Oleh Kamaruddin Azis
Founder Pelakita.ID dan MaritimePosts.com
PELAKITA.ID — Ada tempat-tempat yang sekadar kita lewati, tetapi ada pula tempat yang diam-diam menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Bagi saya, Bulukumba termasuk dalam kategori kedua.
Ingatan saya tentang daerah ini terbentang sejak periode 1996 hingga 2003, ketika saya masih menjadi mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin sekaligus bekerja sebagai aktivis NGO di LP3M Ujung Pandang pada masa itu.
Pada masa itu, Bulukumba bukan sekadar sebuah tujuan. Daerah ini adalah bagian dari jalur panjang yang menghubungkan Makassar dengan Selayar dan, pada akhirnya, dengan pulau-pulau serta bentang laut Taka Bonerate.
Selama tahun-tahun itu, saya berkali-kali melintasi Bulukumba.
Perjalanan saya dimulai sebagai mahasiswa dan berlanjut dalam perjalanan profesional ketika bekerja di Selayar, sejak keterlibatan dalam proyek WWF hingga tahun-tahun pelaksanaan program COREMAP yang didukung oleh Bank Dunia.
Pada masa itu, perjalanan adalah sebuah pengalaman tersendiri. Saya sering menggunakan Bus Mahkota, duduk berjam-jam menyusuri jalan panjang ke arah selatan, sambil menyaksikan desa-desa, persawahan, pesisir, pasar, dan kota-kota kecil berlalu dari balik jendela.
Saya masih mengingat Daeng Sikki, sang sopir.
Bagi orang lain, kenangan seperti itu mungkin tampak sederhana. Namun, bagi mereka yang bertahun-tahun menyusuri jalan yang sama, manusia dan lanskap akan menjadi bagian dari geografi ingatan. Seorang sopir, sebuah tempat pemberhentian, warung di tepi jalan, atau tikungan yang familiar dapat menjadi penanda sebuah periode dalam kehidupan.
Kesan saya kala itu, kondisi kota yang sepi, nampak sederhana, lekuk jalan yang mengkhawatirkan, bangunan tua nan kusam, dan ruas jalan yang sempit serta kondisi poros Bulukumba – Bira yang penuh jalan berlubang. Juga kantor-kantor layanan pemerintah yang berpendar dan serba terbatas.
Itulah Bulukumba, penanda memori.

Kembali ke Bulukumba yang Berbeda
Melihat Bulukumba kembali hari ini, dan membandingkannya dengan Bulukumba yang saya kenal lebih dari dua dekade lalu, menghadirkan sebuah kejutan yang kuat.
Bulukumba telah berubah. Secara signifikan. Jalan-jalan kota yang rapi, bersih, bangunan yang tertata indah, ikonik dan serba guna. Di atas Gedung Pinisi berlantai empat, kita bisa melepas pandangan ke Laut Flores.
Kebetulan saat itu gedung ini digunakan untuk Expo PPMU, para pengabdi masyarakat sebanyak 50 booth.
Bulukumba kini adalah destinasi dengan kondisi jalan yang lebih baik. Infrastruktur publik berkembang. Bangunan-bangunan fungsional hadir di berbagai tempat. Ruang perkotaan menjadi lebih tertata dan menarik. Kota terasa semakin hidup, dengan pusat-pusat bisnis, kafe, dan ruang-ruang komersial yang kian terlihat.
Bulukumba dalam ingatan saya adalah kota yang saya lewati. Bulukumba hari ini adalah kota yang membuat saya ingin berhenti.
Beberapa bulan lalu, dan kembali pada kunjungan terakhir saya, saya memiliki kesempatan untuk mengamati perubahan itu lebih dekat. Salah satu momen sederhana tetapi bermakna adalah ketika bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lama, sesama alumni Ilmu Kelautan, di Phinisi Space.
Bertemu kembali dengan Jusli, Acil, dan Ardy mengingatkan saya bahwa waktu memang mengubah kota, tetapi juga dapat mempertemukan kembali manusia. Percakapan dengan sahabat lama kadang secara tiba-tiba membangkitkan kenangan yang tersimpan diam selama puluhan tahun.
Di tengah percakapan itu, saya menemukan diri saya berpikir: betapa indahnya Bulukumba hari ini.
Bulukumba, bagaimanapun, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sebuah daerah administratif. Daerah ini memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat pengembangan paling strategis di bagian selatan Sulawesi Selatan.
