Membaca Masyarakat melalui Selera, Kelas, dan Kekuasaan
PELAKITA.ID — Pagi ini saya kembali membuka percakapan tentang Pierre Bourdieu, terutama bukunya yang paling terkenal, La Distinction.
Percakapan itu bermula dari contoh sederhana tentang perbedaan selera manusia: musik yang didengar, pakaian yang dikenakan, tempat minum kopi yang dipilih, hingga cara seseorang menikmati waktu luangnya.
Semakin jauh membaca Bourdieu, semakin jelas bahwa selera bukan perkara sederhana. Pilihan yang tampak sangat personal ternyata memiliki hubungan dengan keluarga, pendidikan, kelas sosial, lingkungan pergaulan, pengalaman hidup, ekonomi, serta berbagai bentuk pengetahuan yang kita kumpulkan sepanjang hidup.
Menariknya, Distinction bukanlah titik awal perjalanan intelektual Bourdieu. Gagasannya tumbuh melalui penelitian panjang tentang masyarakat Aljazair, pendidikan, fotografi, seni, universitas, sastra, ekonomi, gender, hingga negara. Karena itu, membaca buku-bukunya secara kronologis membantu kita memahami bagaimana seorang Bourdieu membangun perangkat berpikir untuk membaca masyarakat.

Berikut beberapa karya pentingnya, dari awal hingga karya-karya yang diterbitkan setelah wafatnya.
1. Sociologie de l’Algérie — 1958
Inilah salah satu karya awal terpenting Bourdieu. Buku ini membahas masyarakat Aljazair dalam konteks kolonial dan memperlihatkan ketertarikannya pada hubungan antara struktur sosial, kebudayaan, ekonomi, serta perubahan sejarah.
Menariknya, pengalaman Bourdieu di Aljazair bukan sekadar episode awal dalam karier akademiknya. Di sanalah ia berhadapan dengan masyarakat yang sedang mengalami perubahan besar dan mulai mempertanyakan bagaimana manusia bertindak ketika struktur sosial lama bertemu dengan tekanan ekonomi dan politik baru.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi pemikirannya mengenai habitus, praktik sosial, dan hubungan antara individu dengan struktur.
2. Travail et travailleurs en Algérie — 1963
Ditulis bersama Alain Darbel, Jean-Paul Rivet dan Claude Seibel, buku ini mengkaji dunia kerja dan perubahan ekonomi masyarakat Aljazair.
Yang menarik adalah cara Bourdieu melihat perilaku ekonomi. Bagi dia, manusia tidak selalu bertindak sebagai individu rasional yang menghitung keuntungan dan kerugian secara matematis. Cara seseorang memandang pekerjaan, uang, waktu, masa depan, dan risiko juga dibentuk oleh lingkungan sosialnya.
Gagasan tersebut masih relevan ketika kita membicarakan mengapa orang berbeda dalam memandang pekerjaan, menabung, berutang, berinvestasi, atau memilih jenis usaha tertentu.
3. Le Déracinement — 1964
Bersama Abdelmalek Sayad, Bourdieu membahas perubahan masyarakat pedesaan Aljazair akibat kolonialisme dan proses pemindahan penduduk.
Persoalan yang diangkat lebih dalam daripada sekadar perpindahan tempat tinggal. Ketika manusia dicabut dari lingkungan sosialnya, yang hilang bukan hanya rumah dan tanah, tetapi juga jaringan hubungan, kebiasaan, pengetahuan, dan cara memahami kehidupan.
Gagasan ini terasa dekat dengan berbagai persoalan pembangunan hari ini ketika masyarakat harus berhadapan dengan proyek infrastruktur, industri, pertambangan, urbanisasi, atau perubahan tata ruang yang mengubah hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
4. Les Héritiers — 1964
Ditulis bersama Jean-Claude Passeron, buku ini merupakan salah satu karya penting Bourdieu tentang pendidikan.
Bourdieu mempertanyakan anggapan bahwa sekolah dan universitas selalu bekerja secara netral berdasarkan kemampuan dan prestasi. Menurutnya, anak-anak datang ke ruang pendidikan dengan bekal budaya yang berbeda-beda.
