Harga Bahan Pokok Meningkat, INPEX Masela Ltd. Siap Bantu Warga Latdalam Bebas Krisis Pangan

  • Whatsapp
Bantuan tersebut hadir sebagai respons terhadap tekanan kebutuhan pangan yang dirasakan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian program sosial yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi warga di desa terdampak pengembangan Blok Masela.

PELAKITA.ID – Saumlaki, 25 September 2026 — Ketika distribusi bahan pokok di Kabupaten Kepulauan Tanimbar menghadapi berbagai kendala dan harga sejumlah kebutuhan pangan terus meningkat, ratusan keluarga di Desa Latdalam menerima bantuan sembako melalui Program Investasi Sosial INPEX Masela, Ltd., bersama Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia sebagai mitra pelaksana.

Bantuan tersebut hadir sebagai respons terhadap tekanan kebutuhan pangan yang dirasakan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian program sosial yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi warga di desa terdampak pengembangan Blok Masela.

Persoalan pangan di Tanimbar bukan sekadar menyangkut naiknya harga di pasar, tetapi juga berkaitan dengan kelancaran distribusi dan kondisi infrastruktur yang menopang pergerakan barang antardaerah.

Perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Didimus Ranolati, mengatakan gangguan distribusi dan kenaikan harga sejumlah bahan pokok telah menciptakan tekanan bagi rumah tangga. “Bahan pokok sedang sulit dan mahal sehingga terjadi gejolak pasar, yang paling sering merasakan dampaknya adalah ibu-ibu,” ujarnya.

Menurut Didimus, kondisi tersebut membuat ketahanan pangan menjadi persoalan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Ia mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang menempatkan pemenuhan kebutuhan pangan sebagai bagian dari hak dasar masyarakat.

Karena itu, menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan tidak hanya menjadi tugas pemerintah daerah dan perangkat teknis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan para pemangku kepentingan yang hadir dan beraktivitas di wilayah tersebut.

Bagi pemerintah Desa Latdalam, bantuan pangan tetap perlu ditempatkan sebagai stimulus, bukan sebagai pola hubungan yang membuat masyarakat terus menunggu bantuan.

Edwin Dasmasela, selaku pejabat Kepala Desa Latdalam, mengajak warga menerima bantuan tersebut dengan rasa syukur sekaligus memanfaatkannya sebagai momentum untuk memperkuat kemampuan ekonomi keluarga.

“Saya harapkan bapak ibu tidak memiliki sikap ketergantungan, jangan terus berharap dapat bantuan. Ini jadi stimulan untuk meningkatkan ekonomi bagi masing-masing keluarga penerima,” katanya. Ia juga mendorong warga memanfaatkan lahan yang dimiliki agar dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan dan produksi pangan keluarga.

Pesan tersebut sejalan dengan arah program investasi sosial yang disampaikan INPEX Masela, Ltd. Perwakilan perusahaan, Hanny Grasius Gladius Tanamal, selaku Special Regional External Relation, mengatakan bantuan sembako merupakan salah satu bagian dari rangkaian dukungan sosial yang sedang dikembangkan di Latdalam. “Ini bantuan bukan hanya untuk membuat bapak dan ibu senang, tapi dorongan untuk memajukan diri,” ujarnya.

Menurut Hanny, dukungan perusahaan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Pengembangan UMKM tenun dan usaha produksi keripik di Latdalam juga disiapkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal, sementara program pertanian telah lebih dahulu berjalan di desa tersebut.

Penguatan produksi lokal diharapkan membuka ruang bagi masyarakat untuk menghasilkan dan memasarkan produk sendiri sehingga kegiatan ekonomi tidak hanya bergantung pada pasokan dari luar desa.

“Kalau produksi lokal semakin banyak, kita bisa jual produk-produk sendiri,” katanya. Ia juga menyampaikan peluang bagi generasi muda Latdalam untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan proyek Masela mulai tahun depan.

Salah satu peluang tersebut berkaitan dengan pembangunan akses jalan di Lermatang yang melibatkan konsorsium Petrosea, Environmate Technology International, dan Nindya Karya (PENK) sebagai mitra kerja INPEX Masela, Ltd., dengan pekerjaan yang dijadwalkan mulai Oktober.

Koordinator Program, Wa Ode Husmayani, mengatakan penyaluran sembako secara gratis ditujukan kepada keluarga yang membutuhkan sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari. “Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban kebutuhan rumah tangga penerima manfaat serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah yang lebih berorientasi pada produksi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pangan.

Didimus mengatakan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kepulauan Tanimbar sedang menyiapkan pengembangan padi ladang kering dengan luasan sekitar 50 hektare yang akan diarahkan ke Latdalam. Pemerintah juga tengah melakukan verifikasi lahan melalui penyuluh pertanian untuk pengembangan komoditas jagung.

“Siapkan lahan sebanyak mungkin, kami siap mengintervensi,” kata Didimus, menegaskan kesiapan pemerintah daerah untuk memberikan dukungan terhadap pengembangan produksi pangan masyarakat. Menurutnya, persoalan ketahanan pangan di desa-desa terdampak Blok Masela membutuhkan keterlibatan bersama karena tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.

“Ini tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” ujarnya.

Rangkaian program yang berlangsung di Latdalam memperlihatkan bahwa bantuan pangan hanyalah satu bagian dari respons terhadap tekanan ekonomi masyarakat.

Sembako memberikan ruang bernapas bagi keluarga ketika harga pangan meningkat, tetapi penguatan pertanian, pengembangan UMKM, peningkatan produksi lokal, serta terbukanya akses terhadap kesempatan ekonomi menjadi bagian yang lebih panjang dari upaya membangun ketahanan masyarakat.

Tantangan Latdalam menjadi lebih kompleks. Bantuan pangan dapat menjawab kebutuhan hari ini, sementara pengembangan padi ladang, jagung, usaha tenun, produksi pangan olahan, dan keterlibatan tenaga kerja lokal dalam aktivitas ekonomi sekitar Blok Masela akan menentukan sejauh mana masyarakat mampu memperkuat sumber penghidupannya sendiri.

Bagi desa yang berada di sekitar proyek berskala besar, ukuran manfaat investasi bukan hanya seberapa banyak bantuan yang diterima, tetapi juga seberapa jauh masyarakat memiliki kapasitas untuk memproduksi, bekerja, dan membangun ekonomi lokal secara berkelanjutan.