PELAKITA.ID – MAKASSAR – Peneliti asal JASUDA atau PT Jaringan Sumber Daya (Jasuda), Zulung, mendorong pengembangan rumput laut hijau jenis Ulva sebagai sumber pangan lokal bernilai tinggi. Selama ini, Ulva yang banyak ditemukan di sejumlah kawasan pesisir justru masih dianggap gulma dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Zulung dalam sesi presentasi hasil penelitian pada PAIR Annual Meeting 2026 yang berlangsung di Hotel Unhas and Convention, Makassar, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa Ulva memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan maupun kemasan ramah lingkungan.
Salah satu inovasi yang tengah dikaji adalah pemanfaatan Ulva sebagai bahan pembungkus atau lapisan pelindung makanan yang dapat membantu menjaga kesegaran buah dan produk pangan lainnya.
“Salah satu luaran penelitian yang menurut saya sangat menjanjikan adalah pemanfaatan Ulva sebagai lapisan pembungkus makanan sehingga dapat membantu mempertahankan kualitas produk,” ujarnya.
Selain memiliki potensi sebagai material kemasan berbasis hayati, Zulung menilai pemerintah perlu memberi perhatian lebih terhadap pengembangan Ulva sebagai komoditas pangan masa depan.
Ia mengutip laporan Bank Dunia yang menunjukkan bahwa Ulva memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Di antara berbagai jenis rumput laut, kandungan proteinnya hanya berada di bawah Porphyra, bahan baku utama produk nori yang telah lama menjadi bagian penting industri pangan dunia.
“Kandungan protein Ulva sangat tinggi. Potensinya sangat besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan lokal, terutama di tengah meningkatnya permintaan terhadap protein nabati,” jelasnya.
Menurut Zulung, tren konsumsi global saat ini semakin mengarah pada pangan berbasis tumbuhan (plant-based food) yang diproduksi secara berkelanjutan. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan Ulva sebagai komoditas bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar internasional.
Ironisnya, Ulva yang tumbuh melimpah di sejumlah desa lokasi penelitian masih belum dimanfaatkan oleh masyarakat.
Bahkan pada musim-musim tertentu, keberadaan rumput laut hijau tersebut justru dianggap mengganggu aktivitas masyarakat pesisir karena pertumbuhannya yang sangat cepat.
“Padahal yang ditemukan di lokasi penelitian adalah Ulva yang selama ini dianggap gulma dan sama sekali belum dimanfaatkan. Ini justru menjadi peluang besar apabila dapat diolah menjadi produk pangan maupun produk bernilai ekonomi lainnya,” katanya.
Ia menilai pengembangan Ulva tidak hanya berpotensi meningkatkan diversifikasi pangan nasional, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir melalui pengembangan produk olahan berbasis sumber daya lokal.
Melalui dukungan riset, inovasi teknologi, dan kebijakan yang tepat, Zulung berharap Ulva dapat bertransformasi dari komoditas yang selama ini kurang diperhatikan menjadi salah satu bahan baku penting bagi industri pangan berkelanjutan di Indonesia sekaligus memperkuat daya saing produk rumput laut nasional di pasar global.










