Blue Tourism 2045: Saatnya Laut Menjadi Subjek, Bukan Sekadar Objek Pariwisata

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Pelakita.ID
  • Masa depan pariwisata bahari Indonesia ditentukan oleh seberapa baik kita menjaga laut yang menjadi alasan wisatawan datang. Jika laut rusak, destinasi kehilangan daya tariknya. Jika laut sehat, pariwisata memiliki masa depan.
  • Hari Pariwisata Dunia 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan membantu kita membangun pariwisata yang lebih cerdas—tetapi juga lebih biru, lebih adil, dan lebih berkelanjutan.

Oleh Ahmad Bahar, Dosen Ilmu Kelautan Unhas, pakar pariwisata Bahari

PELAKITA.ID- Indonesia kini tidak kekurangan laut untuk dijual sebagai destinasi dan objek daya tarik wisata bahari. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk mengubah pendekatan mengelola sumber daya tersebut agar lebih bernilai buat masyarakat, bangsa dan negara.

Lebih dari 17.000 pulau, garis pantai sekitar 108.000 kilometer, keanekaragaman hayati laut yang luar biasa, dan posisi sebagai pusat Coral Triangle, Indonesia memiliki modal alam yang sulit ditandingi.

Modal tersebut sekaligus merupakan amanah. Laut bukan sekadar latar belakang foto wisata, melainkan fondasi ekologis dan ekonomi yang menentukan masa depan pariwisata bahari.

Hari ini 27 September 2026, merupakan Hari peringatan Pariwisata Dunia bertema “Digital Agenda and Artificial Intelligence to Redesign Tourism”.

Tema tersebut relevan bagi Indonesia. Pertanyaannya bukan sekadar bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat mempromosikan destinasi, tetapi bagaimana teknologi dapat membantu kita mengetahui kapan sebuah destinasi sudah terlalu penuh, kapan terumbu karang mulai tertekan, bagaimana arus laut membawa sampah, dan bagaimana manfaat ekonomi wisata dapat lebih adil diterima masyarakat pesisir.

Paradigma yang harus berubah

Gagasan Blue Tourism 2045 berangkat dari perubahan paradigma pariwisata bahari: dari wisata massal menuju nature tourism, ecotourism, conservation tourism, dan scientific tourism.

Pergeseran ini bukan sekadar perubahan selera wisatawan. Ia merupakan konsekuensi dari meningkatnya tekanan terhadap destinasi. Overtourism, degradasi ekosistem, sampah laut, konflik pemanfaatan ruang, dan penurunan kualitas lingkungan menunjukkan bahwa paradigma “semakin banyak wisatawan semakin baik” tidak lagi memadai.

Contoh aktual terlihat di Taman Nasional Komodo. Pemerintah memberlakukan pembatasan kunjungan maksimal 1.000 orang per hari pada sejumlah destinasi utama, termasuk Pulau Padar, Rinca, Komodo, dan lokasi penyelaman.

Kebijakan tersebut didasarkan pada pertimbangan daya dukung dan keberlanjutan ekosistem.

Laut yang semakin tertekan

Persoalan sampah menunjukkan tantangan lain. Di Pulau Derawan, destinasi penyelaman yang menjadi salah satu ikon wisata bahari Indonesia, tekanan sampah telah menjadi persoalan serius. Sampah berasal dari aktivitas masyarakat dan pariwisata, sekaligus terbawa arus laut dari wilayah lain.

Penelitian terbaru di Sabang juga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah plastik di pulau-pulau kecil membutuhkan pendekatan berbasis masyarakat dan multipihak.

Ilustrasi Pelakita oleh AI

Ancaman terhadap terumbu karang bahkan tidak selalu terlihat. Penelitian terhadap ratusan penyelam di Indonesia dan Filipina menemukan kontak penyelam dengan terumbu rata-rata sekitar sekali setiap empat menit. Lebih dari 40 persen kontak yang diamati menimbulkan kerusakan yang terlihat.