Anak dari keluarga berpendidikan mungkin sudah terbiasa dengan buku, bahasa formal, museum, diskusi, atau lingkungan akademik sejak kecil. Anak dari keluarga yang tidak memiliki pengalaman tersebut harus mempelajari semuanya dari awal.
Di sinilah konsep cultural capital atau modal budaya menjadi penting. Pendidikan dapat menjadi jalan mobilitas sosial, tetapi pada saat yang sama juga dapat mereproduksi ketimpangan.
5. Un Art Moyen — 1965
Bourdieu dan sejumlah koleganya menggunakan fotografi untuk membaca kehidupan sosial. Pertanyaannya menarik: mengapa orang memotret sesuatu, kapan mereka memotret, siapa yang difoto, dan untuk tujuan apa?
Fotografi ternyata bukan sekadar teknologi. Ia memiliki aturan sosial. Keluarga memiliki cara tertentu menggunakan kamera, sementara kelompok sosial berbeda dapat memiliki objek dan situasi yang dianggap pantas untuk diabadikan.
Hari ini, gagasan tersebut bahkan semakin relevan dengan budaya Instagram, TikTok, dan personal branding. Apa yang kita pilih untuk tampilkan kepada publik sesungguhnya juga merupakan konstruksi sosial.
6. L’Amour de l’Art — 1966
Bersama Alain Darbel dan Dominique Schnapper, Bourdieu meneliti pengunjung museum dan hubungan mereka dengan seni.
Buku ini menarik karena mempertanyakan anggapan bahwa seseorang secara alamiah memiliki “selera seni”. Menurut Bourdieu, kemampuan menikmati karya seni juga dipengaruhi oleh pendidikan dan pengalaman budaya.
Dengan kata lain, seseorang mungkin merasa nyaman berada di museum bukan semata karena memiliki bakat estetika tertentu, tetapi karena telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang membuat ruang tersebut terasa akrab.
7. La Reproduction — 1970
Kembali bersama Passeron, Bourdieu memperdalam kritik terhadap sistem pendidikan.
Sekolah yang terlihat sebagai tempat untuk menciptakan kesetaraan ternyata dapat membantu mempertahankan struktur sosial yang sudah ada. Mereka yang memiliki modal budaya lebih besar sering kali lebih mudah memahami bahasa, aturan, dan ekspektasi institusi pendidikan.
Pertanyaan ini tetap penting: apakah pendidikan benar-benar menghapus ketimpangan, atau justru kadang membuat ketimpangan lama terlihat sebagai hasil dari prestasi individu?
8. Esquisse d’une Théorie de la Pratique — 1972
Karya ini penting untuk memahami perkembangan konsep habitus.
Bourdieu mencoba menjembatani dua kutub dalam ilmu sosial: pandangan bahwa manusia sepenuhnya bebas menentukan tindakan dan pandangan bahwa manusia sepenuhnya dikendalikan struktur sosial.
Menurutnya, manusia memiliki ruang untuk bertindak, tetapi tindakan tersebut berlangsung dalam kondisi sosial tertentu. Kita memilih, tetapi pilihan kita tidak muncul dari ruang kosong.
Inilah salah satu gagasan Bourdieu yang kemudian sangat membantu memahami kehidupan sehari-hari.
9. La Distinction — 1979
Inilah buku yang mungkin paling dekat dengan pertanyaan sederhana yang mengawali tulisan ini: mengapa kita menyukai apa yang kita sukai?
Bourdieu menghubungkan selera dengan kelas sosial, pendidikan, modal ekonomi, modal budaya dan habitus. Makanan, musik, pakaian, furnitur, olahraga, seni, hingga tempat rekreasi dapat menjadi tanda yang membedakan satu kelompok dari kelompok lainnya.
Mengapa seseorang memilih kafe mahal daripada warkop? Mengapa seseorang menikmati jazz sementara yang lain memilih dangdut? Mengapa seseorang menyukai restoran tertentu, pakaian tertentu, atau tempat liburan tertentu?
Jawabannya tidak selalu terletak pada kualitas objektif benda atau tempat tersebut. Pilihan itu juga berkaitan dengan pengalaman sosial yang membuat sesuatu terasa nyaman, pantas, menarik, atau bergengsi.
