Mengapa Pilihan Kopi dan Musik Kita Tidak Pernah Benar-Benar Pribadi

  • Whatsapp
Bourdieu membantu kita melihat persoalan tersebut dari arah yang berbeda. Menurutnya, selera tidak lahir di ruang kosong. Apa yang kita anggap indah, nyaman, enak, berkelas, sederhana, membosankan, bahkan menjengkelkan, terbentuk melalui pengalaman sosial yang panjang.

Di sinilah gagasan Bourdieu menjadi menarik. Selera bukan hanya sesuatu yang kita miliki, tetapi juga sesuatu yang membantu kita menemukan tempat di dalam masyarakat.

PELAKITA.ID – Pagi ini saya kembali memikirkan sebuah percakapan tentang Pierre Bourdieu dan bukunya yang terkenal, La Distinction, atau Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste.

Sahabat kita semua, Judy Raharjo, memberi contoh sederhana tentang perbedaan selera manusia, terutama dalam musik, busana, makanan, tempat berkumpul, hingga cara seseorang menikmati waktu luangnya.

Semakin saya membaca, googling, semakin terasa bahwa perkara selera ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar jawaban, “Saya suka karena memang saya suka.”

Bayangkan sebuah pagi di kota. Seseorang memilih duduk di sebuah kafe dengan desain interior yang rapi, pendingin udara, musik lembut, koneksi internet, dan secangkir kopi seharga Rp50.000.

Beberapa ratus meter dari sana, seseorang lain duduk di warkop sederhana, menikmati kopi lokal seharga Rp10.000, ditemani gorengan, rokok, percakapan teman, serta suara kendaraan yang berlalu-lalang. Apakah perbedaan itu semata-mata soal harga kopi dan kemampuan ekonomi?

Bourdieu membantu kita melihat persoalan tersebut dari arah yang berbeda. Menurutnya, selera tidak lahir di ruang kosong. Apa yang kita anggap indah, nyaman, enak, berkelas, sederhana, membosankan, bahkan menjengkelkan, terbentuk melalui pengalaman sosial yang panjang.

Keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, pekerjaan, ekonomi, perjalanan hidup, serta berbagai pengalaman kebudayaan ikut membentuk cara kita menilai dunia.

Karena itu, secangkir kopi sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk membaca masyarakat. Kita tidak hanya membeli cairan berwarna hitam yang mengandung kafein, tetapi juga memilih suasana, pergaulan, kenyamanan, simbol, bahkan kemungkinan untuk menampilkan diri kepada orang lain.

Kafe tertentu mungkin menyediakan ruang yang terasa sesuai dengan pekerjaan, gaya hidup, komunitas, atau gambaran tentang diri yang ingin kita bangun.

Penting untuk tidak buru-buru menyimpulkan bahwa orang yang datang ke kafe mahal pasti sedang mencari gengsi. Bisa saja ia memang menyukai suasananya, membutuhkan tempat bekerja, ingin bertemu klien, atau merasa lebih produktif di sana.

Begitu pula seseorang yang memilih warkop belum tentu tidak mampu membayar kopi mahal. Ia mungkin justru menemukan sesuatu yang lebih bernilai dalam kesederhanaan, percakapan spontan, dan kedekatan sosial yang ditawarkan tempat tersebut.

Di sinilah gagasan Bourdieu menjadi menarik. Selera bukan hanya sesuatu yang kita miliki, tetapi juga sesuatu yang membantu kita menemukan tempat di dalam masyarakat.

Pilihan tertentu membuat kita merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu, sementara pilihan lainnya mungkin membuat kita merasa asing. Kita belajar, sering kali tanpa sadar, bahwa ada tempat-tempat yang “cocok untuk kita” dan ada tempat yang terasa “bukan dunia kita.”

Konsep habitus menjelaskan sebagian dari proses tersebut. Habitus dapat dipahami sebagai seperangkat kecenderungan yang terbentuk melalui pengalaman hidup dan kemudian memengaruhi cara kita merasakan, menilai, memilih, dan bertindak.

Ia bukan aturan tertulis yang memerintah kita, melainkan semacam kompas sosial yang bekerja begitu halus sehingga sering kali kita menganggap pilihan kita sepenuhnya alamiah.

Hal serupa dapat kita lihat dalam musik. Mengapa seseorang merasa sangat dekat dengan dangdut, sementara orang lain memilih jazz, rock, metal, klasik, atau musik elektronik? Kita sering menjawabnya dengan sederhana: “Selera musik saya memang begitu.”

Jawaban tersebut benar, tetapi belum menjelaskan bagaimana selera itu terbentuk dan mengapa musik tertentu terasa begitu dekat dengan identitas kita.

Dangdut, misalnya, bukan sekadar rangkaian nada dan irama. Bagi banyak orang, dangdut hadir dalam pesta pernikahan, hajatan kampung, acara keluarga, ruang publik, televisi, hingga berbagai kenangan masa muda. Ia memiliki konteks sosial yang membuat seseorang bukan hanya mendengarkan musik, tetapi juga mengingat orang, tempat, peristiwa, dan suasana tertentu yang pernah membentuk kehidupannya.

Jazz mempunyai perjalanan yang berbeda. Untuk sebagian pendengarnya, jazz mungkin diperkenalkan melalui sekolah, kampus, komunitas musik, perjalanan, konser, atau pergaulan tertentu. Demikian pula rock dan metal yang memiliki komunitas, sejarah, simbol, gaya berpakaian, dan bahasa sendiri. Ketika seseorang memilih musik tertentu secara konsisten, ia sering kali sekaligus memilih sebuah dunia sosial tempat dirinya merasa dipahami.

