Buku karya Melinda Aksa perlu dihidupkan dari gagasan menjadi tindakan, dari teks menjadi aksi yang kontekstual, dan berdampak. Melalui field trip atau outing class, anak-anak bisa di ajak ke Pantai Losari untuk mengenal Makassar sebagai Water Front City yang terhubung dengan sejarah maritim dan jalur rempah.
Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Pegiat Sekolah Ramah Anak, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan)
PELAKITA.ID – Setelah pertemuan dengan Bunda Pustaka SD Negeri Borong, saya diberi tahu bahwa ada buku koleksi terbaru Perpustakaan Gerbang Ilmu SD Negeri Borong. Buku itu berjudul “Jelajah Hijau di Pantai Losari”, ditulis oleh Melinda Aksa, terbitan tahun 2026.
Dari tampilan sampul dan tipografi judulnya, langsung mengesankan bahwa buku teranyar itu bertema lingkungan, yang relevan dengan program Sekolah Adiwiyata, dan dapat diintegrasikan dengan Kurikulum Hijau (Greening the Curriculum).
Lebih jauh, buku ini saya maknai sebagai ikhtiar Melinda Aksa, selaku Bunda Paud dan Bunda Literasi Kota Makassar, menghadirkan bahan bacaan edukatif guna penguatan pendidikan karakter anak-anak sejak dini.
Dengan begitu, dalam jangka panjang, akan membentuk anak-anak dengan perilaku ramah dan berbudaya lingkungan hidup, yang akan berdampak pada pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Kebutuhan Bacaan Anak Urban
Buku “Jelajah Hijau di Pantai Losari”, boleh dikata, hadir bagai oase di tengah minimnya buku-buku anak bertema lokal dan urban, khususnya Makassar.
Tema lokal, perkotaan, dan aktual menjadi penting karena dari segi strategi edukasi dan literasi, anak-anak di Kota Makassar, akan lebih mudah menemu-kenali apa yang dimaksud dalam buku yang ditulis oleh istri Munafri Arifuddin, Walikota Makassar, periode 2025-2030 tersebut.
Pantai Losari, yang dimaksud dalam buku ini, tidak lain merupakan ikon Kota Makassar, yang punya panorama indah, menawarkan beragam kuliner, dan pengalaman budaya khas Sulawesi Selatan.
Ironisnya, di balik itu semua, ada persoalan yang sangat kasatmata, yang butuh kepedulian dan tanggung jawab bersama, termasuk anak-anak.
Kehadiran buku ini bisa menjadi bentuk intervensi dan dukungan terhadap sekolah-sekolah, yang mungkin saja masih kekurangan bahan bacaan anak-anak bermutu dan kontekstual. Harus diakui, secara kuantitatif masih terdapat kesenjangan jumlah, rasio, dan distribusi buku antar-sekolah, hampir pada semua jenjang dan tingkatan pendidikan. Jangankan bicara soal sekolah-sekolah di kawasan 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Di Makassar saja, masih ada sekolah-sekolah yang kondisi perpustakaannya memprihatinkan, belum lagi koleksi bukunya. Dari segi kualitatif, dituntut peningkatan kesesuaian konten multimodal berbasis tahapan perkembangan anak, sebagaimana dimaksud oleh Perpustakaan Ramah Anak.
Dalam konsepsi dan prinsip perlindungan anak, terdapat definisi yang menyebut “sesuai usia dan kematangan”, dan itupun terkait dengan bahan-bahan bacaan anak.
Sejauh ini, realisasi distribusi nasional telah menyalurkan sekira 5,54 juta eksemplar buku bacaan yang menyasar hingga 24.609 sekolah di 510 kabupaten/kota.
Melalui skema serupa, pemerintah juga telah menyalurkan sebanyak 15,3 juta eksemplar khusus untuk 6.000 satuan Paud dan 14.000 SD (www.antaranews.com).
Kalau dipersempit hanya untuk buku-buku anak bertema lokal Sulawesi Selatan, maka dapat ditelusuri pada proyek penerjemahan buku cerita anak dwibahasa dari Balai Bahasa Sulawesi Selatan, sebanyak 46 judul buku, mencakup empat rumpun bahasa dan kearifan lokal utama, yakni Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar.
Buku-buku yang ditujukan untuk mendukung literasi anak usia dini (Paud) dan SD itu, berfokus pada cerita rakyat, pendidikan karakter, dan pengenalan budaya lokal (balaibahasasulsel.kemendikdasmen.go.id).
Pesan Lingkungan Hingga Budaya
Sejatinya, kebutuhan buku bacaan anak Paud dan SD bukan sekadar teks bacaan, melainkan medium dengan bungkusan pesan yang komplit.
Pada buku anak Paud, misalnya, karakteristik fisiknya mesti menarik dan bisa memantik anak aktif bereksplorasi secara fisik, stimulasi kognitif, motorik, dan sosial-emosional. Format kontennya mesti memadukan kombinasi warna yang kontras, ilustrasi yang menonjol, dengan teks yang minim.