Namun, Bourdieu tidak sedang mengatakan bahwa semua orang yang membeli kopi mahal sedang pamer. Yang lebih penting adalah memahami bahwa pilihan konsumsi sering membawa makna sosial yang lebih luas daripada fungsi barang itu sendiri.
10. Le Sens Pratique — 1980
Buku ini memperdalam gagasan tentang praktik dan habitus. Manusia tidak selalu menghitung setiap tindakan secara sadar. Banyak keputusan sehari-hari dilakukan karena terasa “wajar”.
Kita tahu bagaimana berpakaian untuk menghadiri pernikahan, bagaimana berbicara dalam pertemuan formal, bagaimana bersikap di restoran tertentu, atau bagaimana menyesuaikan diri ketika memasuki lingkungan baru.
Kita melakukannya karena telah belajar, sering kali tanpa sadar. Itulah kekuatan habitus: sesuatu yang dipelajari menjadi terasa alami.
11. Homo Academicus — 1984
Bourdieu kemudian mengarahkan alat analisisnya kepada dunia akademik sendiri.
Ia meneliti bagaimana para akademisi memperoleh status, membangun reputasi, menguasai institusi, dan berkompetisi mendapatkan pengakuan. Ini menarik karena Bourdieu tidak menempatkan akademisi sebagai kelompok yang berada di luar struktur sosial.
Justru para ilmuwan juga memiliki kepentingan, hierarki, modal dan pertarungan kekuasaan.
12. La Noblesse d’État — 1989
Buku ini membahas bagaimana institusi pendidikan elite berperan dalam pembentukan kelompok penguasa.
Sekolah elite bukan hanya tempat belajar. Ia dapat menjadi ruang pembentukan jaringan sosial, legitimasi, gaya berpikir, dan akses menuju posisi-posisi penting dalam pemerintahan, birokrasi, bisnis maupun masyarakat.
Dengan perspektif ini, kita dapat memahami bahwa kekuasaan tidak selalu diwariskan dalam bentuk uang. Ia juga dapat diwariskan melalui pendidikan, jaringan, bahasa, kebiasaan dan kepercayaan diri sosial.
13. Les Règles de l’Art — 1992
Dalam buku ini Bourdieu memasuki dunia sastra dan seni.
Ia mempertanyakan bagaimana seseorang menjadi “seniman”, bagaimana karya tertentu dianggap bernilai, serta bagaimana dunia seni memiliki aturan, institusi, kritikus, penerbit, galeri dan mekanisme pengakuannya sendiri.
Seni ternyata bukan hanya soal kreativitas individual. Ada field, atau arena sosial, tempat para aktor berkompetisi menentukan apa yang dianggap sah dan bernilai.
14. La Misère du Monde — 1993
Buku besar ini merupakan proyek kolaboratif yang mendokumentasikan pengalaman penderitaan sosial melalui wawancara.
Di sini Bourdieu menghadirkan suara orang-orang yang mengalami pengangguran, kemiskinan, birokrasi, diskriminasi, marginalisasi dan berbagai bentuk tekanan sosial.
Karya ini penting karena memperlihatkan bahwa statistik sosial memiliki wajah manusia. Di balik angka kemiskinan terdapat kehidupan, rasa malu, frustrasi, harapan, konflik keluarga dan pengalaman sehari-hari.
15. La Domination Masculine — 1998
Bourdieu kemudian menggunakan perangkat teorinya untuk membahas relasi gender.
Ia menunjukkan bagaimana ketimpangan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya berlangsung melalui hukum atau institusi, tetapi juga melalui kebiasaan, bahasa, tubuh, simbol dan cara masyarakat memandang apa yang dianggap “normal”.
Dominasi dapat bertahan bukan hanya karena dipaksakan, tetapi karena telah begitu lama hadir sehingga dianggap alamiah.
16. Les Structures Sociales de l’Économie — 2000
Dalam buku ini Bourdieu kembali kepada ekonomi, tetapi dengan cara yang berbeda dari pendekatan ekonomi konvensional.
