Mendorong Ekonomi Latdalam, INPEX Masela Dampingi Pengrajin Tenun Menuju Kemandirian

  • Whatsapp
Dua kelompok pengrajin tenun di Desa Latdalam, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kelompok UMKM Afra dan Weturlely, menerima dukungan melalui Program Investasi Sosial INPEX Masela, Ltd., bersama Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia sebagai mitra pelaksana.

PELAKITA.ID – Saumlaki, 25 September 2026 — Dua kelompok pengrajin tenun di Desa Latdalam, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kelompok UMKM Afra dan Weturlely, menerima dukungan melalui Program Investasi Sosial INPEX Masela, Ltd., bersama Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia sebagai mitra pelaksana.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program yang berlangsung di Latdalam, setelah sebelumnya masyarakat menerima bantuan bahan pangan, sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap potensi ekonomi dan keberlanjutan kerajinan tenun sebagai bagian penting dari identitas budaya Tanimbar.

Bagi Pemerintah Desa Latdalam, dukungan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kehadiran INPEX Masela, Ltd. beserta para mitra kontraktornya yang menjalankan aktivitas di wilayah Tanimbar.

Pejabat Kepala Desa Latdalam, Edwin Dasmasela, menyampaikan apresiasi atas berbagai bentuk dukungan yang telah diterima masyarakat. “Hanya karena ada INPEX dan kontraktor INPEX di Tanimbar, ada bantuan-bantuan ini,” ujarnya.

Edwin juga mengingatkan kelompok penerima agar tidak menempatkan bantuan sebagai tujuan akhir. Menurutnya, dukungan yang diberikan seharusnya menjadi pemicu agar masyarakat semakin percaya diri dalam mengembangkan usaha yang telah dimiliki.

“Bantuan hanya stimulan, memberikan pemicu, memberikan semangat, tetapi yang harus membangkitkan gairah hidup kita adalah kita sendiri,” katanya.

Bagi kelompok pengrajin, pesan tersebut menjadi penting karena keberlanjutan usaha tenun tidak hanya ditentukan oleh bantuan peralatan atau modal awal, tetapi juga oleh kemampuan pengrajin mengembangkan produksi, menjaga kualitas, menemukan pasar, dan memastikan keterampilan menenun terus diwariskan.

Dengan demikian, program pendampingan memiliki ruang untuk bergerak dari sekadar pemberian bantuan menuju penguatan kapasitas usaha masyarakat.

Perwakilan INPEX Masela, Ltd., Hanny Grasius Gladius Tanamal, selaku Special Regional External Relation, mengatakan dukungan kepada kelompok tenun dilakukan bersama DFW Indonesia sebagai bagian dari proses pendampingan untuk melihat bagaimana usaha tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan. “Sejauh mana usaha ini dapat dikembangkan bersama-sama, itu yang kami dampingi,” ujarnya.

Menurut Hanny, tenun memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar produk yang diperjualbelikan. Di dalamnya terdapat pengetahuan, simbol, nilai, dan identitas masyarakat Tanimbar yang perlu dijaga keberlangsungannya, terutama melalui keterlibatan generasi muda.

“Budaya akan hilang kalau tidak dipertahankan ke generasi muda, identitas kita ada di sini,” katanya.

Ia juga mengapresiasi peran DFW Indonesia yang mendampingi pelaksanaan program sesuai kompetensi dan kebutuhan masyarakat di lapangan. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu kelompok pengrajin memahami potensi usaha sekaligus mengembangkan produk tenun agar memiliki nilai ekonomi yang semakin kuat.

Koordinator Program, Wa Ode Husmayani, mengatakan pengembangan potensi ekonomi dan budaya masyarakat menjadi salah satu perhatian dalam program investasi sosial di Latdalam.

Menurutnya, tenun memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tanimbar sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk ekonomi yang dapat memberikan manfaat bagi keluarga pengrajin.

“Kami berharap seluruh bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dukungan kepada kelompok Afra dan Weturlely memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar Blok Masela tidak hanya dapat dilakukan melalui sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan proyek migas.

Kerajinan tradisional seperti tenun juga memiliki ruang untuk tumbuh ketika pengetahuan lokal, kapasitas pengrajin, pendampingan, dan akses ekonomi dapat dipertemukan.

Bagi Latdalam, keberlanjutan tenun pada akhirnya berada di dua jalur yang saling berhubungan: menjaga identitas budaya sekaligus menciptakan sumber penghidupan.

Ketika keterampilan menenun tetap hidup di tangan generasi muda dan produk mampu berkembang menjadi usaha yang mandiri, tenun tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari masa depan ekonomi masyarakat Tanimbar.