau kios perbekalan, area parkir dan distribusi, serta akses dermaga utama yang memanjang untuk mendukung aktivitas bongkar muat kapal nelayan.
Posisi Hub tersebut memperlihatkan fungsi yang lebih besar daripada sekadar tempat berkumpulnya fasilitas.
Ia dirancang sebagai simpul utama pengolahan dan distribusi, tempat berbagai aktivitas ekonomi perikanan dapat bertemu dan saling menguatkan. Hasil tangkapan nelayan, kebutuhan perbekalan, penyimpanan ikan, bahan bakar, aktivitas bongkar muat, hingga distribusi produk ditempatkan dalam satu ekosistem yang lebih terorganisasi.
Di luar Hub, desain KNMP juga mengenal kawasan Penyangga yang terdiri atas lima variasi tata letak.
Variasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan KNMP tidak menggunakan satu desain yang dipaksakan untuk semua lokasi, tetapi menyesuaikan diri dengan kondisi geografis, ketersediaan lahan, serta karakteristik kawasan pesisir setempat.
KNMP Penyangga 1, misalnya, dirancang pada lahan darat sekitar 1.100 m². Model ini memiliki fasilitas darat yang cukup luas dengan dermaga lurus yang menjorok ke laut.
Sementara itu, KNMP Penyangga 2 menggunakan lahan darat sekitar 750 m² dengan tata letak yang lebih kompak, dilengkapi beberapa unit bangunan darat dan dermaga perintis.
Desain berikutnya menunjukkan bagaimana KNMP dapat beradaptasi dengan kondisi kawasan yang tidak sepenuhnya berbasis daratan. KNMP Penyangga 3 dirancang menggunakan lahan perairan dengan konsep deck on pile sekitar 1.000 m².
Fasilitas dibangun di atas permukaan air menggunakan tiang pancang, sehingga model ini dapat diterapkan pada kawasan pesisir dangkal atau rawa pantai.
KNMP Penyangga 4 memiliki skala yang lebih kecil dengan lahan darat sekitar 500 m². Model ini merupakan bentuk penyangga dengan area darat paling minimalis, tetapi tetap dilengkapi fasilitas utama serta dermaga untuk penambatan kapal.
Sementara itu, KNMP Penyangga 5 dirancang pada lahan perairan dengan konsep levelling sekitar 900 m², dilengkapi dermaga berbentuk siku atau huruf L.
Lima variasi tersebut memperlihatkan satu hal penting: desain KNMP dibangun dengan pendekatan yang fleksibel.
Kondisi topografi lokal, apakah berupa daratan, perairan, kawasan dangkal, maupun ruang pesisir dengan keterbatasan lahan, menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan bentuk fasilitas yang dibangun.
Fleksibilitas tersebut sekaligus memperlihatkan adanya keterkaitan sistem antara Hub dan Penyangga. KNMP Hub berfungsi sebagai simpul utama pengolahan dan distribusi, sedangkan KNMP Penyangga 1 hingga 5 berfungsi sebagai titik pengumpul (collection point) hasil tangkapan dari desa-desa di sekitarnya.
Dengan konstruksi seperti itu, fasilitas yang terlihat dalam gambar bukanlah bagian-bagian yang berdiri sendiri.
Cold Storage, pabrik es, SPBUN, dermaga, kios perbekalan, bengkel, area distribusi, hingga titik pengumpulan hasil tangkapan merupakan bagian dari mata rantai yang dirancang untuk memperlancar aktivitas ekonomi perikanan dari desa-desa pesisir menuju simpul utama.
Karena itu, membaca desain KNMP tidak cukup hanya dengan melihat ukuran lahan, bentuk dermaga, atau posisi bangunan. Denah tersebut sebenarnya sedang menggambarkan sebuah cara kerja ekonomi pesisir: ada titik produksi, titik pengumpulan, titik penyimpanan, titik pelayanan, titik distribusi, dan simpul utama yang menghubungkan semuanya.
Aneka fasilitas itu mengurus hal yang berbeda, tetapi orientasinya sama.
Nelayan membutuhkan tempat mendaratkan hasil tangkapan, ikan membutuhkan penanganan agar kualitasnya terjaga, kapal membutuhkan bahan bakar dan perbekalan, produk membutuhkan ruang penyimpanan dan distribusi, sementara masyarakat membutuhkan aktivitas ekonomi yang mampu menciptakan pendapatan dan kesempatan kerja.
Di situlah makna Hub dan Penyangga menjadi lebih penting daripada sekadar pembagian ruang.
Keduanya dirancang untuk membentuk jaringan ekonomi antarkampung nelayan, sehingga aktivitas perikanan tidak berhenti pada saat ikan ditangkap dan didaratkan, tetapi terus bergerak melalui penyimpanan, pengolahan, perdagangan, distribusi, hingga aktivitas ekonomi turunan lainnya.
Desain tersebut pada akhirnya membawa gagasan sederhana tetapi penting: membangun kampung nelayan bukan hanya membangun bangunan, melainkan membangun hubungan antaraktivitas ekonomi.
Ketika hubungan itu bekerja, dermaga tidak hanya menjadi tempat kapal bersandar, Cold Storage tidak hanya menjadi tempat menyimpan ikan, dan SPBUN tidak hanya menjadi tempat mendapatkan BBM.
Semuanya menjadi bagian dari sebuah ekosistem yang saling menghidupkan. Aneka urusan bertemu dalam satu kawasan, berbagai aktor terhubung dalam satu jaringan, dan seluruh fasilitas diarahkan pada satu tujuan yang sama: membuat ekonomi pesisir bergerak, tumbuh, dan terus berdenyut.
Redaksi