Bukunya mesti mampu menstimulai 6 aspek perkembangan anak, yakni nilai religius-moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Untuk anak-anak SD kelas 1 dan 2, juga 3, 4, 5 dan 6, tentu saja masing-masing punya kebutuhan bacaan berbeda, sesuai usia dan kematangannya.
Dalam konteks ini, buku “Jelajah Hijau di Pantai Losari” penting untuk diketengahkan.
Melinda Aksa, dalam prakata bukunya menyampaikan bahwa kehadiran bukunya merupakan upaya mengangkat keindahan warisan budaya serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di kawasan Pantai Losari. Lewat bukunya, Ketua TP PKK Kota Makassar dan Bunda Forum Anak Kota Makassar itu, mengajak anak-anak mengenal potensi alam, sekaligus memahami peran bersama dalam merawat lingkungan.
Literasi budaya dan kewargaan menghargai kemampuan setiap anak untuk memahami, menyikapi serta menjalankan hak dan kewajibannya secara bijaksana, yang sejalan dengan prinsip partisipasi anak.
Di buku Melinda Aksa, kita bisa melihat dan merasakan pengalaman dua sahabat, Indah dan Iwan, yang tengah berkunjung ke Pantai Losari Makassar.
Berdasarkan pengalaman dua sosok anak, laki-laki dan perempuan (aspek gender), itu anak-anak sebagai pembaca diperkenalkan pada perahu Pinisi (aspek budaya), yang telah diakui Unesco sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage of Humanity), pada tahun 2017. Buku ini juga menyebut pisang epe dan pisang ijo (aspek kuliner), yang juga banyak dijajakan di Pantai Losari.
Ada pula aspek pendidikan karakter, seperti menghabiskan makanan, merapikan meja, serta menumpuk mangkuk dan piring. Juga isu lingkungan berupa sampah plastik, bungkus makanan, dan popok bayi, yang menjadi tema dan pesan utama buku setebal 24 halaman tersebut.
Dalam buku digambarkan kepedulian Indah dan Iwan, dan semangat gotong-royong dari anak-anak lain yang tergerak bersama-sama ikut membersihkan Pantai Losari, sehingga pantai kembali bersih dan indah.
Terdapat halaman aktivitas anak hebat, berupa menebak gambar dan permainan asah otak teka-teki jalur memasuki labirin untuk membuang sampah pada tiga tempat sampah dengan warna berbeda: hijau (sampah sisa makanan dan sisa dapur), kuning (sampah botol, plastik, gelas, kaleng, dan sedotan), dan abu-abu (sampah lainnya dan residu). Sayangnya, ada diksi “residu” yang kurang bisa dipahami oleh anak-anak usia Paud dan SD kelas rendah.
Padahal, penulis bisa memberikan contoh konkret, seperti popok bayi, masker medis, dan bungkus jajanan plastik. Penulis juga masih menggunakan istilah “membuang sampah”, bukan memilah sampah yang lebih tergambarkan edukasinya.
Sampah, apalagi sampah plastik, merupakan problem yang mesti dapat diurai persoalannya di Kota Makassar. Sebab, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mencatat, volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Antang, mencapai 750-900 ton/hari, di mana sekira 12 persen di antaranya merupakan sampah plastik.
Bagaimana tidak, setiap orang di Makassar rata-rata menghasilkan sampah 0,6 kg/hari (bollo.id). Di sinilah kesadaran kritis anak-anak bisa digugah lewat buku “Jelajah Hijau di Pantai Losari”, agar mereka bisa mengambil peran, memutus mata rantai, dan menjadi bagian dari solusi.
Dengan catatan, perlu bimbingan orangtua atau guru di sekolah untuk membantu memahamkan buku tersebut, melalui obrolan atau diskusi sederhana.
Aksi dan Rekreatif
Buku karya Melinda Aksa perlu dihidupkan dari gagasan menjadi tindakan, dari teks menjadi aksi yang kontekstual, dan berdampak.
Melalui field trip atau outing class, anak-anak bisa di ajak ke Pantai Losari untuk mengenal Makassar sebagai Water Front City yang terhubung dengan sejarah maritim dan jalur rempah.
Dalam suasana rekreatif, anak-anak bisa diajak melakukan aksi bersih-bersih pantai serentak, dengan satu tagline dan tagar sebagai kampanye bersama.
Anak-anak perlu merasakan berada di atas kapal Pinisi, bukan hanya mendengar cerita orang atau melihatnya di layar gawai.
Anak-anak perlu melihat secara langsung bahwa menjaga kebersihan Pantai Losari bukan saja di sepanjang jalan raya dan anjungannya yang berada di daratan, melainkan juga keseluruhan kawasan pantai dan laut di depannya.
Bagaimanapun, sampah yang jatuh—dan dibuang ke laut—akan terbawa arus dan sangat berpotensi memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan ekosistem laut. Juga punya risiko dan ekses terhadap kesehatan, serta kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk bagi Kota Makassar yang kita cintai. (*)