Pasar tidak dipandang sebagai ruang netral tempat individu rasional bertemu. Pasar juga dibentuk oleh institusi, kebijakan, hubungan sosial, kepercayaan, ekspektasi dan kekuasaan.
Gagasan ini sangat relevan untuk memahami bahwa keputusan ekonomi masyarakat tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kebudayaan dan struktur sosial.
17. Science de la Science et Réflexivité — 2001
Menjelang akhir hidupnya, Bourdieu mengarahkan kritiknya kepada dunia ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ia bertanya: bagaimana posisi sosial seorang ilmuwan memengaruhi apa yang dianggap penting, benar, sah dan layak diteliti?
Inilah bentuk refleksivitas yang menjadi penting dalam pemikirannya. Seorang peneliti tidak cukup hanya mengamati masyarakat. Ia juga harus berani melihat dirinya sendiri sebagai bagian dari struktur sosial yang sedang ditelitinya.
18. Sur l’État — 2012, diterbitkan secara anumerta
Buku ini berasal dari kuliah-kuliah Bourdieu di Collège de France dan diterbitkan setelah kematiannya pada 2002.
Fokusnya adalah negara: bagaimana negara memperoleh legitimasi, membangun kategori sosial, menghasilkan aturan, serta memiliki kekuatan untuk menentukan cara masyarakat memahami dirinya sendiri.
Buku ini memperluas perhatian Bourdieu dari selera dan pendidikan menuju salah satu institusi paling kuat dalam kehidupan modern.
19. Manet: Une Révolution Symbolique — 2013/2014, diterbitkan secara anumerta
Karya tentang pelukis Édouard Manet ini juga berasal dari kuliah Bourdieu yang kemudian diterbitkan setelah wafat.
Melalui Manet, Bourdieu melihat bagaimana perubahan dalam seni dapat sekaligus menjadi perubahan dalam struktur dunia seni. Revolusi artistik bukan hanya persoalan munculnya gaya baru, tetapi juga pertarungan terhadap aturan lama mengenai siapa yang berhak menentukan apa yang disebut seni.
Dari Kopi hingga Kekuasaan
Jika seluruh perjalanan intelektual Bourdieu dibaca secara berurutan, kita melihat sebuah benang merah yang kuat. Ia terus bertanya tentang sesuatu yang tampak biasa, lalu membongkar struktur sosial yang tersembunyi di baliknya.
Ia mulai dari masyarakat Aljazair, lalu bergerak menuju pendidikan, fotografi, museum, praktik sosial, selera, universitas, seni, penderitaan sosial, gender, ekonomi dan negara.
Itulah yang membuat La Distinction tetap menarik hingga hari ini. Buku tersebut tidak hanya berbicara tentang orang Prancis pada 1970-an. Ia memberi kita sebuah kacamata untuk melihat kehidupan sehari-hari.
Mengapa seseorang memilih kafe mahal sementara yang lain memilih warkop? Mengapa seseorang menghabiskan malam mendengarkan jazz, sementara yang lain menikmati dangdut atau metal? Mengapa seseorang merasa nyaman berada di pusat perbelanjaan, sementara orang lain justru mencari sungai yang sunyi untuk duduk dan berpikir?
Bourdieu membantu kita memahami bahwa di balik pilihan-pilihan tersebut terdapat sejarah sosial.
Kita memang memilih. Tetapi pilihan kita dibentuk oleh pengalaman, selera, selera itu dipelajari. Kita merasa bebas. Tetapi kebebasan itu berlangsung di dalam struktur sosial yang tidak selalu kita sadari.
Itulah warisan Bourdieu yang paling menarik: jangan terlalu cepat percaya bahwa apa yang kita sebut sebagai “selera pribadi” benar-benar hanya milik pribadi.
Di balik secangkir kopi, musik yang kita dengarkan, pakaian yang kita kenakan, buku yang kita baca, tempat yang kita datangi, bahkan cara kita menikmati kesunyian, mungkin terdapat cerita panjang tentang keluarga, pendidikan, kelas sosial, pengalaman hidup, modal budaya, dan dunia sosial tempat kita dibesarkan.
Ketika kita mulai memahami itu, kita tidak hanya sedang membaca Bourdieu. Kita sedang belajar membaca diri sendiri.