Pada saat yang sama, perubahan iklim memperbesar tekanan tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan terumbu karang Indonesia memiliki tingkat ketahanan tertentu terhadap peningkatan suhu laut, tetapi ketahanan itu memiliki batas.

Dengan demikian, wisata bahari tidak cukup hanya “ramah lingkungan” dalam slogan. Ia harus berbasis pada kapasitas ekologis yang dapat diukur.

Oseanografi harus menjadi dasar

Di sinilah ilmu oseanografi harus ditempatkan di jantung perencanaan pariwisata bahari. Gelombang, arus, pasang surut, suhu, kedalaman, kecerahan, kualitas air, hingga dinamika biota bukan sekadar data akademik. Semua menentukan kesesuaian lokasi, keselamatan wisatawan, kenyamanan, kapasitas kunjungan, bahkan jenis aktivitas wisata yang dapat dikembangkan.

Materi Blue Tourism 2045 menempatkan oseanografi sebagai salah satu fondasi penting karena objek wisata bahari terbentuk oleh dinamika laut, sekaligus menentukan keamanan dan kenyamanan wisatawan.

AI untuk mengendalikan, bukan mempercepat overtourism

Tema Hari Pariwisata Dunia 2026 memberikan peluang baru. Indonesia dapat memanfaatkan AI untuk membangun smart marine tourism: memprediksi gelombang dan cuaca, memantau kualitas perairan, memetakan biodiversitas, menghitung kepadatan wisatawan, serta mendeteksi tekanan terhadap ekosistem.

Lebih jauh, gagasan digital twin destination dapat dikembangkan untuk membuat model virtual destinasi yang menggabungkan data oseanografi, lingkungan, wisatawan, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi. AI tidak boleh hanya menjadi mesin promosi yang mengarahkan jutaan wisatawan ke tempat yang sama.

Algoritma justru harus digunakan untuk mendistribusikan kunjungan, memberi peringatan ketika daya dukung tercapai, dan mengarahkan wisatawan ke destinasi alternatif yang secara ekologis dan sosial lebih siap. Dengan demikian, teknologi tidak mempercepat overtourism, tetapi membantu mencegahnya.

Menuju Blue Tourism 2045

Indonesia membutuhkan paradigma baru yang mengintegrasikan konservasi laut, kesejahteraan masyarakat, ekonomi biru, oseanografi, teknologi, dan tata kelola kolaboratif.

Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Pelaku usaha harus mengubah ukuran keberhasilan dari sekadar jumlah wisatawan dan investasi menuju kualitas pengalaman dan keberlanjutan ekosistem.

Masyarakat pesisir harus ditempatkan sebagai pemilik manfaat, bukan sekadar tenaga kerja. Akademisi harus menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

Ukuran keberhasilan pariwisata bahari masa depan juga harus diperluas: kesehatan terumbu karang, kualitas perairan, pengurangan sampah, kepatuhan terhadap daya dukung, pendapatan masyarakat lokal, keselamatan wisatawan, dan kemampuan ekosistem untuk pulih harus menjadi bagian dari indikator kinerja destinasi.

Roadmap Blue Tourism 2030–2045 harus membawa Indonesia dari sekadar negara tujuan wisata bahari menjadi salah satu pemimpin pariwisata bahari berkelanjutan dunia.

Masa depan bukan tentang mengeksploitasi lebih banyak laut untuk pariwisata, melainkan memperoleh manfaat lebih besar dari laut dengan tekanan ekologis yang lebih kecil.

Pembaca sekalian, masa depan pariwisata bahari Indonesia ditentukan oleh seberapa baik kita menjaga laut yang menjadi alasan wisatawan datang. Jika laut rusak, destinasi kehilangan daya tariknya. Jika laut sehat, pariwisata memiliki masa depan.

Hari Pariwisata Dunia 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan membantu kita membangun pariwisata yang lebih cerdas—tetapi juga lebih biru, lebih adil, dan lebih berkelanjutan.(*)

Editor Denun