PELAKITA.ID — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan strategi pengembangan perikanan budi daya dengan memfokuskan perhatian pada lima komoditas champion, yakni udang, tilapia atau ikan nila, rajungan–kepiting, rumput laut, dan lobster.
Penetapan lima komoditas tersebut bukan semata-mata didasarkan pada potensi produksi, tetapi juga mempertimbangkan sejumlah indikator strategis, terutama nilai pasar global (market value), peluang peningkatan pangsa pasar Indonesia (market share), serta daya saing komoditas melalui pendekatan revealed comparative advantage.
1. Udang, Raja Ekspor dengan Pasar Global USD 70 Miliar
Udang ditempatkan sebagai salah satu komoditas utama karena memiliki nilai pasar global yang sangat besar, mencapai sekitar USD 70 miliar, sementara pangsa pasar Indonesia saat ini berada pada angka 5,9 persen.
KKP menjadikan udang sebagai anchor commodity untuk memperkuat kinerja ekspor dan meningkatkan perolehan devisa melalui pengembangan tambak udang modern yang terintegrasi dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas per hektare sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok.
2. Tilapia atau Ikan Nila, Sumber Protein dengan Pasar USD 15,14 Miliar
Tilapia atau ikan nila dipandang strategis karena memiliki dua fungsi sekaligus, yakni mendukung ketahanan pangan domestik dan membuka ruang penguatan ekspor perikanan dengan nilai pasar global sekitar USD 15,14 miliar.
Dengan pangsa pasar Indonesia mencapai 8,9 persen, ikan nila memiliki ruang pengembangan yang luas karena dapat dibudidayakan pada berbagai sistem perairan, termasuk air tawar dan payau. Permintaan terhadap produk bernilai tambah seperti frozen fillet juga terus berkembang, terutama di pasar Amerika Utara dan Eropa.
3. Rajungan–Kepiting, Komoditas Premium Senilai USD 12,23 Miliar
Rajungan dan kepiting masuk dalam daftar komoditas champion karena memiliki nilai ekonomi tinggi dengan pasar global sekitar USD 12,23 miliar dan pangsa pasar Indonesia sebesar 7,4 persen.
Strategi KKP diarahkan pada pengembangan budi daya rajungan dan kepiting berbasis kawasan sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap hasil tangkapan dari alam. Pendekatan tersebut sekaligus diharapkan dapat mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir, memperkuat rantai pasok industri pengolahan, dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.
4. Rumput Laut, Penggerak Ekonomi Biru dan Industri Hijau
Rumput laut menjadi salah satu komoditas strategis Indonesia dengan pangsa pasar global mencapai 10,4 persen dari total nilai pasar sekitar USD 9,70 miliar.
Keunggulan rumput laut tidak hanya terletak pada pasar pangan, tetapi juga pada luasnya pemanfaatan sebagai bahan baku kosmetik, farmasi, pakan, hingga berbagai produk industri berbasis bahan terbarukan seperti bioplastik.
Bagi masyarakat pesisir, komoditas ini juga memiliki karakteristik budi daya yang relatif membutuhkan modal lebih rendah dan mampu menciptakan kesempatan kerja di kawasan pesisir.
5. Lobster, Ruang Pertumbuhan Besar di Pasar Global
Lobster dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus ruang pertumbuhan yang masih sangat terbuka. Nilai pasar global komoditas ini diperkirakan mencapai sekitar USD 9 miliar, sedangkan pangsa pasar Indonesia saat ini baru sekitar 1,3 persen.
Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing Indonesia melalui pengembangan teknologi serta penguatan budi daya lobster di dalam negeri. Arah kebijakan tersebut juga mencerminkan upaya untuk menggeser posisi Indonesia dari sekadar pemasok benih bening lobster (BBL) menuju negara yang mampu menghasilkan produk lobster hasil pembesaran dengan nilai tambah lebih tinggi.
Lima komoditas tersebut memperlihatkan bahwa strategi budi daya KKP tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi.
Udang, tilapia, rajungan–kepiting, rumput laut, dan lobster dipilih karena masing-masing memiliki kombinasi antara nilai pasar, peluang peningkatan pangsa pasar, dan potensi daya saing Indonesia dalam rantai nilai perikanan global.
Tantangan berikutnya terletak pada kemampuan Indonesia mengubah keunggulan komoditas menjadi keunggulan rantai nilai melalui teknologi budi daya, kualitas benih, pakan, biosekuriti, pengolahan, sertifikasi, logistik, pembiayaan, serta akses pasar yang lebih kuat.
Dengan pendekatan tersebut, komoditas champion tidak berhenti sebagai daftar prioritas produksi, tetapi dapat menjadi bagian dari transformasi perikanan budi daya menuju ekonomi biru yang lebih produktif, bernilai tambah, dan berkelanjutan.