Secara geografis dan ekonomi, Bulukumba berada dalam koridor regional penting yang menghubungkan Sinjai, Bulukumba, dan Kepulauan Selayar. Daerah ini berpotensi menjadi pusat ekonomi, pelayanan, logistik, dan pengetahuan bagi kawasan selatan yang lebih luas.

Keunggulan strategis tersebut didukung oleh keragaman sumber daya yang luar biasa. Bulukumba memiliki sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta sumber daya pariwisata yang signifikan.
Tantangannya kemudian bukan hanya bagaimana mengembangkan setiap sektor secara terpisah. Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana Bulukumba membangun keterhubungan di antara semuanya dan menciptakan ekosistem pembangunan di mana pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, perdagangan, infrastruktur, pendidikan, dan pelayanan publik saling memperkuat.
Pembangunan Menjadi Nyata
Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah pemanfaatan Gedung Pinisi, bukan hanya sebagai representasi identitas daerah, tetapi juga sebagai ruang publik dan tempat penyelenggaraan berbagai pameran.
Ada pula Gedung Ammatoa, yang menjadi salah satu tanda berkembangnya infrastruktur dan fasilitas publik di Bulukumba. Bangunan-bangunan ini tentu lebih dari sekadar beton, arsitektur, dan pembangunan fisik. Nilai sebenarnya terletak pada bagaimana fasilitas tersebut dimanfaatkan.
Infrastruktur publik menjadi bermakna ketika menciptakan interaksi dan benar-benar dimanfaatkan oleh berbagai sektor serta unit di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bulukumba.
Sebuah gedung menjadi penting ketika mendukung kreativitas, pertemuan, pendidikan, pameran, kegiatan bisnis, dan kolaborasi. Pembangunan, tidak seharusnya hanya diukur dari berapa banyak gedung yang dibangun. Pembangunan juga harus diukur dari sejauh mana fasilitas tersebut mampu meningkatkan kualitas interaksi antarmanusia.
Selama kunjungan saya, saya dapat melihat berbagai capaian nyata yang mencerminkan kemajuan pemerintahan di bawah kepemimpinan Bupati Andi Utta. Transformasi fisik Bulukumba semakin terlihat. Ruang-ruang publik membaik. Aktivitas ekonomi berkembang. Kota menjadi semakin menarik dan semakin fungsional.
Tentu saja, setiap cerita pembangunan harus terus dievaluasi. Kemajuan bukanlah tujuan akhir. Namun, dari sudut pandang seseorang yang telah mengenal Bulukumba selama beberapa dekade, saya dapat mengatakan dengan jujur bahwa perubahannya sangat signifikan.

Momen penting lainnya adalah kunjungan Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa, dan pertemuannya dengan Bupati Bulukumba Andi Utta.
Bagi saya, pertemuan seperti itu memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar agenda kelembagaan formal.
Pertemuan itu adalah sebuah sinyal.
Sinyal bahwa masa depan pembangunan Bulukumba tidak dapat hanya bergantung pada program pemerintah dan pembangunan infrastruktur fisik. Pengetahuan, riset, inovasi, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi akan semakin penting.
Universitas dapat menyumbangkan riset. Pemerintah memberikan arah kebijakan. Masyarakat berkontribusi melalui pengetahuan lokal. Dunia usaha dapat menciptakan investasi dan lapangan kerja. Sementara media dapat membantu membangun kesadaran publik dan akuntabilitas.
Ketika seluruh elemen itu bekerja bersama, pembangunan menjadi lebih kuat.
Bulukumba memiliki sumber daya alam yang cukup untuk terus tumbuh. Yang dibutuhkan adalah tata kelola yang semakin baik dan canggih agar pertumbuhan tidak justru melahirkan persoalan sosial dan lingkungan yang baru.
Setiap kisah pembangunan yang berhasil pada akhirnya akan sampai pada satu titik ketika infrastruktur saja tidak lagi cukup. Jalan yang baik memang penting, bangunan modern memang penting, pertumbuhan bisnis juga penting. Namun, pembangunan akan menghadapi ujian paling serius ketika masyarakat menjadi semakin dinamis secara ekonomi.
Tantangan berikutnya bagi Bulukumba adalah bagaimana memperkuat kohesi sosial. Bagaimana masyarakat dapat saling memahami? Bagaimana kelompok-kelompok dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda dapat merasa terlibat dalam proses pembangunan?
