Dr Agus Bintara, dari Ilmu Kelautan Menjelajah Kesehatan Lingkungan

  • Whatsapp
Alumni Ilmu Kelautan Unhas, angkatan 2000, Dr Agus Bintara (kiri)

PELAKITA.ID — Ada perjumpaan yang direncanakan, ada pula yang terjadi begitu saja dalam perjalanan. Pertemuan saya dengan Dr. Agus Bintara, S.Kel., M.Kes., dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, termasuk yang kedua.

“Saya Agus kak, alumni Kelautan Unhas 2000,” dia membuka perbincangan.

Ia menyapa saya di atas bus LPPM Unhas dalam perjalanan pulang dari Selayar menuju Makassar.

Sapaan sederhana itu kemudian membuka percakapan panjang tentang kampus, ilmu, keluarga, pesisir, laut, hingga kemungkinan kolaborasi. Penulis adalah alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan angkatan 1989, berbeda jauh tapi saya familiar dengan banyak teman angkatannya seperti bro Ondo.

Saya cukup kagum mendengar pengembaraan ilmunya. Berangkat dari Ilmu Kelautan, ia kemudian berkembang menjadi akademisi di Fakultas Kesehatan Masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan lingkungan.

Ia juga memiliki keahlian dalam AMDAL serta isu lingkungan pesisir dan laut. Doktornya diraih di Unhas. Dia lahir dan besar di Sulawesi Tenggara. “Ibu saya Tolaki, ayah polisi asal Jawa Barat,” ungkapnya.

Pembaca sekalian, perjalanan akademik Agus bagi saya menunjukkan satu hal penting: alumni Ilmu Kelautan Unhas dapat bekerja dan berkembang di mana saja.

Pendidikan kelautan tidak harus membawa seseorang hanya ke lembaga kelautan, kapal penelitian, pesisir, atau laut. Ilmu tersebut dapat menjadi fondasi untuk memasuki berbagai bidang, termasuk kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan.

Perubahan arah keilmuan itu justru memperlihatkan kekuatan pendidikan kelautan. Laut tidak pernah berdiri sendiri. Kualitas ekosistem pesisir berkaitan erat dengan kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, ekonomi, sanitasi, pangan, keselamatan, hingga keberlanjutan mata pencaharian.

Karena itu, pertemuan antara ilmu kelautan dan kesehatan lingkungan sesungguhnya memiliki ruang kolaborasi yang sangat luas. Agus beberapa kali terlibat dalam penelitian kualitas perairan, pencemaran laut, hingga penyusunan dokumen Amdal. Dia punya setifikasi yang pas.

Percakapan kami kemudian berkembang menjadi cerita tentang diaspora alumni Kelautan Unhas. Kami berbagi pengalaman mengenai bagaimana para alumni tersebar ke berbagai daerah, lembaga, profesi, dan bidang pengabdian.

Sebagian tetap berada dalam dunia kelautan, sementara sebagian lainnya menemukan ruang baru untuk mengembangkan kompetensi.

Agus adalah salah satu contoh bahwa perjalanan alumni dapat bergerak jauh, tetapi tetap membawa fondasi keilmuan yang diperoleh dari kampus.

Cerita tentang latar belakang keluarga membuat percakapan kami semakin cair. Agus bercerita mengenai kelahiran dan asal-usul keluarganya, termasuk persinggungan identitas Tolaki dengan Sunda-Jawa Barat. Ia juga merupakan anak polisi.

Bagi saya, hal tersebut terasa akrab karena saya sendiri memiliki pengalaman panjang berinteraksi dengan keluarga dari profesi kepolisian. Percakapan tentang keluarga akhirnya menjadi bagian kecil yang membuat perkenalan kami terasa lebih dekat dan manusiawi.

Hal lain yang saya kagumi dari Agus adalah kerendahan hatinya. Ia tidak membawa kesan sebagai seorang akademisi yang merasa telah selesai dengan perjalanan ilmunya.

Sebaliknya, ia membuka ruang percakapan, bertukar pengalaman, dan menawarkan kemungkinan untuk belajar bersama.

Sikap seperti ini penting dalam dunia akademik karena ilmu berkembang bukan melalui sekat, melainkan melalui pertemuan dan kolaborasi.

Dalam perjalanan itu pula Agus mengajak membuka kemungkinan kerja sama dalam riset lingkungan, penulisan ilmiah, serta pengembangan jejaring pengetahuan kesehatan maritim.

Tawaran tersebut menarik karena mempertemukan beberapa bidang yang selama ini memang semakin penting: lingkungan, pesisir, kesehatan masyarakat, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.

Kesehatan maritim merupakan ruang yang sangat luas untuk dikembangkan. Nelayan, pekerja kapal, penyelam, pembudidaya, masyarakat pulau-pulau kecil, pekerja pelabuhan, hingga masyarakat pesisir menghadapi lingkungan dan risiko kesehatan yang berbeda.

Persoalan kualitas air, sanitasi, pencemaran, keselamatan kerja, perubahan iklim, hingga akses pelayanan kesehatan membutuhkan pendekatan yang mampu menghubungkan perspektif lingkungan dengan kesehatan manusia.

Saya melihat kemungkinan kolaborasi dengan Agus dapat berkembang dari ruang tersebut. Ilmu kelautan memberikan pemahaman mengenai ekosistem dan dinamika pesisir, sementara kesehatan lingkungan membantu membaca dampaknya terhadap manusia.

Pertemuan dua perspektif ini dapat menghasilkan riset yang lebih utuh sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat pesisir dan maritim.

Pertemuan di atas bus LPPM Unhas itu akhirnya menjadi sebuah koinsidensi yang menarik. Tidak ada agenda khusus untuk bertemu. Tidak ada janji sebelumnya.

Sebuah sapaan sederhana justru membuka kembali cerita tentang kampus, perjalanan ilmu, diaspora alumni, keluarga, hingga peluang kerja sama di masa depan. Saya pulang dari Selayar dengan satu kesan kuat tentang Agus: ilmu memang membawa seseorang berkelana, tetapi perjalanan itu tidak pernah benar-benar meninggalkan titik awalnya.

Agus berangkat dari Ilmu Kelautan Unhas, kemudian menemukan ruang pengabdian di kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan, sambil tetap membawa perhatian pada pesisir dan laut.

Mereka dapat hadir di berbagai bidang, membawa perspektif kelautan ke dalam persoalan baru, lalu suatu ketika kembali bertemu untuk membangun pengetahuan dan kerja sama.

Perjalanan pulang dari Selayar itu akhirnya bukan sekadar perjalanan menuju Makassar. Ia menjadi perjumpaan dengan seorang adik kelas yang mengingatkan saya bahwa ilmu pengetahuan memang seharusnya tidak memiliki batas yang terlalu sempit.

___
Tamarunang, 4 September 2026