Persoalannya menjadi menarik ketika masyarakat mulai membuat hierarki terhadap selera tersebut. Jazz dapat disebut sophisticated, musik klasik dianggap intelektual, rock diasosiasikan dengan pemberontakan, dangdut dilekatkan pada masyarakat luas, sementara musik tertentu dianggap terlalu komersial.

Padahal, penilaian semacam itu tidak hanya berbicara tentang kualitas musik, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat memberikan nilai sosial terhadap orang yang mengonsumsinya.

Di sinilah Distinction terasa sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selera dapat berubah menjadi mekanisme pembeda. Kita tidak hanya mengatakan, “Saya menyukai musik ini,” tetapi secara tidak langsung juga mengatakan, “Saya bukan bagian dari kelompok itu.” Musik, pakaian, makanan, buku, tempat nongkrong, hingga cara menghabiskan waktu akhirnya menjadi semacam bahasa sosial yang mengirimkan pesan tentang siapa kita.

Menariknya, distingsi tidak selalu berjalan dari kemewahan menuju kesederhanaan. Menolak kafe mahal juga dapat menjadi pilihan yang membentuk identitas. Seseorang mungkin sengaja memilih warung sederhana karena merasa tidak membutuhkan ruang yang dirancang secara fashionable untuk menikmati kopi. Dalam konteks tertentu, kesederhanaan bahkan dapat menjadi simbol keaslian, kedekatan dengan masyarakat, atau penolakan terhadap budaya konsumsi.

Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan bahwa orang yang duduk di kafe mahal sedang pamer, sebagaimana jangan pula menganggap orang yang duduk di warkop otomatis lebih sederhana dan autentik. Keduanya sama-sama dapat menjadi bentuk ekspresi sosial. Perbedaannya terletak pada pengalaman, lingkungan, sumber daya, serta makna yang diberikan seseorang terhadap pilihan tersebut.

Saya kemudian teringat pada pilihan lain yang lebih sederhana, tetapi mungkin lebih dalam: tempat seseorang menghabiskan waktu ketika tidak sedang bekerja. Mengapa ada orang yang senang pergi ke mal, menikmati keramaian, lampu, toko, restoran, musik, dan manusia yang berlalu-lalang? Mengapa orang lain justru mengendarai kendaraan cukup jauh hanya untuk menemukan sungai yang sunyi, duduk di tepinya, melihat air mengalir, lalu berpikir tanpa gangguan?

Kita mungkin mengatakan bahwa orang kedua menyukai ketenangan. Tetapi ketenangan itu sendiri memiliki sejarah. Cara seseorang menikmati kesunyian dapat terbentuk dari pengalaman membaca, pendidikan, perjalanan, pekerjaan, hubungan sosial, pengalaman hidup, atau kebutuhan psikologis untuk mengambil jarak dari rutinitas. Sebaliknya, keramaian mal juga bukan pilihan yang lebih rendah; bagi banyak orang, ruang tersebut menawarkan hiburan, kenyamanan, interaksi sosial, keamanan, dan pengalaman konsumsi yang memang mereka nikmati.

Yang menarik adalah bahwa kedua pilihan tersebut sama-sama berbicara tentang hubungan manusia dengan ruang. Mal menawarkan kemungkinan untuk hadir di tengah keramaian, sementara sungai yang sunyi menawarkan kemungkinan untuk mengambil jarak. Satu orang menemukan dirinya melalui interaksi dan konsumsi, sementara orang lain mungkin menemukan dirinya melalui keheningan dan refleksi. Tidak ada yang otomatis lebih unggul.

Di sinilah saya kira Bourdieu mengajak kita berhenti sejenak sebelum menghakimi selera orang lain. Selera bukan sekadar persoalan benar atau salah, mahal atau murah, tinggi atau rendah. Selera adalah hasil pertemuan antara pengalaman hidup seseorang dengan struktur sosial yang mengelilinginya. Ia terbentuk perlahan, kemudian terasa begitu alami seolah-olah selalu berasal dari dalam diri kita sendiri.

Mungkin karena itu, pertanyaan paling menarik bukanlah mengapa seseorang memilih kopi mahal daripada kopi warkop, atau jazz daripada dangdut, atau sungai daripada mal. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana kita sampai pada titik ketika pilihan tertentu terasa nyaman, pantas, indah, dan “memang kita banget”?

Bourdieu memberi kita sebuah cara untuk membongkar jawaban tersebut.

Di balik secangkir kopi terdapat kelas dan gaya hidup; di balik musik terdapat memori dan komunitas; di balik pakaian terdapat identitas; di balik pilihan tempat terdapat pengalaman; sementara di balik semua itu terdapat sejarah sosial yang perlahan membentuk cara kita memandang dunia.

Sosodara, selera memang personal, tetapi tidak pernah sepenuhnya pribadi. Kita memilih dengan tubuh dan pikiran kita sendiri, tetapi tubuh dan pikiran tersebut telah dibentuk oleh keluarga, pendidikan, lingkungan, ekonomi, pergaulan, serta perjalanan hidup yang panjang.

Kesadaran semacam itu tidak seharusnya membuat kita malu terhadap selera sendiri, melainkan membuat kita lebih kritis ketika menilai selera orang lain.

Jadi, setelah memahami Distinction, kita tidak perlu lagi bertanya siapa yang memiliki selera lebih tinggi. Kita justru dapat bertanya dengan lebih rendah hati: cerita sosial macam apa yang membuat saya menyukai apa yang saya sukai hari ini?

Di balik kopi yang kita pesan, musik yang kita dengarkan, pakaian yang kita kenakan, dan tempat yang kita pilih untuk menyepi, terdapat sebuah cerita tentang siapa kita, dari mana kita datang, dan dunia seperti apa yang membuat kita merasa berada di rumah.

___
Tamarunang, 31 September 2026