“Research should never stop at publication. The true value of research lies in its ability to influence public policy, generate innovation, support industry and improve people’s lives,” tegas Brian di hadapan peserta pertemuan.
PELAKITA.ID – MAKASSAR – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa riset harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menambah jumlah publikasi ilmiah.
Menurutnya, nilai sejati sebuah penelitian terletak pada kemampuannya memengaruhi kebijakan publik, melahirkan inovasi, memperkuat daya saing industri, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka PAIR Annual Meeting 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa. 21 Juli 2026, yang mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, mitra industri, serta lembaga pendanaan dari Indonesia dan Australia. Forum tahunan ini menjadi wadah memperkuat kolaborasi riset internasional, khususnya untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di kawasan Indonesia Timur.
“Research should never stop at publication. The true value of research lies in its ability to influence public policy, generate innovation, support industry and improve people’s lives,” tegas Brian di hadapan peserta pertemuan.
Pernyataan tersebut menjadi benang merah pidatonya yang menekankan perlunya membangun ekosistem riset yang utuh, mulai dari penemuan ilmiah hingga implementasi kebijakan.
Baginya, penelitian baru mencapai makna ketika temuan ilmiah diterjemahkan menjadi keputusan publik yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Menteri Brian menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, transisi energi, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat bukan lagi persoalan yang berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan membutuhkan pendekatan lintas disiplin ilmu serta kolaborasi antarnegara.
“Tidak ada satu institusi ataupun satu negara yang mampu menyelesaikan tantangan tersebut sendirian,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai kemitraan seperti PAIR (Partnership for Australia-Indonesia Research) memiliki posisi strategis. Menurutnya, hubungan Indonesia dan Australia dalam program tersebut dibangun di atas prinsip kesetaraan, di mana kedua negara bersama-sama menentukan prioritas penelitian, berbagi pengetahuan, serta menghasilkan solusi yang memberi manfaat bagi kedua bangsa.
“Ini bukan sekadar kolaborasi antaruniversitas, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kepercayaan, keunggulan ilmiah, dan kemakmuran bersama,” katanya.
Dalam pidatonya, Brian memperkenalkan sebuah alur yang disebutnya harus menjadi fondasi pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, yakni Science – Policy – Action.
Menurutnya, sains menyediakan bukti, kebijakan menerjemahkan bukti menjadi keputusan, sedangkan aksi kolektif mengubah keputusan tersebut menjadi dampak yang dirasakan masyarakat.
Konsep tersebut dinilai sangat relevan dengan tema PAIR Annual Meeting tahun ini, “Coastal Communities in Sulawesi: Science, Policy and Action”, yang berupaya memperkuat keterhubungan antara penelitian, penyusunan kebijakan, dan implementasi di lapangan.
Ia menilai Sulawesi memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan nasional.
Pulau ini menyimpan kekayaan biodiversitas, sumber daya pesisir yang melimpah, serta peluang besar dalam pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan. Namun di sisi lain, masyarakat pesisir juga menjadi kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketidakpastian ekonomi.
Karena itu, solusi yang dikembangkan harus berakar pada kebutuhan lokal, didukung bukti ilmiah yang kuat, dan dibangun melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, sektor industri, serta masyarakat.
Menteri Brian juga mengapresiasi tiga fokus utama PAIR yang dinilai selaras dengan agenda pembangunan nasional maupun Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni pengembangan industri rumput laut berkelanjutan melalui pendekatan ekonomi sirkular, percepatan transisi energi bersih, serta penguatan ketahanan iklim dan kesehatan masyarakat.
Selain menghasilkan penelitian berkualitas, ia menekankan pentingnya membangun kapasitas sumber daya manusia. Keberhasilan sebuah program kolaborasi internasional, menurutnya, tidak hanya diukur dari jumlah publikasi atau luaran penelitian, tetapi juga dari banyaknya peneliti muda yang lahir, semakin kuatnya perguruan tinggi di daerah, serta terbukanya peluang mobilitas akademik lintas negara.
“Institusi yang kuat dibangun oleh orang-orang yang kuat. Dengan mendukung peneliti muda hari ini, kita sedang berinvestasi pada kepemimpinan ilmiah Indonesia dan Australia untuk puluhan tahun ke depan,” ujarnya.
Pada bagian akhir sambutannya, Brian menegaskan komitmen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk membangun perguruan tinggi yang tidak hanya terkoneksi secara global, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nasional dan lokal.
Perguruan tinggi, menurutnya, harus menjadi pusat lahirnya inovasi, penghasil pengetahuan baru, sekaligus mitra strategis bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Ia berharap kemitraan Indonesia-Australia yang telah dibangun melalui PAIR terus berkembang sehingga penelitian mampu menghasilkan solusi, inovasi membuka peluang baru, dan kolaborasi memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir serta generasi mendatang.
Di tengah meningkatnya tuntutan agar hasil riset memberikan dampak nyata, pesan Menteri Brian menjadi penegasan bahwa ukuran keberhasilan ilmu pengetahuan tidak lagi berhenti pada jumlah artikel yang terbit di jurnal internasional.
Keberhasilan riset pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana pengetahuan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih baik, teknologi yang lebih bermanfaat, dan perubahan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.