Pembangunan, pada ruang dan waktu membutuhkan kolaborasi. Pembangunan membutuhkan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat sipil, dan media untuk bekerja bersama. Hal ini sangat penting karena perkembangan ekonomi yang cepat sering kali menciptakan tekanan yang tidak segera terlihat.
Lebih banyak aktivitas ekonomi berarti lebih banyak konsumsi, lebih banyak bisnis berarti lebih banyak sampah. Lebih banyak pengunjung berarti tekanan yang lebih besar terhadap fasilitas publik dan sumber daya alam.
Lebih banyak pembangunan berarti meningkatnya kebutuhan terhadap air, lahan, dan energi. Karena itu, Bulukumba harus mulai memikirkan bukan hanya bagaimana bertumbuh, tetapi juga bagaimana mengelola konsekuensi dari pertumbuhan tersebut.
Sampah, Air, dan Budaya Keramahtamahan
Beberapa isu strategis patut mendapat perhatian serius. Informasi ini penulis peroleh saat menjajal destinasi wisata Phinisi Space malam itu. Salah satunya adalah pengelolaan sampah.
Seiring meningkatnya aktivitas perkotaan dan pariwisata, persoalan sampah akan menjadi semakin kompleks. Pertanyaannya bukan sekadar ke mana sampah harus dibuang. Bulukumba perlu memikirkan pengurangan sampah, pemilahan, pengumpulan, daur ulang, dan partisipasi masyarakat.

Isu kedua adalah sumber daya air. Air merupakan kebutuhan mendasar bagi rumah tangga, pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, dan industri. Masa depan pembangunan ekonomi akan sangat bergantung pada seberapa baik sumber daya air dilindungi dan dikelola.
Isu ketiga mungkin tampak sederhana, tetapi sebenarnya sangat mendasar bagi sebuah daerah yang sedang berkembang, yaitu keramahtamahan atau hospitality. Jika Bulukumba ingin menjadi pusat regional, orang-orang dari luar akan datang.
Mahasiswa akan datang, peneliti akan datang. Investor akan datang, wisatawan akan terus datang. Pejabat pemerintah dan pelaku bisnis juga akan datang. Bulukumba harus siap menyambut mereka, bukan hanya dengan infrastruktur, tetapi juga dengan budaya keterbukaan, pelayanan, dan keramahtamahan.
Sebuah kota yang indah tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang menarik. Kota yang benar-benar menarik adalah kota di mana para pengunjung merasa diterima dan warganya merasa bangga.
Bulukumba yang berbeda
Para pembaca yang saya hormati, hubungan pribadi saya dengan Bulukumba selalu terkait dengan perjalanan.
Saya melintasinya ketika menjadi mahasiswa, melintasinya ketika bekerja di Selayar, melintasinya ketika melakukan perjalanan menuju Taka Bonerate. Saya melintasinya pada masa-masa keterlibatan dalam program dukungan WWF dan COREMAP di Selayar.
Saya kembali melihat Bulukumba yang tidak lagi sama. Jalannya telah berubah, kotanya telah berubah, ekonominya telah berubah, dan infrastrukturnya juga telah berubah. Namun, mungkin perubahan terpenting adalah semakin besarnya kemungkinan tentang apa yang dapat dicapai Bulukumba di masa depan.
Berdasarkan pengamatan pribadi dan pengalaman saya melakukan perjalanan ke banyak kabupaten selama bertahun-tahun, saya melihat kemajuan yang signifikan di Bulukumba hari ini. Membandingkan Bulukumba dengan masa lalu adalah salah satu cara untuk menghargai transformasinya.
Perjalanan dari tahun 1996 hingga 2003 tetap tertanam kuat dalam ingatan saya. Tahun-tahun itu dipenuhi dengan perjalanan menggunakan bus, jalan-jalan panjang, kerja lapangan, kegiatan menyelam, pulau-pulau, dan konservasi laut.
Kini, pada tahun 2026, Bulukumba memberikan saya kenangan yang baru. Kenangan tentang sebuah kabupaten yang telah bergerak maju. Bulukumba telah bergerak maju secara signifikan dan memiliki potensi besar untuk masa depan.
___
Tamarunang, 4 September 2026
Kamaruddin Azis
Founder Pelakita.ID dan MaritimePosts.com









